Diskusi rupanya berlanjut, namun pembahasan kritis mengenai fenomena kebahasaan di tengah masyarakat Indonesia baru saja berakhir.  Diskusi yang ada hanya sebatas wacana semata tanpa pernah membahas akar persoalan yang mungkin muncul. Di sini, atmosfer yang tercipta hanyalah suasana kerukunan yang penuh dengan etiket, sedang wacana kritik sengaja di bungkam atau setidaknya berakhir tanpa respon yang dalam.

helmi hidayat wrote:

Saran yang sangat bagus. Bukan cuma itu, dalam banyak khutbah Jumat saya, saya selalu berusaha menerjemahkan ke dalam bahasa Indonesia kalimat paling akhir khutbah kedua, mulai dari innallaha ya’muru bil adli wal ihsan dst .. dst … sampai selesai. Paling tidak saat menyebut kalimat paling akhir, aqiimush-shalah, dengan tegas saya perintahkan para jamaah (karena ini memang tugas seorang khatib) dengan kata-kata: DIRIKAN SHALAT!!!

Salam,

Helmi Hidayat (alumnus 83)

**

Yang benar mana? /Aqiimu al-shalah/ atau /aqimi al-shalah/?
Karena sepengetahuan saya, itu adalah perintah langsung kepada muazin untuk ber/iqamah/.
Dan kalimat perintah tidak langsung kepada jamaah.

**

Akhi almuhtarom,

Jauh sebelum ini, saya pernah membaca buku berisi khutbah-khutbah Jumat pilihan, dan di sana tertulis //aqiimu al-shalah//. Saya lupa judul buku dan penerbitnya. Bahkan entah di mana buku itu.

Kendati demikian, sebelum menjawab email antum, saya menyempatkan diri menelepon Dr. Lutfi Fathullah (0818185025), doktor ulumul-hadits dari Malaysia, untuk menambah referensi  jawabannya saya. Dia menjawab yang betul adalah //aqimuu al-shalah// dalam konteks seorang khatib memerintahkan para jamaah Jumah untuk shalat berjamaah. Ini penting karena shalat Jumat adalah pengganti shalat zuhur. Namun, karena shalat zuhur empat rakaat, sementara shalat Jumat hanya dua rakaat, maka khutbah itu menjadi sah menggantikan dua rakaat yang ”hilang” kalau saja para jamaahnya melengkapi khutbah itu dengan shalat dua rakaat. Dalam konteks inilah seorang khatib memerintahkan para jamaahnya mendirikan salat.

Dr. Luffi juga mengatakan tidak ada hadits yang pasti soal ini. Hanya saja, dia memberi ilustrasi bahwa bahkan kalimat ”ibaadallah, innallaha ya’murukan bil adli wal ihsan ….. dst … dst ….”  yang kerap dibaca khatib usai berdoa di khutbah kedua juga tidak ada di zaman Rasulullah SAW dan bahkan di era empat khulafa’ al-rasyidin. Kalimat tambahan ini dimulai di era Umar bin Abdul Aziz karena saat itu ada satu kelompok Muslim mencerca kelompok Muslim lainnya karena persoalan politik tertentu. Demi mendamaikan kedua kelompok ini, maka sang khalifah perlu menambahkan kalimat tadi di akhir khutbah keduanya, dan ini kemudian berlanjut sampai era kita sekarang.

Salam,

Helmi Hidayat

**

Dear Helmi Hidayat,

Thank you very much. I was astonished by your big effort on my humble question. I think, Dr. Luthfi Fathullah’s opinion was authoritatively significant and your details will enriched my little bit knowledge of history on Islamic law.

Best regard

Himawan Pridityo

P.S.
Please don’t call me antum since I am singular not plural, besides it was grammatically absurd and invalid. ūüėõ

**

Dear Mr Pridityo,

You’re most welcome. Its nice to read from you. I think it is our duty — since it has been sponsored by Rasulullah’s hadits — to take bigger efforts to enlighten our horizons, especially in Islamic discourses, more specifically in Islamic law, then distribute and share it with others.

Let me appreciate you as you replied me in English. I positively think that you did it in response to my previous email in this group that it would be better if all of us the members of this group — if possible — write our email in English. I don’t know weather this will commonly be accepted by all or not. This is only a hope — a priceless thing we can do.

BTW, you’re absolutely true that the word ”antum” grammatically means plural; but in Arab’s tradition, this means to honor someone when you call him by the word. You know what? You respect him by regard him oneself as many people. For more explanation, please ask Mr. Saefullah Kamalie, the most outspoken Arabic language in this group.

Warm regards,

Helmi Hidayat

**

Dear All,

Using Arabic masculine-plural-pronoun “ANTUM” for single person, as Brother Helmi Hidayat said, is in order to respect the second person. It is pragmatically acceptable as the most of the members of this forum are Gontor graduates who have studied Arabic.

That’s all.

Dalam tulisan terdahulu saya pernah menyinggung masalah “Memahami Budaya Orang Lain” yang penekanannya pada kesantunan. Setiap bangsa dan suku memiliki sistem tersendiri dalam masalah kesantunan. Waktu itu saya mengajak rekan-rekan untuk memahami budaya orang lain karena apa yang dirasa santun oleh dirinya belum tentu santun bagi orang lain.

Dalam sosiolinguistik — ilmu yang menggabungkan antara unsur sosiologi dan linguistik ada yang dikenal dengan istilah “T-V Distinction” yang berkenaan dengan penggunaan pronomina. Dalam bahasa Indonesia, pronomina untuk persona kedua “kamu” tidak selamanya akan diterima dengan perasaan nyaman oleh orang yang kita ajak bicara. Orang asing yang telah belajar bahasa Indonesia dengan baik — seperti para mahasiswa Jepang di UI Depok — selalu menyapa saya dengan “Bapak”. Kita tahu bahwa kata “bapak” bukanlah pronomina, tetapi dapat digunakan untuk merujuk kepada persona kedua. Demikian pula kata “Anda” yang berasal dari nama seorang penyanyi asal Bengkulu itu. Kata “Anda” digunakan untuk merujuk persona kedua yang dianggap netral dan lebih halus daripada pronomina “kamu”.

Pemilihan pronomina yang dalam sosiolinguistik dikenal dengan “T-V Distinction” ini tidak hanya dikenal dalam budaya kita. Sebagaimana tampak dalam tabel di bawah, banyak bahasa yang menerapkan sistem ini. Intinya, manusia — apa pun bangsa dan sukunya — mengenal tata krama dan sopan santun.

Bagi rekan-rekan yang ingin mengetahui lebih lanjut tentang “T-V Distinction”, berikut saya sajikan artikel lengkap yang diambil dari : http://www.knowledgerush.com/kr/encyclopedia/T-V_distinction/

A T-V distinction, in sociolinguistics, is used to describe the situation wherein a language has pronouns that demonstrate varying levels of respect, distance, courtesy, familiarity, or insult. The name “T-V distinction” derives from the common initial letters of several of these terms in Romance languages.

Some languages have even more gradations. For example, Vietnamese has different pronouns for ‘sir’, ‘ma’am’, ‘older brother’, ‘younger brother’, ‘older sister’, ‘younger sister’, ‘uncle’, ‘aunt’, and on and on, although these do not affect verb morphology, as Vietnamese does not practice conjugation at all.

The pronouns in the table above come complete with differing verb morphology; in French, the respectful vous takes plural verbs (but not adjectives), and in Spanish and Italian, but not German, the respectful form causes verbs to be conjugated in the third person. In the case of Spanish, this is because the form usted evolved from the title vuestra merced (your grace) which naturally took the third person.

Catalan v√≥s follows the same concordance rules as the French vous (verbs in 2nd person plural, adjectives in singular), and vost√® follows the same concordance rules as the Spanish “usted” (verbs in 3rd person). Vost√® originated from vostra merc√® as a calque from Spanish, and replaced the original Catalan form vos. Now “v√≥s” is used as a respect form for elder people and friend respectuos people, and “vost√©” for foreign people and people that is not very known. “Vost√©” is more distant than “v√≥s”. Sometimes the people justify the use of “vost√©” saying “I only speak of ‘tu’ with my friends”.

It can often be quite confusing for an English speaker learning a language with a T-V distinction to correctly assimilate the rules surrounding when to call someone with the formal or the informal pronoun. Close friends, of course, are tu and venerable old ladies are vous, but there is a wide grey area in the middle. Even that is not universally true: in some parts of Latin America (for example, in Colombia), tu is almost never used, not even with close friends or relatives, which are usted. Students are often advised to err on the side of caution, i.e. the formal; however, in the wrong situation this risks sounding snobby or at least riotously funny. English speakers may be helped by reminding themselves that the difference is comparable to using first name or last name when speaking to someone; however the boundaries between formal and informal language differ from language to language, and most languages use formal speech more frequently, and/or in different circumstances, than English. And in some circumstances it is not unusual to call other people by first name and the respectful form or the reverse, e.g. German shop employees often use these constructs if a customer is present.

In Greek, ŌÉŌÖ was originally the singular, and ŌÖőľőĶőĻŌā the plural, with no distinction for honorific or familiar. Paul addressed King Agrippa II as ŌÉŌÖ (Acts 26:2). Later, ŌÖőľőĶőĻŌā and ő∑őľőĶőĻŌā (“we”) became too close in pronunciation, and a new plural őĶŌÉőĶőĻŌā was invented. The őĶ of őĶŌÉŌÖ is a euphonic prefix.

English formerly had a distinction between thou (informal) and you or ye (formal). Some groups such as the Quakers that advocate “plain speech” used the “thou” form with everybody, a custom some carry on to this day, although “thou”‘s passing out of most dialects of English, including the standard, has made it more symbolic than anything.

Even within languages they differ between groups (older people and people of higher status tending to both use and expect more formal language) and between various aspects of one language. For example, in Dutch, U is slowly coming into disuse in plural, and thus one could sometimes address a group as jullie when one would address each member individually as U. In Latin American Spanish, the opposite change has occurred – having lost vosotros, Latin Americans address all groups as ustedes, even if the group is composed of friends whom they would call t√ļ.

French has verbs – tutoyer and vouvoyer – meaning to call someone tu or vous. (Spanish has the verb tutear, Catalan has the analogous verb tutejar). In German there are the verbs duzen and siezen.

In Germany, an old but by no means extinct custom involves two male friends formally splitting a bottle of wine to celebrate their deciding-always at the suggestion of the elder of the two-to call one another “du” rather than “Sie.”

In Denmark, the use of the formal forms of address has diminished significantly over the last twenty years. Although the “De” form is still used in certain contexts, it is much more common now for people to address virtually all people with the familiar “du”.

In Swedish there has been a marked difference between usage in Finland-Swedish compared to in Sweden. While the form “Ni” (noted as formal above) has remained the common respectful address in Finland-Swedish, it was until the 1960s considered somewhat careless, bullying or rude in Sweden, where addressing in 3rd person with repetition of name and title was considered proper and respectful. After that the usage swiftly changed in Sweden, and the 2nd person “du” (noted as informal above) came to dominate totally (although the King still used to be addressed in 3rd person), until recently when in the late 1990s a usage resembling that in German, Finnish or Finland-Swedish has become popular among the youngest adults.

In Ubykh, the T-V distinction is most notable between a man and his mother-in-law, where the plural form syæghwa supplants the singular wæghwa very frequently, possibly under the influence of Turkish. The distinction is upheld less frequently in other relationships, but does still occur.

A distinction quite similar to the T-V distinction appears in Japanese in the use of the “plain” and “polite” conjugations of verbs and adjectives. In general, the plain form is used when speaking to family, close friends, and social inferiors, and the polite form otherwise.

**

Apa demikian ya, kalau orang pinter-pinter dalam masa senggangnya mengerjakan yang iseng-iseng misalnya (maaf) ngedus-endus kekuranagn saudaranya termasuk yang sesungguhnya “tengu”?

Ronald Reagan dalam waktu senggangnya, terutama bila order main film lowong nyambi jadi presiden, lho? Ada yang bisa tiru?

Lalu Tuhan, menurut Holy Bibel, mencukur rambut!. (Termasuk bulu-bulu.) Hal seperti ini hanya bisa dikerjakan bila Tuhan sedang senggang. namun manfaat.meskipun dengan fasilitas pinjaman.

Wassalam,

Avert04

**

Dear Helmi Hidayat,

Saya sependapat dengan anda bahwa term “antum” secara pragmatis dapat
diterima, dan kita juga sama-sama mafhum bahwa istilah ini telah
digunakan secara luas, bukan saja di kalangan alumni Gontor semata,
bahkan oleh mereka yang bergabung dengan gerakan-gerakan Islam di
Indonesia macam LDK, PKS dan Hizbu al-Tahrir. Dari pengamatan saya,
kata tersebut seringkali digunakan untuk menghormati seseorang, dari
segi umur, kedudukan, pengetahuan, dan lain sebagainya dengan harapan
agar orang yang kita maksud tadi merasa dihargai dan dihormati. Saya
sendiri sangat setuju dengan ide tersebut, karena dalam banyak hal,
mampu mengekspresikan ketaatan etis dalam kehidupan sehari-hari.

Sebelumnya saya sangat berterimakasih kepada saudara Saifullah Kamalie
yang bersedia menyumbangkan pengetahuan kebahasaannya di forum ini.
Terus terang, saya baru saja mengerti bahwa fenomena “antum” adalah
bagian dari ekspresi T-V distinction. Dari yang saya pahami di situs
Wikipedia, ekspresi ini awalnya berasal dari masa Romawi kuno sekitar
abad keempat masehi. Pada waktu itu bertahta dua orang kaisar, yang
masing-masing memiliki kekuatan yang sama. Karena merasa bingung
dengan dualitas ini, dan tak ingin melebihkan satu dengan yang lain,
maka dibuatlah panggilan yang lebih adil dengan memanggil kedua kaisar
dengan kata ganti orang kedua plural, semacam antum. Tujuan utamanya
tak lain adalah kesantunan sosial. Hal yang sama juga terjadi pada
lembaga kepausan yang memegang kekuasaan agama.

Tentu saja, akan mudah sekali mengartikan fenomena T-V distinction ini
sebagai sebuah budaya sopan santun umat manusia sedunia, kalau saja
sejarah terbentuknya term tadi tidak diketahui sama sekali. Saya
sendiri pada awalnya, sering terkecoh dengan pengertian sopan santun,
baca: etiket, dengan etika. Etika, sebagaimana yang kita kenal
sekarang adalah kumpulan prinsip-prinsip moral, sebuah pengetahuan
mengenai baik dan buruk. Adapun etiket, berasal dari bahasa Prancis,
étiquette, yang memiliki akar kata tiket. Pass masuk, ataupun izin.
Kedua kata ini jelas merupakan dua prinsip yang berbeda. Etika lebih
berhubungan dengan prinsip-prinsip kebenaran, sedangkan etiket lebih
berhubungan dengan cara kita bersosialisasi. Bila kita lawankan kedua
model ini, akan kita dapati bahwa kebenaran pada akhirnya selalu
terkurung oleh realitas-realitas semu yang kita adakan.

Tidak bisa tidak, fenomena T-V distinction akan selalu muncul pada
masyarakat yang memiliki struktur sosial yang rumit. Pengandaian ‘kamu
plural’ pada sebuah subjek singular, menisbahkan sebuah ruang sosial
yang lebih tinggi, seperti panggilan serang babu kepada majikan.
Sebuah hirarki. Tatkala sang penutur mengucapkan kata antum, maka
sebenarnya ia tengah mengandaikan sebuah perbedaan antara dia dengan
lawan bicaranya. ‘Saya’ bukan ‘dia’, dan ‘dia’ bukan ‘saya’. Bisa juga
terdapat perbedaan jalan di sana, disparitas antara prinsip ‘aku’ dan
‘dia’, semacam kesepakatan bahwa kita hidup di dunia dengan
hukum-hukum yang saling terpisah. Hirarki, pangkat dan jabatan.

Barangkali, kita dapat melihat fenomena t-v distinction dengan jelas
dalam bahasa Jawa. Dalam bahasa ini, hirarki tergambar secara tegas,
dari cara-cara penggunaan bahasa halus dengan bahasa kasar. Hukum
kebahasaan yang saling berkaitan, semuanya selalu memberikan ruang
penggunaan bahasa kasar hanya pada dua individu yang sederajat atau
memiliki hubungan kebawah dengan yang lain. Sedangkan bahasa halus
digunakan dalam konteks hubungan keatas dan acara-acara resmi. Dengan
kata lain, fenomena t-v distinction berasosiasi secara linear dengan
jenis hubungan yang tersubordinat dan penuh dengan kekakuan etiket,
lawan dari jenis hubungan yang penuh keakraban dan bergerak langsung
kepada ide utama. Dalam t-v, kebenaran terkurung oleh realitas
struktur dan hirarki.

Sebenarnya, dua macam paradigma ini bersifat amoral, tidak ada
indikasi baik dan buruk. Tapi, sebagaimana karakter khas dari
kekuasaan yang cenderung korup, maka penggunaan t-v seringkali
dijadikan sebuah perpanjangan tangan dari kekuasaan itu sendiri, yang
tentunya memiliki dua sisi. Bisa sebagai penegasan kekuasaan orang
yang disebut dengan antum, macam panggilan kepada seorang ustdz, bisa
juga sebagai trik, atau pengalihan fokus, dengan memberikan kepuasan
psikologis kepada yang bersangkutan. Kedua hal tadi bukan hal yang
mutlak, tapi yang patut dicatat adalah, fenomena t-v jelas merupakan
sebuah fenomena kebudayaan feodal.

Sebenarnya, ada jenis kebudayaan yang tidak mengenal fenomena t-v. Ini
adalah kebudayaan manusia yang paling awal, kebudayaan egaliter. Dalam
kebudayaan ini, seluruh manusia dipandang sebagai entitas yang sama
dan sederajat. Dalam bahasa, kita mengenal istilah ‘bung’ yang
dipromosikan oleh Soekarno. Dalam pemahaman yang lebih luas,
kebudayaan egaliter termasuk kedalam jenis kebudayaan pesisir yang
merupakan lawan dari kebudayaan pedalaman yang feodal dan dipenuhi
kosakata v-t. Ciri khas yang menonjol dari kebudayaan pesisir adalah
kelangsungannya, dan kesederhanaannya. Etiket tidak lagi dipandang
sebagai basa-basi, tapi lebih kepada kualitas pernyataan yang
dibangun. Sebuah seni desain minimalis yang lebih mengutamakan
kualitas bahan dan struktur, bukan gaya.

Bagaimanapun juga, penghormatan kita kepada Tuhan jauh lebih besar
daripada penghormatan kita terhadap sesama. Tapi apakah penghormatan
tersebut memperkenankan kita untuk memanggil namaNya dengan sebutan
antum? Untuk sekedar memberiNya sebuah maqam yang terhormat, atau
menggambarkan betapa Dia Maha Agung? Toh, pada akhirnya Allah selalu
menyebut dirinya dengan anta, ilaika, rahmatika, dsb. Bahkan juga
panggilan kita kepada Nabi Muhammad SAW selalu menggunakan kata ganti
orang kedua singular. Semuanya tentu bukan tanpa alasan. Tuhan ingin
selalu dekat dengan hamba-hambanya tanpa rintangan psikologis sekecil
apapun. Selain itu,visi Islam tentang kesetaraan dan kesederajatan,
itulah yang ingin dicapai. Kesetaraan berarti tanggung jawab bagi
semua dan kesederajatan berarti kesamaan hak untuk mengutarakan sesuatu.

Wassalam

Himawan Pridityo

P.S.

Maaf saya tidak membalas pakai bahasa Inggris, selain syu’ur
kebahasaan saya sedikit terganggu hari ini, juga karena saya ingin
posting saya ini dapat dipahami oleh semua. Trims.

Advertisements

Fenomena Kebahasaan memang bidang kajian yang sangat menarik. Terdapat banyak peminat di bidang ini, mulai dari pemerhati bahasa, kritikus, ilmuwan bahkan agamawan. Semuanya dipertemukan kedalam sebuah ruang yang dinamakan bahasa. Dari sebuah milist Gontor yang sangat majemuk dan memiliki anggota yang variatif, serta memiliki rentang umur yang berbeda jauh sekitar 30-an tahun, berikut sedikit pemikiran mengenai bahasa Arab di tengah realitas keindonesiaan.

Beberapa waktu lalu media massa ramai membicarakan seorang tokoh bernama Syaikh Puji, pemilik pesantren Miftahul Jannah, daerah Semarang. Ketika bulan Ramadan, beliau diliput media massa karena membagikan zakat secara langsung yang jumlahnya lebih dari satu milyar. Terakhir, beliau begitu menghebohkan karena kasus pernikahannya dengan gadis di bawah umur.

Saya tidak mendengar pemberitaan tentang sumber kekayaan beliau yang konon sebagai pengusaha kaligrafi kuningan. Jika zakatnya saja mencapai lebih dari satu milyar, berarti omzet penjualan kaligrafinya itu bermilyar-milyar.

Huruf Arab memang begitu fleksibel dan dapat dijadikan hiasan dalam pelbagai dasar. Dulu ada seorang pelukis bulu (Fairuz) yang juga membuat kaligrafi dengan memadukan sekian banyak bulu burung yang warna-warni. Harga sebuah lukisan kaligrafi karyanya tentu sangat mahal.

Seorang alumni Gontor (kalau tidak salah namanya H. Kautsar) konon dapat beribadah haji karena kemahirannya dalam kaligrafi. Ketika itu beliau menghiasi Masjid Agung Al-Azhar dan sebagai imbalannya beliau diberangkatkan beribadah haji.

Kaligrafi yang ditulils di atas lempengan kuningan, di atas kanvas dengan menggunak bulu burung, atau dengan menggunakan cat di atas tembok masjid semuanya merupakan petikan dari ayat-ayat al-Quran. Saya tidak tahu persis apa hukumnya al-Quran dijadikan sebagai hiasan. Setidaknya jika mereka ditanya tentang hal itu, mereka akan merujuk ke Masjid Nabawi di Madinah yang penuh dengan lukisan kaligrafi.

Di antara ayat-ayat yang ditulis indah itu tentu saja dimaksudkan bukan untuk sekadar hiasan, tetapi juga sebagai pengingat atau sumber inspirasi dalam meningkatkan iman dan takwa. Sejauh ini saya sendiri belum pernah menemukan hasil penelitian, sejauh mana hiasan kaligrafi itu dapat mempengaruhi kepribadian seseorang. Dugaan saya, tidak banyak orang yang dapat membacanya karena ditulis dengan pelbagai gaya. Yang akrab bagi kita mungkin hanya gaya naskhi. Selain itu, setidaknya saya sendiri, hanya dapat menikmati keindahannya. Tidak heran jika di suatu masjid yang dinding depannya penuh dengan hiasan kaligrafi yang konon upahnya seharga ongkos naik haji plus itu, orang-orang yang berada di sekitarnya “cuek” dengan ayat-ayat yang sebetulnya dapat menjadi petunjuk bagi mereka, jika mereka dapat membaca dan memahami artinya.

Bahasa Arab — tepatnya — ayat-ayat al-Qur’an — yang berfungsi hanya sebagai hiasan ini akhir-akhir ini juga cukup membuat hati saya prihatin. Sejak bulan Syawal, penikahan demi pernikahan berlangsung. Setiap menjelang ijab kabul dilakukan, entah penghulu, entah wali calon pengantin perempuan, membacakan KHUTBAH NIKAH. Tak sedikit di antara mereka bukan lagi sekadar membaca sebagaimana layaknya membaca teks khutbah, tetapi membacanya sedemikian sempurnanya persis seperti ketika membaca ayat-ayat suci al-Quran. Kita tahu, dalam teks KHUTBAH NIKAH itu tidak semuanya ayat suci al-Quran. Beberapa di antaranya adalah hadis. Isi KHUTBAH NIKAH itu tentunya sangat berguna bagi calon kedua mempelai yang beberapa menit lagi akan melangsungkan ijab-kabul. Sepanjang pengalaman saya, belum pernah saya mendapatkan KHUTBAH NIKAH yang kemudian diterjemahkan, apalagi dijelaskan. Seakan-akan KHUTBAH NIKAH yang sepenuhnya berbahasa Arab ini bagian tak terpisahkan dari ritual akad nikah. Lagi-lagi, bahasa Arab dalam hal ini hanya berfungsi sebagai hiasan.

Jika Anda, saudaraku sealmamater, ada yang menjadi penghulu, dengan segala kerendahan hati, buatlah sebuah “sunnah hasanah”, dengan tidak hanya menyampaikan KHUTBAH NIKAH dengan bahasa yang tidak difahami oleh hadirin. Betul, hamdalah dan syahadah memang harus disampaikan dalam bahasa Arab, tetapi ayat dan hadis, alangkah bermanfaatnya jika diterjemahkan, karena maknanya itu akan berguna bukan bagi calon kedua mempelai tetapi juga bagi hadirin.

Saifullah Kamalie
KMI (1972-1078)
IPD (1978-1980)

***

Saran yang sangat bagus. Bukan cuma itu, dalam banyak khutbah Jumat saya, saya selalu berusaha menerjemahkan ke dalam bahasa Indonesia kalimat paling akhir khutbah kedua, mulai dari innallaha ya’muru bil adli wal ihsan dst .. dst … sampai selesai. Paling tidak saat menyebut kalimat paling akhir, aqiimush-shalah, dengan tegas saya perintahkan para jamaah (karena ini memang tugas seorang khatib) dengan kata-kata: DIRIKAN SHALAT!!!

Salam,

Helmi Hidayat (alumnus 83)

***

Terima kasih atas respon yang diberikan Ustaz Helmi Hidayat ini. Semoga para khatib yang lainnya juga dapat mengikut jejak beliau. Khusus tentang KHUTBAH NIKAH, dalam tulisan yang lalu saya menghimbau para alumni yang berprofesi sebagai penghulu, tetapi rasanya himbauan itu juga bagi para ikhwan yang memiliki anak gadis yang akan melangsungkan pernikahan. Mari kita adakan “sunnah hasanah” — kalau memang belum banyak dilakukan para wali atau penghulu — dengan tidak sekadar membaca KHUTBAH NIKAH yang berbahasa Arab itu tanpa menerjemahkan.

Perlakuan saudara-saudara kita terhadap bahasa Arab ini tidak terbatas pada penyampaian KHUTBAH NIKAH saja. Beberapa wali — entah untuk menunjukkan dirinya seorang ustaz, seorang ajengan, atau seorang kiayi — mengucapkan ijab kabul dengan menggunakan bahasa Arab, kemudian bahasa Indonesia, padahal calon menantunya itu SAMA SEKALI tidak mengerti bahasa Arab. Tampaknya sang wali ini merasa kurang afdol jika transaksi ijab-kabul ini tidak diucapkan dengan bahasa Arab. Bahkan, entah darimana asalnya, dua kata kerja yang bersinonim selalu digunakan “YA FULAN, ZAWWAJTUKA WA ANKAHTUKA …..”. Demikian juga versi Indonesianya, “SAYA NIKAHKAN KAMU, SAYA KAWINKAN KAMU….”.

By Saifullah Kamalie

***

Yang benar mana? /Aqiimu al-shalah/ atau /aqimi al-shalah/?
Karena sepengetahuan saya, itu adalah perintah langsung kepada muazin
untuk ber/iqamah/.
Dan kalimat perintah tidak langsung kepada jamaah.

By Himawan Pridityo

***

“Islamisasi bahasa baik sebagai kata terucap maupun tertulis, hanya akan menjadi lip service dan lipstik (artifisial: pepaes, hiasan, aksesoris) yang akan mengantarkan seseorang menjadi pengobral kata agama dan pesolek agama”.

Kegelisahan akademik diungkapkan oleh seorang pemerhati bahasa (pak Saifullah-ketemu lagi) berakhir pada imbauan untuk tidak menjadikan bahasa Arab sebagai hiasan belaka. Anjuran ini mengindikasikan ketidak-sreg-kan penggunaan kata-kata Arab mendominasi keseharian berbahasa kita (para mu’rob) yang nota bene bukan penutur asli, terlebih selalu dipakai sebagai penjelas dari ketidakjelasan kata Arab itu sendiri yang pada umumnya tidak pernah dipahami oleh kebanyakan pemeluk agamanya.

Sebagai bahasa terpilih dimana dengannya ajaran agama dikejawantakan, bahasa Arab pada kenyataannya, kurang mendapatkan tempat di hati masyarakat. Ia tidak bisa landing li ghoiri nathiqin bih. Dari Ijab qobul, khutbah nikah, perintah iqomah menjadi ajakan sholat, perintah kerapian barisan sholat sampai rutinitas ritual tambahan berupa bacaan peringatan untuk diam dan mendengarkan anshituu was ma’uu sementara peserta jum’atan malah mendiskusikan ngomong opo iku, hal ini cukup menegaskan campur aduknya pengaruh kuat bahasa Arab yang diskralkan dengan narsisisme kecintaan yang berlebihan.

Disamping kemiskinan (miskinnya) bahasa Indonesia akan kosa kata dan kecenderungan orang Indonesia mengimpor bahasa asing serta mendudukkannya sedikit lebih terhormat dari bahasa Indonesia itu sendiri (contoh karena dia wong jowo, mustinya Mbah Puji bukan Syeh Puji)(contoh lain adalah korupsi berjamaah sedikit lebih terhormat dari korupsi bersama-sama?) juga karena adanya gejala snobisme yang mengakar di kalangan mutasyabbih:akademisi, jubir, da’i, presenter, penceramah dengan maksud tertentu; membangun intelektual image dan memberi kesan keren habis.

Dengan demikian, banyaknya kemungkinan terjadi penggunaan kata Arab termasuk istilah yang muncul sebab faktor keagamaan bisa dipahami dan dimaklumi sebagai bentuk dari ketidakmampuan pribadi dalam melokalkan keasingan bahasa. Secara pribadi, saya lebih suka mengatakan sebagai language abuse>>nggedabrus

Selamat berbahasa tanpa musti bersusah payah.

Handoko Putro Sastro Adi Amijoyo bin Moch. Dja’far, alumnus KMI 1991

***

Terima kasih atas komentar yang disampaikan Pak Handoko dari Malang ini.
Pembuka komentar yang ditulis dengan huruf miring tampaknya merupakan sebuah kutipan dari pendapat seseorang. Alangkah lebih bagusnya jika sang empunya perkataan itu disebutkan, karena terus terang pernyataannya itu cukup menarik untuk dijadikan rujukan. Ada satu kata “pepaes”, jika yang dimaksud adalah bahasa Sunda, seingat saya bunyi yang benar adalah “PAPAES” artinya “hiasan, aksesoris”.

“Penderitaan” bahasa Arab ternyata tidak berakhir di acara akad nikah, khutbah Jumat, acara mauludan (pembacaan syair Barzanji seperti layaknya membaca al-Quran), tetapi penderitaan itu ternyata sampai ke kuburan. Sang jenazah yang telah berada di liat lahad, oleh seorang tokoh agama diberi kursus kilat bahasa Arab yang isinya merupakan dialog antara sang jenazah dengan malaikat yang akan menginterogasinya. “Wahai saudaraku, jika nanti malaikat datang kepadamu bertanya, “siapa Tuhanmu”, maka jawablah, “Tuhanku adalah Allah”…..dst. Sekali lagi, pelajaran singkat ini disampaikan dalam bahasa Arab, tak peduli sang jenazah ini alumni Gontor atau bukan.

Duh, malangnya nasibmu, wahai Bahasa Arab.

By Saifullah Kamalie

***

Assalaamu’alaikum Wr Wb,

Saya jadi tergoda untuk ikut nimbrung di topik bahasa ini dan wah, penadapat teman-teman
sungguh sangat menakjubkan. Ada seorang teman yang hidup nun jauh di jepang sana (Uga
Perceka alumni gontor 1978) menikah dengan gadis jepang dan  dan tentunya bernama je-
pang pula. Setelah ia memeluk islam si gadis jepang ini tidak latah ikut mengganti namanya
menjadi Aisyah, Fatimah atau Zainab. Ketika hal itu saya tanyakan kepada Uga sang suami,
ia hanya menjawab ; “kan isteri saya masuk islam, bukan masuk arab”, jadi tidak perlu harus
ganti nama arab sepanjang nama yang disandangnya juga mengandung do’a untuk kebaiakan,
meskipun itu dengan bahasa dari negara antah berantah. Mungkin pikiran seperti ini jualah yang
menyebabkan Ahamad Aidit sekonyong-konyong mengganti namanya menjadi Dipa Nusantara
Aidit, padahal ia lahir dan dibesarkan di lingkungan agamis yang kental di Belitung sana.

Namun ada satu hal yang menurut saya cukup baik untuk digalakkan dan disosialisasikan kem-
bali pemakain huruf arab jawi (menurut masyarakat melayu) atau arab melayu (menurut ma-
syarakat di jawa), yang merupakan identitas masyarakat muslim nusantara bahkan hingga asia
tenggara sejak masa-masa awal berkembangnya islam di wilayah asia tenggara. Hemat saya
ini sesuatu yang unik dan harus dipertahankan sebagai penyeragaman, dan bahkan dapat men-
jadi kebanggaan tersendiri bagi kaum muslimin di asia tenggara.

Wallahu a’lam bis showaab
Wassalaam

Yandriful Habib
KMI 1982

***

salamullah ‘alaikum warohmatuhu wabarokatuhu

asatidz al mukarromuwn, menanggapi bahasan ini saya juga ingin sedikit share, mengenai urgenitas dan fungsi bahasa arab dalam berislam.

memang tidak bisa dipisahkan bahwa bahasa arab adalah bahasa yang lebih banyak digunakan dalam ber-Islam, baik dari kitab sucinya yang memang diturunkan dengan bahasa arab, hadist2 qowlu rosulillah yang nota benenya adalah orang arab, maka dia pun juga berbahasa arab, hingga bacaan2 dan doa2 dalam sholat juga harus dengan bahasa arab.

sempat ada kerancuan ketika turki ingin mengganti sholatnya dengan bahasa turki juga bunyi adzan di negara mereka dengan bahasa setempat, sebagai dampak sekularisme dan kamalisme (musthofa kamal) setelah sukses meruntuhkan daulah ustmaniyah. dan bahkan ketika ma’mum mengucapkan amin, mereka pun tidak membacanya keras, karena konon “amin” dalam bahasa mereka mempunyai interpretasi arti yang berbeda dan bermakna kepada suatu hal yang tabu.

tidak hanya di turki dalam novel andrea “sang pemimpi” diceritakan ketika mereka melakukan performance street mengelilingi eropa, mereka singgah di swedia dan bertemu komunitas muslim yang didominasi oleh warga turki,dan persia(afghanistan,iran,tarzikistan dll). ketika selesai fatihah, arai yang tidak tau apa2 dengan lantang mengucapkan amin, sementara yg lain senyap tak bersuara.dan ketika selesai sholat arai pun malu sendiri dengan tingkahnya itu.
terlepas dari berbagai hal, apalagi bahasa arab adalah bahasa yang digunakan dalam bacaan dan doa2 dalam sholat, dan sholat adalah ibadah utama kaum muslim, pembeda antara seorang muslim dan kafir, juga ibadah pertama kali yg akan dihisab di akherat. bahasa arab sangat berperan besar disana (meskipun dalam beberapa muqoronah madzahib ada yg membolehkan membaca bacaan selain al-fatihah dan bacaan2 gerakan sholat-takbir,ruku’-i’tidal-sujud,dg bahasa sendiri yg dipahami,tanpa harus mengeraskannya, jikalau memang mereka dho’if mengucapkan bahasa arab dan sulit untuk mempelajarinya), maka otomatis bahasa arab sangat perlu dipelajari, bahkan menjadi wajib hukumnya karena digunakan untuk ibadah dan mendalami al-islam (yg bersumber pada al-qur’an dan as-sunnah serta kitab turots warisan ulama klasik).

memang sekali lagi “an-naasu a’dau ma jahiluw” manusia menjadi musuh/bumerang terhadap sesuatu yg tdk diketahui dan dipahaminya, sehingga dalam salah satu surat al-ma’un sangat keras Allah memperingatkan orang yang lalai dalam sholatnya dengan sebutan “waylun/celakalah” yaitu “celakalah bagi orang yg sholat, yang ketika sholat ia lalai, dan berbuat riya’ (supaya dipuji karena sholatnya) dan enggan menolong orang dg al-ma’uwn (barang yg berguna)”.lalai karena kurang khusyuk dlm solat akibat kita tidak memahami dan mengerti bacaan sholat.

sungguh korelasinya dg petikan mahfudzot diatas, adalah kita bisa celaka dalam ibadah (sholat) ketika kita tidak paham dan tau dengan apa yg kita ucapkan (bahasa arab). bahkan konon ilmu tajwid menjadi sedikit wajib hukumnya utk dipelajari, supaya kita terhindar dari lahn dan tahrif,salah membaca bacaan al-qur’an yang mengindikasikan terhadap perubahan makna kandunganya.
sedikit menukil keresahan pak hidayat nur wahid,dlm blognya, ttg salah kaprah penggunaan istilah arab yg mungkin sudah baku dlm bhs indonesia, yg ternyata “mungkin” berdampak pada kondisi bangsa saat ini, yaitu istilah silaturrahmi bukan silaturrahim. padahal silaturrahmi secara terminologi bahasa berarti menyambung rasa sakit yg diderita oleh ibu yg sedang mengandung (silah=menyambung, rahim=rasa sakit ketika mengandung) than, hal itu yg mungkin penyebab kenapa bangsa ini tidak saling mengasihi (silaturrahim), malahan yg ada bangsa semakin terpecah dan tidak ada rasa kasih sayang diantara mereka, lantaran mereka salah memakai istilah silaturrahmi dlm berbagai acara mereka.

maka, uwsiykum wa iyya ya bitaqwallah. sebagai alumni gontor dan sempat diamanati bagian bahasa waktu itu, ternyata skill bahasa kita yg didapati dari gontor harus perlu dikembangkan, karena kenyataan ketika saya belajar di al-Azhar, saya juga membutuhkan waktu yg lama untuk bs memahami presentasi doktor, bertanya dg tarkib yg benar, memahami muqoror (diktat), hingga ta’bir ketika menjawab ujian pun harus sesuai dengan bahasa arab, bukan bahasa gontor/terjemahan bebas indo-arab.
dan mungkin terkhusus bagi alumni yg mempunyai lembaga kursus bahasa arab, bisa lebih disosialisasikan urgenitas dan fungsi bahasa arab, sehingga ibadah kita khususnya dalam sholat, dan ibadah lainya, ijab qobul, khutbah jum’at, khutbah nikah, bisa diterima oleh Allah, dengan pengucapan dan pemahaman arti yg benar.

dan mungkin sebenarnya bahasa arab harus diutamakan mempelajarinya, lantaran kita pingin ia semakin fasih diucapkan (mungkin lbh baik memasyhurkan istilah bhs arab daripada bhs inggris), juga sebenarnya kita kalah saing dengan para orientalis yg pada abad ke-12 lewat gagasan rojer beikun dan reymon mustasyriq asal spanyol itu. pada awal tahun 1200-an mereka sudah memulai konsen mempelajari bahasa arab, bahkan lewat jasa mereka bahasa arab sudah dipelajari di berbagai universitas terkemuka di eropa(oxford,univ paris,bolgna,slamanka) pd awal abad ke-13. meskipun tujuan mereka adalah at-tanshir (kristenisasi) dan menyerang agama Islam.

dan hingga kini sudah 7 abad mreka konsen mempelajari bhs arab, untuk melemahkan umat islam. maka bagaimana kita, selaku umat muslim, apakah kita sanggup mengcounter-attack serangan mereka dg skill bhs arab yg kita miliki? dan sejauh mana upaya kita mempelajarinya? bahkan mengajak umat islam untuk lebih mendalaminya? insyaAllah bersama kita bisa..
al-lughotu taaju al-ma’had

nidauddin azharian
kmi’05,konsulat surabaya

***

“Islamisasi bahasa baik sebagai kata terucap maupun tertulis, hanya akan menjadi lip service dan lipstik (artifisial: pepaes, hiasan, aksesoris) yang akan mengantarkan seseorang menjadi pengobral kata agama dan pesolek agama”. William Handoko (1971-Present)

Kutipan tersebut berawal dari perenungan singkat saat saya dihadapkan dengan realitas kebahasaan yang sudah jauh terseret kedalam kubangan dunia material-spiritual ngomong opo aku iki?, terinspirasi oleh seorang teman, Mahfud Siddiq, kyai para Huffad Lombok yang berintermezo menggagas Islamisasi Pakaian (dalam hal ini; kaos) meski tanpa ia tahu histeria Islamisasi ilmu pengetahuan yang telah di gusung oleh Muhammad Naquib al-Attas di tahun 80an.

Sebenarnya, selain lip service dan lipstik ada Lip lain. Sebagaimana lagu-lagu yang dipopulerkan Milli Vanili di tahun 80an yang ternyata cuma pinjaman dari pelantun aslinya. Duo tersebut cuma menjadi bibir duplikasi, istilahnya dalam dunia tarik suara adalah lip sing (kalo gak salah).

ini sisi gelap pemikiran saya, pak.
ngelamunnya dibawah temaram lampu 5 watt
it’s better for you not to refer to
but it’s okay if you like to

catatan: pepaes juga ada dalam kamus bahasa jawa sama halnya dengan paesan

***

Assalamu’alaikum wrwb

Bagi alumni Gontor, setidaknya bisa berbahasa Arab, Alhamdulillah. Semoga mereka bisa memahami apa yang dibaca ketika shalat, ketika membaca al Quran, ketika berdoa, ketika dirasani oleh orang Arab, ketika berkomunikasi dengan orang Arab atau dunia Islam lain.
Bagi setiap orang Islam yang mempunyai Kitab Suci  al Quran yang berbahasa Arab,  sebaiknya mencintai bahasa ini sebagai bagian dari ibadah. Belajar bahasa Arab sebagai ibadah.
Bahasa lain termasuk bahasa Inggris tentunya  baik dipelajari namun bahasa Arab ada kaitannya dengan bahasa Al Quran. Utamakanlah bahasa Arab.
Bersyukurlah anda jika dapat memahami bahasa Arab.

Wassalam

masruh
www.ohpondokku.blogspot.com

***

Yang janggal adalah yang menganggap bahwa bahasa Arab adalah bahasa Tuhan. Meski tidak secara ekplisit, namun bawah sadar kebanyakan muslim beramai-ramai menganggapnya demikian. Sehingga berdoa kepada Tuhan “afdholnya” menggunakan bahasa arab. Itu bawah sadar kita semuanya.

Orang-orang mengkait-kaitkan antara bahasa arab dengan bahasa Tuhan, (sebagian kaum ektremis mesir menganggapnya bahasa syurga kelak, lughotul jannah) sebab al-Qur’an menggunakan bahasa Arab. Dan karena al-Qur’an adalah wahyu Tuhan, berarti Tuhan bercakap2 kepada Muhammad sang Nabi menggunakan bahasa arab. that’s our common imagination.

Padahal alasan utama qur’an berbahasa arab adalah karena turun diarab dan Muhammad sang utusan merupakan orang arab. “bilisaani qoumihi”. Alasan lainnya supaya manusia mau menganalisa, menguraikan, dan menyimpulkan: singkat kata, menggunakan akalnya. inna anzalnahu qur’aanan arobiyan la’allakum ta’qilun (surat yusuf). bukan tattaquun atau ta’buduun. Tuhan tentu punya alasan tersendiri kenapa memakai redaksi ta’qiluun–yang berhubungan dengan akal–dan bukan lainnya.

Dan Tuhan bisa saja membuat skenario Qur’an diturunkan di jawa, kepada ronggowarsito atau semar dan menggunakan bahasa jawa kuno, tanpa siapapun bisa protes kenapa kok tidak turun diarab. Lantas menjadikan bahasa jawa sebagai bahasa Tuhan/syurga dan mempelajari/mengucapkannya bernilai ibadah…?

Bahkan alasan diturunkan diarabpun juga bukan karena arab/orang arab memiliki kelebihan dan nilai plus atas bangsa yang lain. Kalau ditarekh islam kelas 5-6 KMI dulu justru karena tidak ada bangsa lain dimuka bumi ini yang kebenggalan dan keberingasannya melebihi orang arab pada waktu itu, sehingga para Nabi banyak diturunkan disana untuk membenahinya…

By Nazhim Adabi

***

Dear all,

Bagaimanapun, perkembangan bahasa tidak pernah terpisahkan dari kekuasaan. Dalam teori bahasa, dikenal sifat kebahasaan yang arbitrer dan konvensional. Arbitrer adalah kesewenang-wenangan, sebuah kreasi individu, kebebasan dasar dalam menamakan sesuatu dan membunyikan fonem. Adapun konvensional adalah kesepakatan masyarakat pemakai bahasa. Bahasa adalah proses tarik ulur yang panjang antara kedua poros tersebut. Pada level atomis, ketika bahasa merupakan ekspresi individu ia hampir bersifat arbitrer, sedang pada level yang lebih luas, unsur konvensionalitaslah yang menonjol. Sama seperti kebebasan individu vis a vis negara, maka begitu pulalah bahasa. Menguasai bahasa berarti memiliki kekuasaan dalam ekspresi manusia. Dan Orde Baru selalu menyensor lembaga pers, sebuah entitas yang memiliki share kekuasaan atas bahasa. Bahasa selalu diperebutkan dan menjadi ajang hegemoni politik.

Pada bahasa Arab yang hanya menjadi hiasan belaka, dalam kacamata teori ini, jelas kekuasaannya tidak membekas sama sekali. Ia mungkin hadir dalam teks-teks agama, tapi jelas, ia bukan pemain tunggal. Ekspresi keagamaan masyarakat kita masih sangat personal, bahasanya masih arbitrer, sementara itu konvensionalitas bahasa Arab hanya berada ditangan elit. Yang disayangkan, efektivitas elit ini dalam kekuasaan hanya berada pada ranah keagamaan semata (yang tentunya kembali lagi personal), padahal porsi kekuasaan terbesar berada di ranah politik, ilmu pengetahuan dan ekonomi. Di ketiga ranah ini bahasa Arab absen, dan tergantikan secara sitematis oleh bahasa daerah, Indonesia, Inggris dan Cina. Kealpaan bahasa Arab, tidak bisa dipungkiri merupakan hasil posisioning masyarakat. Bisa juga, kita memang tidak pernah dijajah oleh bangsa berbahasa Arab. Hasilnya, ia mengerdil menjadi bahasa agama semata. Kalau mau bukti, coba kirim surat lamaran berbahasa Arab kesejumlah perusahaan besar, dan lihat hasilnya, Itu indikasi utama dari praktek kekuasaan di ranah ekonomi.

Sebagaimana nasib keberpihakan di era terbuka macam ini, keberpihakan kepada sebuah komunitas agama yang dinyatakan secara besar-besaran dan dilakoni dengan ekstrim, tentu semakin mereduksi wilayah kekuasaan sebuah bahasa. Bahasa Arab kemudian menjadi simbol ekstrimitas dan sekterian, bahkan diasosiasikan sebagai bahasa teroris. Tidak ada salah atau benar dalam hal ini, itu semua hanya soal perspektif belaka, perspektif dan survival. Bila dahulu bahasa Arab memiliki kekuasaan di keempat ranah, itu tak lebih dari hegemoni peradaban Islam semata, saat ini? Arab belum mencapai kembali mahkotanya yang hilang. Dibutuhkan banyak usaha untuk mencapai hal tersebut, tapi bukan menggunakan pendekatan kekuatan sebagaimana yang diyakini oleh pengagum Amrozi cs. Bertahan bukan soal siapa yang kuat dan siapa yang lemah, tapi lebih kepada yang mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman, survival for the fittest bukan survival for the strongest.

Pertanyaannya, apa bahasa Arab sudah berjalan ke arah sana?

Himawan Pridityo
(Alumnus 1999)

***

Assalamu’alaikum wrwb

Tidak bisa disangkal lagi bahwa Ukhuwwah Islamiyah merupakan sebuah ikatan yang menjadi kebanggaan kaum muslimin. Persaudaraan Islam yang kukuh bagaikan sebuah bangunan yang saling memperkuat antara satu sama lain. Jika terjadi suatu bencana di sebuah negeri yang penduduknya beragama Islam, maka dengan segera ummat Islam  lain terusik untuk membantu atas nama persaudaraan dan kemanusiaan. Solidaritas mereka spontan muncul karena perasaan ukhuwwah Islamiyah yang tertanam dalam diri mereka. Apalagi jika yang menjadi korban terdiri orang-orang yang mempunyai nama berbahasa Arab.

Di Thailand, di Bosnia atau di Rusia terkadang kita sering tidak mengenali mana nama orang Islam dan mana nama orang yang bukan Islam. Makanya tidak sedikit antara kita terkadang KURANG terusik jika terjadi pembantaian atau pemusnahan etnik karena kita kurang mengenali mereka. Bak mereka mati katak, karena SEAKAN tidak mempunyai saudara lain di dunia yang terusik mau menolong mereka kecuali atas nama kemanusiaan bukan persaudaraan Islam.

Apa perasaan¬†kita jika mendengar¬†berita seseorang bernama¬†Muhammad Adil (maaf jika kebetulan ada persamaan nama) telah dibunuh secara kejam oleh seseorang yang tidak dikenali. Bandingkan dengan berita serupa namun¬†orang tersebut ¬†mempunyai nama¬†Aquarius Taurus (atau¬†entah nama yang¬†menggunakan bahasa tidak dikenali). Tentunya¬†perasaan kita berbeda. Setidaknya dalam hati ada terselit doa: Allahummarhu wa ‘aafihii wa’fu¬†‘anhu) jika kita yakin seseorang itu¬†saudara seagama.

Begitu juga jika kita mencari RUMAH MAKAN. Tentu kita akan mencari makanan yang kita yakini halal. Oleh itu seperti Restoran “Wong Solo”¬† diyakini halal karena ia menyelitkan

semboyan ‘HALALAN THOYYIBAN”.¬† Orang Melayu Malaysia, Brunei, dan Singapura dipastikan tidak ragu-ragu untuk makan di restoran seperti ini. Saya pernah masuk di rumah makan orang Jawa di daerah Ungaran, ternyata terdapat leher ayam yang masih utuh tidak ada bekas tanda sembelihan. Maka tanpa banyak bicara, saya keluar lagi diikuti oleh anak-anak dan isteri saya. Akhirnya saya¬†TERSADAR bahwa tidak semua¬†ORANG JAWA¬† beragama Islam.

Wassalam

masruh

www.ohpondokku.blogspot.com

Hitam dan Putih

November 1, 2008

Sering saya dengar celotehan tentang bagaimana seharusnya manusia itu berfikir. Ada yang bilang, karena realitas ini begitu majemuk dan tipe-tipe manusia serta jumlahnya yang begitu ramai seperti pelangi, maka sudah seharusnya kita berfikir seperti itu. Warna-warni, beragam dan penuh dengan kejutan-kejutan kecil. Kata sebagian orang, corak berfikir macam ini adalah sebuah relativisme. Relativisme pikir saya, dari akar kata relation atau hubungan. Seperti hubungan A dan B, atau A dan C, semua yang terjadi dalam hubungan khusus tersebut sangat unik dan tidak memiliki keserupaan misalnya, dengan hubungan B dan C. Sehingga, saat kita hendak meletakkannya dalam sebuah rumusan umum, hanya akan membatalkan keunikan hubungan setiap individunya. Relativisme dengan demikian sebuah antitesis dari absolutisme, yang mereduksi segala sesuatu kedalam sebuah hubungan yang identik. Semuanya, kalau tidak benar ya salah, hitam dan putih, sama seperti gambar kakek dan nenek buyut kita tempo doeloe. Romantik kan? Absolutisme itu memang sebuah gambar yang romantik, sedangkan relativisme adalah ketakjuban dan perayaan.

Sewaktu rancangan UUAPP disahkan, kedua pola berfikir ini mencuat kedepan. Yang berfikir hitam putih akan ada yang menganggap produk ini gagal dan juga berhasil. Sebagian ada yang benar-benar setuju, yang lain menolak mentah-mentah. Adapun yang berfikir warna-warni, karena begitu banyak usulannya, ternyata ia tidak terlihat. Ia seperti massa grassroot yang berdiri di belakang panggung dan mengamatinya dalam berbagai perspektif dan pertimbangan menurut relasi dirinya dengan produk tersebut. Ia ada tapi tidak ada, bisa karena kamera yang kita gunakan adalah tipe polaroid, bisa juga disebabkan penggunaan kompresi JPEG yang menghilangkan titik-titik yang kurang penting. Dalam bahasa politik, silent majority atau floating mass, massa yang mengambang. Dalam terminologi yang saya gunakan diatas, tipe berpikir seperti ini menganggap RUUAPP tak lebih dari sebuah wacana televisi yang tersaji dari hari ke hari dan hilang begitu saja tanpa rasa bersalah. Sama seperti kasus pembunuhan yang hadir setiap hari, tidak ada yang berubah kecuali bentuk dan gesturnya saja.

Ada yang dalam dari cita rasa ala relativisme ini. Pola pikir seperti ini adalah sebuah penarikan diri terhadap masalah, sekaligus penghormatan terhadap individualitas manusia. Saya jadi teringat dengan kritik Ibn Taymiyyah terhadap para filsuf. Dalam salah satu poin, sang ulama besar ini mengkritik penggunaan logika yang menafikkan keunikan individu. Baginya, proposisi “bila A adalah B, dan B adalah C, maka A sama dengan C” tidak dapat diterima. Karena meskipun A sama dengan B, tapi A jelas bukan B. Ada yang beda antara kedua entitas ini, yang meskipun kecil dan unsignifikan, tetapi itulah yang membedakan keduanya. Sama seperti manusia dengan monyet. Dalam perspektif biologi molekuler, manusia dan monyet 98% identik. Tapi kita jelas berbeda dengan monyet, sayangnya, hanya cukup 2% saja yang dapat membuat kita tertawa terbahak-bahak, marah bahkan merasa mual kalau disamakan dengan monyet. Ternyata, dua angka sudah cukup untuk membangun dinding pemisah yang tegas. Sama seperti peralihan dari angka 1 ke angka 2 yang kalau mau dipermasalahkan bentuk desimalnya, bahkan hingga seribu angka dibelakang koma pun, 1 tidak pernah menjadi 2. Hebat kan.

Yang menarik adalah, bagaimana realitas yang dalam itu terbentuk. Hampir menyerupai cara kerja sebuah sistem digital, relativisme tak lebih dari hamparan pernyataan hitam dan putih yang sangat panjang. Ia tak lebih dari sebuah pilihan antara 0 dan 1, benar dan salah, terang dan gelap, halal dan haram pada continuum yang tak terhingga. Hampir menyerupai tes kepribadian dengan pilihan jawaban A dan B, kita dapat menggolongkan manusia kedalam 16 tipologi. Saat kita memilih A, dan orang disamping kita juga memilih huruf yang sama, belum tentu kepribadian kita serupa. Karena bisa saja di jenjang selanjutnya pilihannya bisa berbeda, dan di jenjang lain kembali serupa. Namun, satu perbedaan sudah cukup membuat tipologi kepribadian kita berbeda satu dengan yang lain. Seperti ranting-ranting pohon yang bercabang ke kiri dan ke kanan. Ternyata, keragaman hanyalah gambar lain dari sebuah pengambilan keputusan yang rigid.

Mungkin, karena itulah Tuhan tidak merasa tertekan sewaktu membagi manusia kedalam dua golongan, ashabul jannah dan ashabul nar, beriman dan kafir, berlaku lurus dan menyimpang. Pada akhirnya, semua hanyalah tentang pengambilan keputusan dan positioning semata. Dan dalam dunia yang relatif, belum tentu orang-orang yang mendukung UUAPP adalah ashabul jannah dan yang menentang adalah ashabul nar, karena bukan pada titik itu pendefinisian diambil. Ia hanya sebuah titik persimpangan kecil diantara persimpangan-persimpangan lain yang muncul selama kehidupan kita. Usia manusia ternyata berisi digit-digit perbuatan yang kemudian membentuk imagi mengenai tipologi orang tersebut. Sebuah definisi akhir, sebuah IPK bukan IP. Dan sebuah titik, bisa saja membawa kita sebagai orang-orang yang dicintai Tuhan atauyang Ia benci. Hitam dan putih, begitulah hidup.

Passion in Debate

October 12, 2008

Seperti kata Nietzsche :
“Tuhan telah mati dan kita lah yang membunuhnya”

seperti kata Lao Tzu dlm TAO :
“di dunia ini ada yang abadi dan yang akan hilang. Yaitu Alam, Zaman dan Manusia”

Tuhan itu diciptakan oleh pemenang di zamannya. Sejarah (termasuk Sejarah terbentuknya Tuhan) menentukan cara berpikir dan cara pandang manusia berikutnya. Dan agama, surga dan neraka hanyalah konsep yang mungkin pernah berhasil dan pernah ada. Yang menjadi sindrom di masa depan, seperti vetsin, sekali pake pingin lagi..! Razz

dan agama tidak lain hanyalah sejarah

Razzlet’s rock

****

Setuju!!!

Karena Tuhan telah membatasi dirinya untuk dikenal oleh manusia, yaitu Wujud/Dzat’a dan Kehendak’a akan Alam Semesta yg Dia ciptakan…,
Ada yg bisa nambahin???

Tuhan itu diciptakan oleh pemenang di zamannya. Sejarah (termasuk Sejarah terbentuknya Tuhan) menentukan cara berpikir dan cara pandang manusia berikutnya. Dan agama, surga dan neraka hanyalah konsep yang mungkin pernah berhasil dan pernah ada. Yang menjadi sindrom di masa depan, seperti vetsin, sekali pake pingin lagi..! Razz

dan agama tidak lain hanyalah sejarah

Ya, Mungkin itu adalah keyakinan Mas…., gw kagak bisa ikut campur, karena susah untuk menjelaskan keberadan Tuhan. Menurut gw pemahaman akan keberadaan Tuhan tidak bisa dibagikan kepada org lain, karena hal itu bersifat personal. Ya, itulah Filsafat yg bersifat metafisis. Karena filsafat meurut gw tidaklah dipandang sebagai produk pemikiran tapi sebagai sebuah proses.

****

Tuhan membatasi dirinya untuk dikenal oleh manusia sebab TUHAN adalah si manusia itu sendiri (nabi) yang ingin manusia lain tunduk kepada dia tanpa mereka harus merasa seperti itu. Maka diangkatlah TUHAN menjadi simbol kebersamaan suatu kelompok.

contoh bagus untuk perumpamaan : film EQUILIBRIUM (christian bale) dimana ternyata “The Father” yg selama ini ditampilkan secara tekno-visual di depan masyarakat itu tidak pernah ada, melainkan hanya rekayasa birokrat belaka untuk mengikat ketertundukan masyarakat.

dari sini bisa ditelusuri :
mengapa ilmu “manunggaling kawula gusti” milik Siti Jenar dianggap tabu/bidah/sesat ? sebab ilmu itu adalah TOP SECRET dari PARA WALI SONGO yang bisa jadi merupakan rahasia para NABI, yang menjelaskan bahwasanya Tuhan itu adalah Sang Nabi itu sendiri yang tidak boleh bocor kepada umat karena akan mengancam kestabilan kelompok (agama) itu. Konon Siti Jenar dieksekusi mati dihadapan ke 9 Wali, menandakan perkara ini sangat-sangat penting. (padahal Siti Jenar ga zinah dan ga bunuh orang). Mirip kisah misteri Naskah Supersemar ya ? Very Happy

Mencari Tuhan rasanya kok persis mencari dalang G30S ya : Apakah Sukarno atau Suharto ?

Evil or Very Madmore light..

****

Bukankah siti jenar adalah seorang Muslim???? Kalo memang Tuhan seperti yg digambarkan bapak’a Socratez! eh, Bapak Son of Socratez, kenapa Siti Jenar tidak membuat Tuhan Baru??? Ajaran Siti Jenar kalo g salah dari Ibnu Arabi..,

Baca Thread “Filosofi Wayang”, Hal seperti itulah yg diajarkan para wali dalam (boleh dibilang) “menemukan Tuhan”. Dan itu sifat’a personal…,

Jangan terlalu berasumsi Negatif Mas!!! Very Happy

Konon Siti Jenar dieksekusi mati dihadapan ke 9 Wali, menandakan perkara ini sangat-sangat penting. (padahal Siti Jenar ga zinah dan ga bunuh orang

Konon SOcrates uga dihukum mati dihadapan plato. Bahkan lebih parah disuruh minum racun dg tangannya sendiri. (padahal Socrates ga zinah dan ga bunuh org).

Mencari Tuhan rasanya kok persis mencari dalang G30S ya : Apakah Very HappySukarno atau Suharto ?

Ya, kalo kita mengaggap para Nabi adalah Tuhan itu sendiri, bisa jadi. Kalo bapak menganggap Tuhan adalah sesuatu yg menciptakan kita. Misteri’a akan lebih sulit berjuta milyar kali lipat dari kasus pencarian dalang G30S atau pun Supersemar. Itu cukup logis kok…, Very Happy

Pernah denger g kalo yg nama’a Tuhan, God, Thor, Al, El dll hanyalah sebutan dari mausia yg menyembah apa yg dinamakan sebagai Sang Pencipta. Termasuk kata Allah sendiri, menurut Gardner istilah tersebut berarti Sesuatu Yg Paling Sederhana. Menurut gw sech hal ini menunjukkan kalo Nama dari Sesuatu yg manusia sembah (Yang meciptakan manusia) sendiri, manusia tidak pernah tahu (baca ; Sejarah Tuhan karangan Karen Amstrong). Apalagi menemukan Dia! sekali lagi sangat logis Kok…,

****

dia baru saja akan membuat Tuhan baru tapi keburu ‘tercium’ wali songo dan di hukum mati.

nampaknya siti jenar harus belajar banyak dari Tyler Durden dalam film Fight Club mengenai hal menjadi diri sendiri. “If we are God’s unwanted children, so be it! “

dan setelah itu Plato pergi meninggalkan negerinya dengan penuh perasaan benci kepada negaranya yang telah “mengeksekusi” pengetahuan.

sedangkan wali songo merasa perlu melindungi RAHASIA PARA NABI dengan mengeksekusi Siti Jenar.

Segala cara akan ditempuh untuk mempertahankan kestabilan dan kekuasaan.

“Karena itu banyak orang berpendapat bahwa bila ada kesempatan, sang penguasa dengan cerdik harus menciptakan sosok musuh bersama, sehingga apabila musuh itu diberantas sang penguasa akan memperkuat kejayaannya sendiri” (Niccolo Machiavelli)

****

Terlalu berasumsi…,

Pernah tahu perjalanan hidup Ibnu Arabi kagak???
Seorang kaya Raya dari andalusia yg memilih hidup sederhana. Konon dia udah ketemu ma Tuhan yg dibawa Muhammad melalui imajinasi kreatif dia. Dia pun seperti siti jenar yg di musuhi oleh mayoritas muslim sampe saat ini…,
Koq dia kagak buat agama baru y???Apalagi dia kaya…,
Very HappyVery HappyVery HappyVery Happy

****

karena Arabi tak sehebat muhammad, Arabi adalah hamba dari ajaran muhammad. Takaran pikirnya telah dibatasi oleh pemikiran muhammad. Untuk bisa menjadi lebih dari muhammad (atau membuat Tuhan sendiri) Arabi mesti keluar secara total dari kungkungan ajaran muhammad itu. Keluar dari menjadi peniru menjadi pionir.

andai saja Machiavelli sudah ada di zaman Arabi dan dia pelajari itu, bisa jadi ajaran muhammad punya tandingan baru.

kali ini Arabi harus belajar dari Tyler Durden di film FIGHT CLUB (lagi???????????) Very Happy

“It’s only after we’ve lost everything that we’re free to do anything”

****

Dear Son of Socrates,

Sepertinya salah besar kalau mengatakan bahwa Tuhan adalah penjara para filsuf. Justru sebaliknya, merekalah yang berusaha mencari hakekat tertinggi dari alam semesta ini, the ultimate being, yakni Tuhan itu sendiri. saya malah curiga apa yang anda maksud justru Tuhan yang hendak dibebaskan para filsuf dari segala bentuk penyimpangan. Bahkan, dalam beberapa tesis peneliti Barat kontemporer, Nietsczhe sendiri termasuk orang yang percaya kepada Tuhan, lihat tulisan Gillez Deluze mengenai Nietsczhe. Tuhan yang dimaksud oleh Nietsczhe, dalam kalimat Tuhan telah mati, tak lain dan tak bukan adalah Tuhan hasil bentukan agama tempat ia berkembang saat itu. Tuhan orang-orang Kristen. Yang tidak memiliki sifat-sifat manusia Uber Allez-nya, hanya sebuah resentment, yang tidak dapat berdiri di atas kakinya sendiri. Tahulah gimana pemikiran Nietsczhe, ia sangat memuja maskulinitas. Tuhan Kristen itu tidak pernah memiliki sifat-sifat demikian, karena itulah ia memberontak kepada Tuhan, Tuhan orang-orang Kristen.

Ada satu hal yang ingin saya luruskan di sini, seputar masalah syekh Siti Jenar. Memang dari cerita yang banyak beredar, syekh Siti Jenar dihukum mati dihadapan wali songo. Tapi, ajaran beliau itu tidak pernah sekali-sekali memaksudkan Nabi sebagai Tuhan. Itu salah besar! Baik yang mendukung ajaran wahdatul wujud maupun yang menentangnya (para wali songo) sama-sama menolak pemikiran anda tersebut. Wahdatul wujud sendiri merupakan sebuah konsep logis dari upaya pencarian manusia akan Tuhan. Kata kuncinya adalah cinta. Ketika kita sudah mencintai seseorang, maka tidak ada sesuatu yang menghalangi kita dengan kekasih kita. semakin kita mencintai, semakin leburlah diri kita kepada sang kekasih. Pada titik ini, sudah tidak adalagi ego, sudah tidak adalagi “aku”, yang ada hanyalah kekosongan, penyatuan dan peleburan. Dalam terminologi sufisme, kekasih itu Tuhan. Makanya ketika seorang sufi mencapai tahapan ini, ia sudah tidak terpisahkan lagi dengan Tuhan. Aku adalah Tuhah, dan Tuhan adalah Aku. sebuah panteisme.

Yang dikritik oleh para penentang ajaran ini adalah, ihwal tanggungjawab manusia. Coba bayangkan, kalau semua orang mengaku telah menyatu dengan Tuhan, semua mengaku Tuhan, apa gunanya hukum, bagaimana menghakimi orang yang mencuri atas nama Tuhan? Memangnya kita bisa menghukum Tuhan? Repot bukan. Karenanya para ulama lebih berhati-hati terhadap macam pemikiran seperti ini. Dan menganggap hanya orang-orang tertentu saja yang dipercaya bisa mencapai tahapan demikian. Itupun dengan syarat yang sangat panjang dan susah. Paham wahdatul wujud sendiri dipelopori oleh seorang sufi bernama al-Hallaj, ia dihukum mati sekitar abad ke-12 karena pemikirannya tersebut. Cerita mengenai al-Hallaj sangat populer di dunia Islam, dan di setiap negeri selalu memiliki versi tersendiri mengenai peristiwa pemancungannya tersebut. Para ahli sejarah, belakangan menganggap kisah Syekh Siti Jennar hanyalah sebuah kisah fiktif belaka, dan tidak lebih dari duplikasi cerita al-Hallaj yang sangat masyhur tersebut. Ini, tentu tidak lepas dari kampanye para Wali yang berusaha mencegah penyebaran paham tadi di Nusantara.

Pemikiran al-Hallaj mengenai wahdatul wujud, mendapat porsi teoritisnya dalam pemikiran Ibn Arabi. Ia sendiri lahir di Spanyol jauh sebelum reconquista (sebuah peristiwa pembersihan etnis dan agama terbesar sebelum Holocaustnya Hitler) dan dikenal sebagai Guru Agung dalam tradisi tasawuf. Pemikirannya sangat kompleks, bahkan seorang Henri Corbin, yang mendedikasikan hidupnya untuk mempelajari pemikiran Ibn Arabi, hampir tidak dapat menarik kesimpulan apakah ia seorang pantheis sejati atau pengikut ajaran tauhid. Untuk menggambarkan pemikirannya saya kutip sedikit sajak-sajaknya sbb:

“Hatiku bisa berbentuk apa saja,
biara bagi rahib, kuil untuk berhala
padang rumput untuk rusa,
Ka’bah bagi para penggemarnya,
lempengan-lempengan Taurat, Qur’an.
Kasih adalah keyakinanku: ke mana pun pergi
unta-untaNya, kasih tetap keyakinan dan kepercayaanku”

Sangat menarik diperhatikan adalah sikap orang-orang yang menjadi martir akan kecintaannya kepada Tuhan. Sewaktu hendak dipancung, al-Hallaj malah gembira sekali, ia memaafkan jaksa yang telah memfitnahnya, dan berusaha menghibur para pengikutnya. Kenapa? Karena justru dalam kematian inilah ia dapat berjumpa dengan sang kekasih, Tuhan. Tidak ada penyesalan, tidak ada pembatasan, yang ada hanya rasa suka cita. Saya kira, kalaupun Syekh Siti Jenar itu tokoh nyata, ia pasti akan bersuka cita sebagaimana al-Hallaj, dan menerima kematian sebagai gerbang menuju penyatuan abadi.

Saya rasa pemikiran mengenai atheisme telah lewat masa jayanya. Itu relik-relik abad ke 19 dan 20. Sekarang abad 21 bung! Agama mengalami kebangkitan kembali di akhir abad 20. Gelombang New Age, Spriritualitas Kontemporer, di Amerika bahkan sekte-sekte agama mulai kembali dilirik. Meskipun saya tidak setuju dengan model kebangkitan agama yang saat ini sangat fundamentalis, kering dari pemikiran-pemikiran kritis, tapi ia masih berguna mengendalikan nafsu-nafsu kita yang begitu liar. Mungkin kita terbelenggu oleh organisasi macam FPI, Laskar Jihad, Para pembom WTC, tapi begitu nilai-nilai religius berhasil menembus batas tersebut, kekerasan-kekerasan itu akan semakin ditinggalkan orang. Semoga saja, orang berTuhan itu akan selalu memiliki harapan.

P.S.
Mengenai agama sebagai candu masyarakat, saya sangat setuju sekali dengan pemikiran anda tersebut. Bahkan saya kira kekuatannya melebihi candu, agama selalu memberikan harapan kepada orang-orang tertindas bahwa ada sesuatu yang sangat berharga menunggunya di sana, sebuah pembebasan, sebuah imbalan. Mungkin karena itulah mereka menjadi tahan banting terhadap berbagai macam kesusahan hidup ini. Tidak seperti orang atheis yang tidak pernah menemukan harapan. Harapan apa? Lha wong Tuhan itu tidak ada, apa yang mau diharapkan?! Penelitian juga membuktikan bahwa orang atheis lebih cepat mati, kalau tidak bunuh diri, yah masuk rumah sakit jiwa macam Nietsczhe. Semoga ia tidak bertemu Tuhan setelah mati. Bertemu Tuhan? Mengharap pada siapa ya biar tidak bertemu Tuhan?

****

Tidak semua hal kita ketahui. Di antara yang kita ketahui, hal itu belum atau tidak sepantasnya diketahui orang lain. Di antara yang tidak kita ketahui, memang lebih baik selalu demikian (tidak mengetahuinya). Semua objek material pengetahuan dicakup oleh setiap pernyataan di atas.

****

Alangkah tergesa-gesanya manusia yang memaksakan suatu asumsi yang belum dia ketahui melalui premis-premis yang dangkal.

trims,
B.

****

ya, dan “hal hakekat tertinggi alam semesta” kerap dijadikan isu bagi kepentingan kelompok (agama) di tiap masanya (istilah kerennya : ditunggangi Twisted Evil).

Dan kenapa banyak filsuf yang ‘mati’ ketika berusaha menjabarkannya ?

“The philosophers should not only interpret the world but also change it” (Karl Marx Communist Manifesto)

interpret = menafsirkan, adalah sebuah labirin, pencarian di sekitar peti sementara jawaban ada di dalamnya.

maka jika Tuhan belum mati yang ada selama ini dihadapanmu hanya DIA, dan bukan kamu.

“manusia akan terus mencari meskipun tak tahu apa yang ia cari”

setuju dude..

jika kehancuran sudah mencapai puncaknya maka yang baru akan datang. Persis cerita, Nuh, banjir besar adalah bencana bagi yang satu tapi kebebasan bagi yang lain.

agama memang sedang bangkit, ibarat kanker mereka sudah akut semakin membesar saling menonjolkan diri untuk akhirnya saling bertabrakan dan ….. ???! Apakah kamu berikut yang akan tampil, hey free-thinker ….?! Twisted EvilTwisted Evil

jika untuk mengendalikan nafsu liar saja harus menggunakan manipulasi ketuhanan, berarti ada yang mengambil keuntungan besar dari ‘mengendalikan nafsu liar’ manusia. Mungkin itu berhasil di zamannya, tapi dunia terus berubah. Penjara dari bambu tidak bisa lagi memenjara tahanan sel besi. Very Happy

kesimpulan anda terlalu prematur..
bahkan seorang kriminal sekalipun punya harapan.
andai Lenin tidak punya harapan negara Uni Soviet tidak akan pernah hadir di peta dunia. Tidak perlu Tuhan untuk memiliki harapan, kecintaan anda kepada sesama, kecintaan anda kepada anak, kecintaan anda kepada negara sudah cukup menjadi sebuah harapan. Dan kalau mau jujur, dalam diri orang beragama pun calon suami/istri atau pacar lebih diharapkan dari kehadiran Tuhan itu sendiri ?

fight your shadow ! Twisted Evil

atheis mati karena tidak punya harapan ? itu atheis malas.
Apa anda kira Nietzsche menulis buku lantas dia pandai dihadapan saya ? Saya lebih punya kesempatan untuk mengetahui banyak hal yang Nietsczhe belum ketahui. kalo dia gila ya jangan salahin gua….. Twisted EvilTwisted EvilTwisted Evil

Dan satu lagi.. saya rasa sungguh kasihan orang yang percaya Tuhan kalau hanya sekedar untuk dibanting-banting (martir, tahan banting). Mungkin bukan tahan banting, tapi TAKUT atau SUNGKAN sebab masyarakat tempat dia tinggal mempercayai agama itu, atau ortunya juga beragama itu. Karena begitu lemahnya mereka hingga ketakutan, dan kehilangan kesempatan untuk menjadi diri sendiri.

“what does not kill me make me stronger” (Friedrich Nietzsche)

and i wouldn’t let God ‘kill’ me, i’m getting stronger !

****

kalo anda sudah mengerti perbedaan al qur’an dari yang lain… dan tau isinya, pasti anda juru selamat yang dinanti-nanti semua orang !

are you ?

krn kitab suci di-klaim sbg konsep kesempurnaan hidup manusia, manusia sejati, manusia beneraaan…..! (itu kata nabi)

pada kenyataannya, anda hanya sekedar berasumsi kalo ‘itu bener seperti kata nabi’ (atau kata ustad atau kata ortu?). Pokoke yakiiiin aja lah….! kalo dipelajarin semua dijamin pasti bener laaah….!

gw percaya kitab suci ada benernya, sejauh dia selaras dengan realita yang ada, ayat berikutnya akan menjadi inspirasi bagi fenomena yang lain. Tapi bukan berarti harus menelannya mentah-mentah, gak bisa lewat begitu saja tanpa ‘kulo nuwun’, harus dipergulatkan dulu, dinegasikan dulu, diantitesiskan dulu, dibanting dulu ! kalo itilah kampusnya : DI MAPRAS dulu !

tahan banting gak nih atau ecek-ecek gak nih…?
cek lagi pentium berapa nih…?
original apa ngga…?

kan muhammad bilang pertama kali begitu, sebelum ada ayat yang lain : IQRA’! IQRA’! IQRA’! cek..! cek..! cek lagi…! uji ! uji ! uji lagi…! banting ! (pecah gak?) banting lagi ! (pecah gak?) banting lagi ! (naah…) selaras sama falsifikasinya Popper ‘kan

yesus juga sama : “Ketahuilah Kebenaran, dan Kebenaran itu seharusnya memerdekakanmu” (Yohannes 8 ayat 32)

jadi gak asal telan. maka dari itu gw memilih keluar dari semua batas untuk bisa melihat kebenaran secara utuh. Lintas zaman, lintas dimensi.

ada penyakit serius yang menghinggapi orang beragama sekarang yaitu : FANATIK dan PREMATUR. Orang yang memeluk suatu agama dan MEMPERTONTONKAN STATUS AGAMANYA (entah itu ktp, ritual, simbol) itu sudah merupakan kefanatikan itu sendiri dalam kadar-kadar yang berbeda. Lo nganggep diri lo gak fanatik karena gak ikut nge-bom aja atau gak ikut ormas radikal, aja kan.

orang gak perlu tau agama lo apa, cukup cinta kasih jadi agama.
imagine there’s no religion, is there no love too ?

Twisted Evilgimana ?

****

Ode of atheism  (Seharusnya, Origin of Atheism)
Atheisme yang diderita oleh Barat memang konsekuensi logis dari kemajuan yang mereka terima. Ia tak lain dari sebuah split personality yang tak pernah mampu mendapatkan kepuasannya dalam Kristianitas. Seperti Tyler Durdeen yang merupakan produk sebuah insomnia, Id, atheisme akan selalu berkembang pada diri orang yang merasa kesepian dan terlibas oleh hiruk pikuk keteraturan dan kedisiplinan yang membosankan. Matrix sendiri adalah sebuah sindiran, betapa kehidupan telah sedemikian terekayasa. mulai dari bangun, berpakaian, kerja, hingga bersenang-senang, semua selalu memiliki rasionalitas. automaticisme, spontanitas yang dilumpuhkan, orde hegemonik yang mendikte segala tindakan. Sama seperti aturan represif zaman Victorian, saat seksualitas terbelenggu dalam, sebuah abad akal yang pada akhirnya justru memenjarakan manusia kedalam tipologi-tipologi yang membedakan antara yang wajar dan menyimpang. Kebudayaan yang penuh kegilaan, kata Michel Faucoult. Dan mereka anak-anak Marx, hanya memberontak kepada buah kebudayaan mereka sendiri, yang telah menurunkan mereka ke neraka dunia. Kita butuh pembebasan! Dimana candu-candu agama terbuang ke bak sampah, tergantikan secara sistematis dengan ilusi-ilusi romantik city of Joy. Tuhan telah tumbang, dan kita mengisinya dengan tuhan-tuhan baru. HIV, Free sex, necromanchy, Flower Generations, environmentalisme, perjuangan terhadap kapitalis sejati. Mereka menjadi para sophis yang mengkhotbahkan kebenaran untuk sesuatu yang dinamakan perjuangan. Tapi apa itu perjuangan? bahkan tatkala itu sebuah humanisme, gestapo (polisi rahasia, intel) masih merajalela, membungkam mereka yang tak pernah setuju dengan revolusi, membuangnya jauh ke Siberia. similiaritas yang serupa dengan auschwitznya Hitler. Dan masa-masa ketika ideologi menjadi sebuah agama, adalah masa-masa suram yang tak pernah terperi dalam sejarah kemanusiaan. Mungkin, hanya mahasiswa Marxis Prancis yang tak pernah merasakan tangan besi Stalin, dan perjuangan tak lebih dari unjuk keegoan. seperti Sartre, mantan anak altar itu, pendiri existensialisme. Dan Tyler Durdeen menjadi jauh lebih berkuasa dari sang pemilik sah.

Oleh karena itu, atheisme selalu menjadi antitesis dari Kristianitas. Sama seperti Nietszche, Sartre, Faucoult, atau mungkin juga Marx, yang berasal dari keluarga Kristen yang saleh, pengikut jalan Kristus. Merekalah Tyler Durdeennya Barat. Ekses dari Kapitalis, yang juga anak sah dari Protestanisme (lihat tesisnya Max Weber – Protestanism’s Ethics & raise of Capitalism), tapi kenapa mereka tidak puas? Adakah yang hilang di sana? Yang membawa mereka kepada kehampaan? Akankah para rasionalis ini membutuhkan sosok Neo, sang juru selamat, yang mengorbankan jiwanya untuk membebaskan umat manusia dari kehancuran? Hey, lihat! struktur keduanya serupa. Kedua antitesis ini memiliki watak yang sama. Mereka seperti cermin satu sama lain. Bagaimana tidak, toh mereka adalah satu. satu tubuh dengan kepribadian yang berbeda.

****

cool dude.. ode of atheism Smile

setiap pengetahuan membutuhkan martir sebagai tinta kesepakatan dengan masa depan. Dan setiap martir tanpa pengetahuan adalah suara sumbang dari masa lalu.

Tanpa pengetahuan tak ada martir sejati. (dedicated to Galileo and Socrates)

Very Happyegalite, fraternite, liberta

 

Ini adalah rangkuman jawaban saya di klub Obrolan Sastra, Seni & Filsafat di grup Friendster.

Some one post: 

ayo, I challenge u to answer these questions.

1. Klo ada Tuhan, kenapa ada perang? malah perang agama lg

2. Klo ada Tuhan, kenapa dia buat byk agama?

3. Klo ada Tuhan, kenapa byk ketidakadilan di dunia?

4. Klo ada Tuhan, kenapa ada kaum kapitalis yg hidup kaya terus dari lahir walaupun jahat terus n kaum buruh yg miskin terus dari lahir walaupun baik?

Pliz, answer these qws!

someone!

 

My reply:

 

Saya anggota baru klub ini, dan saya tertarik menjawab pertanyaan dari 00- Rubenz.

Menurut saya, kenapa pertanyaannya tidak dibalik saja. Kalau tidak ada Tuhan, apa benar perang tidak ada? Atau, kalau tidak ada Tuhan apa benar, ketidakadilan berkurang, atau kapitalisme tidak berjaya? Mungkin juga dibuat premis baru, Kalau Tuhan tidak ada apa kapitalis yang hidup kaya tapi jahat dan kaum marhaen yang miskin tapi baik juga tidak ada? Yang menjadi masalah di sini, saudara 00- Rubenz memandang Tuhan sebagai sebuah implikasi logis semata. Mungkin saja ia beranjak dari premis Tuhan yang serba Maha itu. Maha Kuasa, Maha Perkasa, atau juga Maha Sempurna, kemudian membandingkannya satu persatu dengan realitas empiris. Tentu saja kita paham bahwa alam logika itu bersifat tautologis, kebenarannya sudah ada terlebih dahulu sebelum kita menarik kesimpulannya, karena itulah ia tidak dapat digunakan untuk menolak pengetahuan empirik. Kebalikannya, pengetahuan empirik dapat kita jadikan argumen untuk mematahkan nalar logika. Dalam hemat saya, premis “kalau Tuhan ada” merupakan premis logis, sedangkan turunannya seperti “ada perang” dll., itu premis empirik. Sehingga, dari sudut pandang “kelas premis” perbandingan ini menjadi tidak seimbang. Dan di sinilah kita terjebak kepada sebuah dilema, karena dalam kasus ini, premis logislah yang dijadikan patokan untuk meng”hakimi” premis empirik. Bukan sebaliknya.

Sebenarnya, permasalahan seputar konsep Tuhan telah lama ada dalam sejarah filsafat. Hal ini menunjukkan betapa konsep logika Aristotelian tidak memadai lagi untuk digunakan dalam membahas suatu konsep hegemonik semacam Tuhan. Ada banyak sekali usaha untuk mengatasi kekurangan ini (maaf sudah lupa Smile , tapi bisa dicari kok di buku teks tentang filsafat agama). Dari sudut pandang penulis, saya melihatnya sebagai sebuah ungkapan kekecewaan, menggunakan konsep nalar Marxisme mengenai pertentangan kelas. Bagi saya, sebenarnya itu bukan masalah. Yang jadi soal adalah, apakah anda percaya kepada Tuhan? Karena jika tidak saya akan mengajukan pertanyaan: Apa orang yang tidak percaya Tuhan dapat menjamin sebuah dunia yang tanpa perang, tanpa ketidakadilan, dan tanpa ketimpangan sosial? Namun, kalau anda benar-benar percaya Tuhan: Apa sumbangsih kepercayaan anda tersebut bagi perdamaian dunia, keadilan sosial, dan pemerataan kekayaan?

Well, mungkin kita harus mendefinisikan ulang konsep Tuhan. Bagiamana?

 

The Poster, replys my reply:

 

Thanks 2 all…¬†Smile¬†

Emang, saya suka menggali dan mengenal lebih jauh ttg tuhan, apakah dia itu ada atau tidak.

seju2rnya saya sendiri juga mulai atheist 90% (agnostik bahkan, tp tulis christian aja di FS, mslhnya klo ka2k ngliat bisa berabe, hahaha).

Permasalahannya, sy cuma mencari tau tujuan hidup kita setelah mati, setelah mati kita ga ada yg tau ke mana kan?
dan, bila saya melihat soal pandangan tuhan dari sudut pandang Blaise Pascal (http://en.wikipedia.org/wiki/Pascal%27s_Wager) itu termasuk pandangan ragu2 dan sama aja mempermainkan tuhan dalam mencari keselamatan setelah mati.

Seju2rnya, ada juga yg mo saya jawab, yang soal apabila tidak ada tuhan, apakah tidak ada perang.
sekarang saya mo balikkan lagi, apakah anda yakin klo tuhan itu ada? saya bertanya dalam artian lain, bukan mentah2 seperti itu.

n soal kaya tapi sakit2an n miskin tp bahagia, itu cuma kebanyakan di sinetron kali, be realistic lah.
sebetulnya, org yg miskin itu yg lebih menderita.
yg q bilang kan kaum buruh n kapitalis, jd konteksnya adalah org miskin yg disikat habis waktunya n dikerjakan >12 jam oleh kaum kapitalis ini, klo begitu gimana?
siapa yg bahagia?
org yg miskin yg ga ada waktu utk kumpul keluarga ato org kapitalis yg bisa jalan2 ke Paris smbil nyantai2 sm istri, pacar, selingkuhan, anak, dll. Sad 

n emng bagus utk mendefinisikan tuhan itu, masalahnya ini menyangkut kehidupan setelah kematian kita.
apakah itu bener2 ada? ato qt langsung lenyap gitu aja?

“as long as there will be men, there will be wars” right? (itu kata einstein)
tuhan membiarkan adanya manusia utk berperang, berarti anda semua yakin (einsteinpun juga klo dari statementnya di atas) kan klo tuhan telah menakdirkan kita sebelum lahir utk masuk neraka ato surga sblm kita lahir bukan?

kenapa begitu?
ya… bisa dilihat dgn pasti, manusia pada dasarnya baik, tetapi pengalaman yg di luar kendalinya yg buat dia jahat (berdasarkan “as long as tehre will be man, there will be wars”). jg si pencetus WWII, Hitler, dia sebetulnya baik (dia sempat ikt jd misionaris lo), hanya saja dia sudah ditakdirkan utk jd jahat.

Saya tidak menggambarkan klo tuhan itu jahat.

Tp saya mo balik bertanya kpd kalian semua, apakah kalian yakin akan tuhan yg menguasai seluruh semesta?
saya mo balik bertanya jika anda percaya,
menurut common sense anda semua, apakah anda bisa menyatakan bahwa agama anda itu yg betul2 dari tuhan yg membuat universe ini?

saya berani menerima tantangan anda semua, n bisa di kirim lewat email sy, ruben_celebes@yahoo.co.id (hahaha, ke-pd-an).

okay?

auf wiedersehen alles! Very Happy 

 

Other replys on post

 

1. Klo ada Tuhan, kenapa ada perang? malah perang agama lg
=> karena Tuhan adalah hasil kreasi dari manusia sendiri yang bernama Nabi, dan agama sebagai institusinya. Dan manusia suka berperang. Maka agama adalah sebagai institusi perang (tidak jauh beda dg institusi seperti Kodam-Kodam dg korps2nya sendiri). Jadi jangan heran kalau dalam agama terkenal dg istilah “KAFIR”. Kata ‘kafir’ berarti maklumat perang. Dan tanpa Tuhan pun manusia suka berperang. karena memang demikian sifat dasar manusia.

2. Klo ada Tuhan, kenapa dia buat byk agama?
=> Justru karena ada Tuhan jadi ada banyak agama. Tuhan dibuat manusia sebagai refleksi atas apa yang ada di kepalanya (di kepala Nabi tentunya, sbg yg memproklamasikan Tuhan Yang Seharusnya disembah). Dan setiap manusia/nabi punya pemikiran yang berbeda dikarenakan jaman hidupnya yg berbeda pula.
Kalau tidak ada Tuhan, sudah pasti tidak ada agama bukan..

3. Klo ada Tuhan, kenapa byk ketidakadilan di dunia?
=> Justru karena ada Tuhan itulah terjadinya ketidakadilan, sebab dengan demikian manusia jadi dibatasi pola pikirnya oleh : AGAMA. Agama sebagai kerangka berfikir yang mungkin berguna di masanya tapi tidak berguna di masa kini. Kata “KAFIR” adalah cikal bakal ketidak-adilan yang mengalienasi manusia ke dalam kotak-kotak golongan menentukan mana yang boleh mendapat perlakuan baik dan mana yang tidak atau bahasa kerennya KKN.

4. Klo ada Tuhan, kenapa ada kaum kapitalis yg hidup kaya terus dari lahir walaupun jahat terus n kaum buruh yg miskin terus dari lahir walaupun baik?
=> Kalo ini gak perlu ada Tuhan, ini karena ada orang jahat yang tersistem dan orang baik yang tidak tersistem (sporadis). Dan salah satu yang banyak sumbangannya dalam pembentukan kelas borjuis dan proletar ini adalah AGAMA. Agama dibutuhkan pemerintah (borjuis) untuk melestarikan kekuasaannya, dengan cara mengontrol rakyat lewat ketakutannya dan ketaatannya di depan pemuka agama yang bergabung dalam lembaga agama yang disahkan oleh pemerintah itu sendiri. 

Maka kata Marx : Kalau ingin menghancurkan tatanan lama dan membangun yang baru, lebih dulu tanggalkan kepalsuan (agama) yang melekat pada diri kita. Sebab tanpa itu, ibarat membangun istana pasir. Membangun untuk membangun lagi yang serupa.

 

I reply poster’s

 

Dear Rubenz,

Sebenarnya ada ungkapan yang cukup tendesius seputar filsafat, bahwasanya ia tak lain dan tak bukan hanyalah catatan kaki terhadap pemikiran filosofis Plato. Ungkapan ini tidak mengada-ada, karena apa yang dibicarakan dalam filsafat, hanya berputar-putar sekitar masalah “ada” – Being, sein, wujud – saja. dan sejak Plato menulis risalah-risalahnya hingga saat ini, tidak ada kemajuan berarti saat para filsuf hendak mencoba menjawab apa itu “ada”? Saya sendiri sangat berempati kepada pencarian anda terhadap Tuhan. Tapi¬†trust me, filsafat itu sangat berbeda dengan sastra yang emosionil, jadi simpan dahulu pertanyaan-pertanyaan anda yang berapi-api itu kedalam laci, dan mari berpikir secara jernih.¬†Smile¬†

Tuhan itu konsep yang pelik dalam filsafat, bukan saja kehadirannya dalam kehidupan manusia tidak empiris, tapi karena Ia terlanjur dipersepsi sebagai sosok yang Maha Besar, nyaris tanpa batasan. Padahal kita tahu bahwa filsafat sendiri sangat menyukai batasan (ingat definisi, to define means to limit). Belum lagi konsep agama anda (baca: Trinitas) yang secara logis benar-benar merepotkan dan susah untuk diterima. Bila kemudian Kristianitas Barat menggunakan konsep ini sebagai landasan teologis mereka, itu tak lain karena filsafat sudah begitu mapan jauh sebelum kelahiran Kristus, dan tak ada jalan lain selain meng-kristenkan Plato. Kamu bisa melihat argumen-argumennya Thomas Aquinas dia teolog Kristen terbesar.

Karena lebarnya masalah – bisa-bisa saya buat skripsi di group ini¬†Smile¬†– saya hanya mengambil satu perspektif saja tentang Tuhan, dan ini perspektif yang paling umum. Hubungan antara Tuhan dan manusia adalah hubungan antara yang tak berhingga dengan yang berhingga. Karena ketimpangan ini kita hampir-hampir tidak dapat menyentuhNya secara langsung. Apa yang kita maksud dengan Tuhan dalam kepala kita, yang sangat kecil ini, tentu saja tidak berarti apa-apa dibanding dengan “ada”Nya. Karena itu sangat tidak bijak “menghakimi” Tuhan dengan pemikiran yang sangat terbatas. Hal ini menjelaskan kenapa agama-agama timur semacam, Budhisme, Hindu, Konfusianisme, dan Taoisme, tidak pernah memiliki konsep yang jelas mengenai Tuhan. Karena mereka enggan membahas sesuatu yang berada di luar jangkauan pemikiran mereka.

Sebenarnya, anda bisa saja melewatkan permasalahan ini dan mencari Tuhan dalam Iman Kristen anda. Menurut saya, agama memiliki otoritas yang signifikan dalam membahas Tuhan. Karena saya muslim, saya menawarkan sebuah konsep yang lekat di dalam al-Quran yakni konsep bila kayfa. Ia adalah konsep yang selalu membedakan Tuhan dari berbagai macam hal. Kalau kita bertanya, apakah Tuhan itu memiliki tangan? iya, tapi bagaimana tangan Tuhan? Berdasarkan konsep ini kita hanya menjawab tidak tahu, karena Tuhan itu begitu jauh, begitu berjarak dan kita tidak akan pernah bisa mencernanya. Atau dalam bahasa Kristen, Tuhan bekerja secara misterius, dan kita hidup di dalamNya, bagaimana pula kita bisa mengerti? Dalam bahasa filsafat, Tuhan adalah sebuah bentuk pengalaman. Sebuah Solipisme. Pikirkan tentang rasa sakit, apakah pengalaman sakit antar seseorang dan orang yang lain itu sama atau berbeda? maka demikianlah konsep mengenai Tuhan, begitu subjektif.

Sayang sekali, karena bentuk pengalaman ketuhanan yang sangat subjektif tersebut, kita malah mengkaitkan konsep Tuhan dengan ego kita. Saat anda tersinggung karena suatu perbedaan pendapat mengenai Tuhan, sebenarnya itu hanyalah persoalan ego semata. Karena kita seringkali tidak siap menerima konsep yang tidak sesuai dengan ke”Aku”an kita, malah membuat kita terjerumus kepada kebencian dan permusuhan. Mungkin, itu awal dari perang-perang yang mengatasnamakan agama, bahkan lebih absurd lagi, mengatasnamakan Tuhan. Bukankah realitas Tuhan yang sesungguhnya tidak terjamah. Kalau begitu, kenapa sih kita harus percaya kepada Tuhan? Entahlah, jawabannya barangkali muncul dari Biologi. Mengenai kecenderungan untuk menyembah sesuatu, Menuhankan sesuatu, itu sudah tertanam di DNA kita sejak purba. Kalaupun kemudian orang tersebut berubah menjadi atheis, akan selalu ada kerinduan untuk menggantikan Tuhan. Dengan apa? Tanya saja para ateis.

Kemudian bagaimana kita memaknai Tuhan? Dari tulisan anda, terbesit pencarian akan hidup setelah mati, bagaimana nasib kita? Ya, saya paham, selalu saja terdapat hubungan antara percaya dengan Tuhan dengan konsep keselamatan. Bagi saya, ini adalahselling point agama-agama di dunia. Selalu saja terdapat imbalan bagi mereka yang mau mengikuti sebuah ajaran. Dalam Kristen, misalnya ada klaim: tidak ada keselamatan di luar Kristus. Dalam Islam juga begitu, sama seperti Yahudi, dsb. Apa ini salah? Tidak juga, karena agama cenderung berurusan dengan sesuatu yang massif, maka demikianlah juga klaim-klaimnya, yang terkadang begitu dangkal. Kita seperti beragama dengan para pedagang. Tapi, kalau anda benar-benar serius untuk mencari Tuhan, anda pasti akan mencoret pikiran tersebut dari daftar pertanyaan anda. Karena yang seharusnya ditanyakan adalah, apakah Tuhan benar-benar mencintai saya?

Kata cinta, kasih, itu banyak sekali dalam kamus Kristen. Tapi, kenapa juga masih memikirkan keselamatan diri sendiri, egois! Kalau kamu benar-benar mencintai Tuhan, surga dan neraka sudah tidak relevan. Entah jiwa kita membusuk selamanya di neraka, atau apapun keinginan Tuhan, itu bukan masalah. Rabiah, para sufi, mistikus, rahib Kristen, mereka semua menggunakan pendekatan ini. Yang dicari hanyalah bagaimana agar Tuhan ikhlas kepada kita, dan bagaimana kita mengejewantahkan cinta kita kepada Tuhan. Lupakanlah agama, sekat-sekat itu sudah tidak berlaku lagi saat anda mencapai esensi cinta ini. Seperti sang kekasih bertemu dengan pujaan hati. cinta paling murni tanpa pamrih, jauh melebihi novel-novel picisan. Orgasme immateri, ekstase. 

Untuk mencinta kita butuh mengetahui. Lalu bagaimana caranya mengetahui, Tuhan? Ada sebuah kredo yang cukup terkenal di dunia tasawuf: “Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa Rabbahu”, siapa yang mampu memahami dirinya maka ia juga telah memahami Tuhannya. Mungkin kita harus berangkat dari sini, dari diri kita, dari jiwa kita, dari keterbatasan kita, dari keegoisan kita, dari keangkuhan kita. Dari diri kita yang paling dalam.

Selamat mencari Tuhan!

 

Other replys on my reply

Dear HP..
oce, i get your point.
klo boleh sya tarik ksimpulan..
sdut pndang anda pan-teologisisme.
Tuhan dalam diri tiap makhluknya..
tuhan tidak kemana – mana tp tuhan ada dimana – mana.
tp sekali lg, ragukan semua hal (R.Descartes), mngkin, tuhan yg dmksudkn sodara rubenz bkn tuhan di atas, maha kuasa, krna dia tidak yakin tuhan ada krn tdk trtngkap indrawi (agnostis Рmaterialis sekali ya??).
dan lagi to be is to be perceived (Berkeley).
tuhan ada krna persepsi sgt mungkin bkn?
cm mnanggapi, sperti ad aturan tdk trtulis dlm filsft,¬†“para pemula! jngn dulu tabrakkan agama dan filsafat, krna agama punya filsfat, dan filsft punya agamanya sendiri..”
tq.

 

Poster replys on mine and others

Thanks 2 all, kalian smua emng kool! Cool 

emang, sebetulnya topic yg saya post ini merupakan topic yang dangkal, dan itu sengaja saya buat utk menarik banyak orang, sebetulnya saya mengganti topik ini dengan

“Benarkah Dia Tuhan yng kita sembah?”

Permasalahannya, sudah sy bilang, emng saya sudah 90% atheist.
mungkin banyak dari kalian tidak setuju dengan pemikiran egois saya ttg keberadaan Tuhan sendiri.

Emang, pemikiran manusia hanya terbatas, qt ga tau apakah Tuhan itu ada atau tidak.

Yang saya juga bingungkan adalah buku “The Secret” itu sendiri. Buku itu terdengar sedikit aneh karena yg ikut partisipasi dalam pembuatan buku itu merupakan org2 terkenal. Yang saya bingungkan yaitu buku itu menggantikan Tuhan dengan kekuatan pikiran manusia. Manusia mempunyai kekuatan pikiran yang bisa dianggap merupakan pemikiran dewa2 dan tuhan2, jadi di buku itu (walaupun tidak langsung) kitalah tuhan dari diri kita.

saya juga sempat berpikir tentang agama Hindu, kenapa mereka juga mempunyai pikiran bahwa tingkat reinkarnasi tertinggi di dunia adalah menjadi manusia, kalau manusia itu berreinkarnasi ulang (dgn samsara dlm hidupnya) maka ia akan menjadi dewa. dan ini bukan hanya di Hindu, di Kristen juga (walaupun tidak secara langsung), Kristen mempercayai apabila kita telah dibangkitkan dan menjadi penghuni kerajaan surga, maka kita akan memerintah dengan Tuhan di surga.
Pertanyaannya, apakah di surga masih ada kasta bila kita memerintah di surga dan di surga itu ada yang diperintah?
Menurut kesaksian banyak org Kristen yg mati suri dan Alkitab sendiri tentunya, di surga segalanya dilakukan bersama2 tanpa ada yang memerintah.
Jadi apa maksud maksud memerintah dengan Tuhan di surga itu?
Apakah akan ada selanjutnya org di bumi yg akan kita teliti dan koreksi selanjutnya? (kebanyakan agama ngajarnya gini lho!)

Sebenarnya, keberadaan dari agama yang tidak pasti itu apa? apakah kita hanya mengikuti sang pembuat2 agama itu? mengapa tidak terpikir oleh kalian untuk menjadi pembuat agama menurut versi kalian? (yang baik ajarannya tentu saja)
Apakah karena sedikit yang akan mengakui anda apabila anda bergerak membuat agama sendiri dan apakah karena kalian hanya mengikuti agama yang dibawa sejak lahir (sama aja menjiplak tanpa tau konsep2 dasar pembuat agama itu kan? padahal mungkin saja konsep2 ini sudah tidak bisa berlaku lagi sekarang) makanya anda takut?

Menurut Bung H.P yg beragama Islam, apakah tidak terpikir oleh anda sendiri ayat2 di Alquran yang mengatakan “Isa adalah rohulullah dan Kalimatullah” (pembenaran kata dibutuhkan), “Isa akan menjadi imam mahdi di pengadilan terakhir”, “kaum nasrani diberi makan oleh dari atas” (semua kitab dan ayatnya saya lupa).
Saya juga sempat tahu banyak tentang Al-quran. Karena sewaktu SMP saya merupakan Kristen yang fanatik (dulu lho).

jadi, dalam agama-agama yang dibuat oleh manusia ini (semuanya) yang akhirnya membuat banyak perang, semuanya itu tenyata dilandaskan oleh keragu-raguan juga (semua agama).

klo ada yang mungkin mau men-counterattack saya, boleh aja, klo perlu langsung ketemu ato lewat telpon, supaya saya juga meng-counterattack anda dengan pertanyaan yang ga akan bisa anda jawab!

okay, danke und auf wiedersehen alles! Smile

 

I replys on other’s

Dear Rice,

Pan-Teologisme? Apa itu seperti maksud Kuntowijoyo, pemikiran serba teologi yang cenderung mengalienasi rasio? Bukankah itu juga yang menjadi penolakannya, bahwa dalam Islam itu tidak pernah ada pan-Teologisme, karena sejak lama sudah ada pertalian yang kuat antara wahyu dan rasio. Kalau itu yang anda maksud, tentu saya tidak akan pernah memaksudkan ide-ide saya tadi sebagai model pan-teologisme. Tapi, kalau yang anda maksud itu sebagai mistisisme, bisa jadi saya setuju.

Ketika renaissance, Barat sangat tertarik kepada bentuk filsafat Yunani yang lebih rasional dan melupakan bentuk lain dari filsafat, yaitu mistisisme. Jenis Filsafat ini, adalah Neo-Platonisme yang mendapat tempat memadai dalam filsafat Islam. Meskipun demikian, Neo-Platonisme juga mendapat tantangan dari umat Islam sendiri. Setelah kehancuran Baghdad oleh invansi Mongol, Filsafat hampir musnah di seluruh dunia Islam, kecuali di Iran yang Syiah. Di sinilah, Neo-Platonisme beradaptasi dan berkembang menyatu dengan pemikiran tasawuf serta bertrasnformasi menjadi mistisime Islam. Yang unik dalam Mistisime ini adalah penggunaan rasio yang memiliki porsi yang sama dengan penggunaan wahyu dan pengalaman kebatinan khas tasawwuf. Sekedar pelurusan, yang saya maksud dengan mistisisme adalah sebuah usaha untuk mencintai Tuhan, dan sama sekali tidak tidak ada hubungannya dengan klenik, sihir, black magic, tarot, astrologi, dan lain sebagainya, yang kita kenal sebagai khurafat.

Dengan mengambil sisi rasional dari filsafat, Barat menjadi sangat berkembang, namun juga kering dalam penghayatan mereka tentang Tuhan. Patut disayangkan, sebenarnya mistisime yang serupa di dunia Islam juga berkembang dalam Gereja, tapi seiring revolusi Prancis, dimana agama berubah menjadi musuh dari kemajuan,ia kehilangan perannya dalam dunia filsafat. Saat itulah, atheisme berjaya dan manusia Barat berkembang dalam kekosongan. Mereka yang ingin terhindar beralih kepada Gereja, yang juga disayangkan, malah menolak mentah-mentah bentuk pemikiran rasional dari filsafat. Mereka lebih mengandalkan Kitab Suci sebagai pandangan hidup mereka. Dan di sinilah kemudian muncul Pan-Teologisme, yang saya kira merupakan bentuk ekstrim dari Sekularisme. Pemisahan Negara dengan Gereja, dalam ilmu pengetahuan berarti pemisahan antara Sains dan wahyu. Berikan kepada Tuhan hakNya, dan berikan kepada raja haknya.

I replays on poster’s

Dear Rubenz,

Kita semua juga ruhullah, ruh Tuhan, karena ruh manusia itu ya memang berasal dari Tuhan. Karena Tuhan yang menciptakan kita dan memberikan kita kehidupan. Tentang Kalimatullah, saya rasa para nabi itu semua Kalimat Allah. meniru bahasa Sukarno, penyambung “lidah” Tuhan¬†Smile¬†. Dua persoalan tadi sangat banyak dibahas dalam dunia Islam, terlebih tafsir. Ini disiplin ilmu yang sangat teknis dan kompleks, saya tidak bisa memberikan jawabannya begitu saja. Bahasa al-Quran itu singkat dan padat, setiap detilnya menyimpan petunjuk tersendiri, bahkan untuk orang-orang yang sering membacanya setiap hari. Selalu saja ada hal baru yang kadang terlewat dalam pembacaan sebelumnya. Mungkin karena itulah ia disebut mukjizat. Mukjizat kata-kata. (untuk hal ini terserah keimanan masing-masing)¬†Smile

Melihat Sequel “Batman Begin”, “The Dark Knight”, saya seperti menyaksikan orkestra kolosal peperangan antara yang baik dan jahat. Bukan dalam bentuknya yang hitam putih, sebagaimana kita saksikan dalam drama-drama sekolah dan cerita-cerita orang tua kita, tapi berwarna-warni. Ia penuh dengan intrik, kepentingan politik, dan jalinan yang dalam antar individu. Dari sudut pandang yang berbeda, orkestra ini bisa muncul sebagai sebuah satir, sebuah kritik, atau sebuah martir dalam terminologi Kristianitas Barat. Dalam bahasa agama, ia bisa merepresentasikan kehidupan kita – Harvey Dent, two face,¬† petinggi negara, ataupun manusia biasa – yang terombang-ambing antara kecenderungan jahat dan kebaikan. Sedang para pembisik itu, Batman, wakil dari niat baik, dan Joker, kejahatan dalam bentuknya yang paling murni, tengah bertarung di luar sana. Karena ini adalah pertarungan, jelas wilayah yang ada menjadi amoral dan relatif. Si putih bisa sekejam si hitam, dan si hitam bahkan bisa setulus si putih – dilihat dari sudut pandang manapun, niat jahat Joker itu ternyata betul-betul murni dan tanpa pamrih, khas seorang psikopat atau idealis garis keras. Yang kemudian menjadi pertanyaan penting di sini, bagaimana kita merespon semua itu? Akankah kita menyadari motif-motif tindakan kita – entah yang baik ataupun yang jahat, dan berbuat sesuai “fitrah” kita? Atau lebih baik membiarkan diri kedalam ilusi orang lain sebaik apapun itu? – lihat bagaimana para polisi GPD (Gotham Police Dept.) yang ketakutan berusaha meyakinkan Dent akan ketokohannya sebagai seorang pahlawan di tengah masyarakat yang tentu saja hanya sebuah ilusi.

Simetri

Sebenarnya, bagian yang menarik dalam kisah ini bertutur tentang sisi gelap yang boleh jadi ada dalam diri kita masing-masing. Bagaikan sebuah koin keberuntungan yang dilempar jauh oleh si Jaksa Tinggi Dent, sisi gelap tak lain dan tak bukan hanyalah bentuk kepribadian kita yang berusaha kita sembunyikan. Ia menghantui kita dengan eksistensinya dan memaksa kita pada titik paling ekstrim untuk berkenalan dengan kita yang sejati. Semakin kita lari dan mengingkarinya, semakin kuat juga ia muncul. Pada saat itulah, ia hadir sebagai rasa terisolisasi, keterasingan, dan subjektivitas. Hal ini terasa kuat pada karakter Bruce Wayne, yang digambarkan sebagai bitter hero, dan terepresentasikan dengan matang pada “Batman Begin”. Trauma masa kecil, dimana orang tuanya terbunuh oleh penjahat, membuat ia secara sadar terobsesi melakukan balas dendam dan berempati kepada para korban. Hanya saja, ia bukan tipe manusia yang mau menonjolkan diri. Ia lebih memilih bersembunyi di balik topeng dan membuat sebuah kepribadian baru yang berbeda dengan Wayne, sang miliarder. Tampaknya pula, kepribadiannya yang terbagi itu, membuatnya sakit. Semakin ia menyatu dengan figur Batman, semakin ia hidup dalam bayang-bayang semu sosok Wayne yang libertine dan hura-hura.

Berbeda 160 derajat, Joker hadir sebagai sosok antagonis yang begitu fasih. Seorang psikopat murni yang tidak pernah mengalami split personalityseperti Bruce Wayne. Kecerdasan dan darah dingin yang mengalir begitu lancar membuat ia mampu membangun tingkat kejahatan yang sangat kejam, hal mana terlihat jelas dalam akting jenius Heth Ledger. Yang menjadi masalah kemudian adalah sosok Dent. Pada mulanya ia seorang hero, pembela kebenaran, dan secara sadar ia nikmati status kepahlawanannya itu, namun kemudian ia berubah haluan menjadi jahat dan bermusuhan. Bila kita bandingkan dengan Wayne, maka ia berada pada sisi yang berseberangan. Polaritas yang terbangun bahkan secara liniar: Wayne – Dent, Batman – “two face”. Sayangnya, kemunculan Aaron Eckhart sebagai antagonis tidak tergarap dengan lengkap, barangkali Christopher Nolan hendak membangun sebuah simetri dengan mengurangi kehadiran tokoh Wayne dan memperbanyak kemunculan Batman, hal mana ia lakukan dengan mengeksplorasi karakter Dent lebih banyak daripada two face. Satu lagi tokoh protagonis yang muncul adalah komisaris Jim Gordon, di sini ia adalah antinomi dari kejahatan. Dedikasinya yang tinggi pada pekerjaan, reputasinya yang tanpa cela, membuat dirinya hadir sebagai pendamping yang pas bagi Batman, dan keduanya sama-sama bangkit setelah mengalami trauma dan rasa prihatin yang dalam. Bila kita buat sebuah peta, maka komisaris Gordon berada di kuadran bagian kanan berhadapan langsung dengan Joker yang ada di kuadran bagian kiri. Yang menarik, Batman dan “two face” juga berhadapan secara langsung pada kuadran atas dan bawah, berdasarkan sifat protagonis-antagonis yang mereka perankan dan kecenderungan mereka untuk berayun ke salah satu dari dua sisi kuadran tersebut.

Kecenderungan simetri Christoper Nolan rupanya pula, berlanjut dalam alur cerita film ini. Pertama-tama, konflik muncul atara tiga tokoh protagonis berhadapan dengan tiga tokoh antagonis (Joker, pengusaha Lu, dan para gengster). Kemudian mengecil menjadi konflik dua lawan dua (Batman – Komisaris vs. Joker – “two face”), dan mengerucut kepada konflik satu lawan satu antara Batman vs. Komisaris/ polisi. Konflik inilah yang kemudian digunakan oleh sang sutradara untuk menutup cerita yang sepertinya tidak ada habisnya itu. Sebenarnya, saya sangat heran dengan keputusan Batman untuk memasrahkan dirinya menjadi bagian dari musuh, apa itu merupakan bentuk dari kecenderungan martir masyarakat Barat, ataukah sebuah bagian dari penyangkalan dan penyesalan diri, atau bahkan proses pembentukan karakter baru yang antagonis? Bayangkan, ia sudah berada di atas angin pada saat itu dan nyaris tidak memiliki lawan lagi, yang harus ia lakukan sebenarnya sederhana, tampil ke publik dan memantapkan posisinya sebagai seorang hero. Tapi ia tidak melakukan hal tersebut.

Hero

Penjelasan demonstratif akan masalah ini, sebenarnya sudah disodorkan oleh Nolan di tiga perempat akhir bagian film. Setelah kematian Rachel (Maggie Gyllenhaal),¬† Bruce Wayne merasa pantulan yang keras dari aksi gilanya tersebut telah menohok dirinya dengan tajam, ia kehilangan kendali terhadap situasi, terbaca jelas dalam dialog-dialognya yang suram dan penuh rasa penyesalan. Keinginan membangun sebuah orde yang beradab, justru memunculkan kekacauan yang semakin besar. Kekecewaan pun semakin bertambah tatkala Dent berubah menjadi “two face” dan ia terpaksa pula kehilangan salah satu pembantu setianya Lucius Fox, diperankan dengan pas oleh Morgan Freeman. Usahanya benar-benar hancur. Sepertinya segala suatu yang ia lakukan malah menimbulkan malapetaka, kalau sudah demikian, keputusan menarik diri adalah hal yang paling tepat. Istilahnya, mati kutu. Alasan tersebut sebenarnya bisa saja diterima, namun Nolan melupakan satu faktor penting, Komisaris Gordon. Orang nomor dua di kota Gotham ini berhutang nyawa kepada Batman, dan saya kira ia akan selalu menjadi pengikut setianya. Bila ia mampu bersilat lidah di depan publik, saya rasa pengasingan Batman malah tidak diperlukan lagi. Alternatif lain, keputusan Nolan ini¬† terkait dengan sekuel di film¬† selanjutnya. Ah, tapi itu tidak menarik.

Penjelasan yang paling masuk akal¬† justru hadir dalam dialog antara Batman dan Jim Gordon tentang bagaimana memulihkan kembali kepercayaan masyarakat yang semenjak kehadiran Joker telah hancur lebur. Hal ini berkaitan erat dengan keputusan Batman menjadi martir. Masyarakat, dalam pandangan Batman membutuhkan sosok pahlawan yang benar-benar nyata. Pahlawan yang mereka pilih dan konstitusional, pahlawan yang memiliki “wajah”. Batman, meskipun sangat pas memegang peran tersebut, bukanlah sosok pahlwan yang ideal. Pahlawan ideal dengan gamblang telah dipegang oleh jaksa Dent, Ialah ksatria putih itu. Sangat disayangkan memang, kalau kemudian Dent malah jatuh ke kutub kejahatan, tapi itu bukan masalah, karena ia telah tewas. Lalu, apa solusi yang pas untuk mengisi kekosongan tokoh ini? Buatlah mitos. Buat seakan-akan si tokoh protagonis kelam ini membunuh pahlawan pujaan rakyat itu. Buat seakan-akan Dent mati dalam kapasitasnya sebagai hero, membela kebenaran, bukan sebagai “two face” yang terhalusinasi oleh keinginan membalas dendam. Dan Batman? Ia akan menjadi tokoh antagonis, musuh polisi, sesuatu yang disadari oleh Wayne cepat atau lambat akan terjadi.

Tentu saja, akan ada banyak diskusi mengenai model pahlawan seperti apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh masyarakat. Dan berkenaan tentang hal tersebut kita tidak mungkin bisa mengabaikan kontribusi Clint Eastwood dalam film The Flag of Our Father. Saya tidak akan menceritakan film tersebut dalam tulisan ini, hanya mengambil sedikit sebuah paradigma Hero sebagai perbandingan. Bila dibandingkan dengan serial Batman, The Flag of Our Father lebih merupakan sebuah satir dan kritik tentang konsep hero yang diperkenalkan industri perfilman Amerika. Rakyat Amerika sendiri sudah lama terkenal patriotik, mereka melakukan segalanya dengan kebanggaan. Puncak dari segala kebanggaan itu mereka simbolkan dalam diri seorang pahlawan. Kadangkala, ketokohan seorang pahlawan begitu kabur. Ia berada di tepi sebuah jurang yang sangat dalam untuk berubah menjadi seorang pecundang. Ketika kepecundangan seseorang tidak dapat didamaikan lagi dengan atribut kepahlawanannya, mereka membuat sebuah mitos. Mitos, dan mitos inilah yang berusaha ditawarkan oleh Batman untuk memecahkan solusi tersebut.

Ekspresi

Bagi sebagian orang, hidup dalam kebohongan terasa jauh lebih menyakitkan daripada hidup dalam kemiskinan. Pada The Flag of Our Father, digambarkan betapa para serdadu yang disanjung-sanjung sebagai pahlawan di Iwo Jima, bahkan tidak kuat menanggung beban kebohongan di pundak mereka. Akhirnya, mereka memilih mati ketimbang hidup dalam imajinasi semu kepahlawanan. Kalau kita bandingkan dengan Batman, mungkin kita dapat mereka-reka bahwa ternyata ia juga dihantui rasa takut akan beban pahlawan yang nyaris tanpa cela itu. Dan diakuinya sendiri, bahwa ia tidaklah pantas menyandang gelar pahlawan tersebut. Dengan demikian kejujuran menjadi sebuah nilai yang sangat berharga dibandingkan segalanya. Kejujuran itu pula yang saya rasa melatar belakangi motif Joker meneror seisi kota.

Bila Batman merupakan bitter hero, maka pantaslah kalau Joker disematkan predikat bitter villain. Dari caranya bertindak yang nyaris tanpa motif, masa lalunya yang benar-benar gelap, dan pengakuannya mengenai trauma masa kecil, nyaris serupa dengan diri Bruce Wayne. Pada adegan interogasi di ruang polisi, ia bahkan mengakui semua kejahatannya itu terinspirasi oleh tingkah laku Batman. Semua kegilaannya itu tak lain dan tak bukan hanya untuk mengimbangkan perilaku sang idola. Joker ada karena Batman ada, ia hanya hadir sebagai penyeimbang, yin dan yang. Dan benar-benar ia melakukannya dengan penuh kejujuran dan tulus. Batman juga menyadari hal itu, dan mungkin menjadi satu-satunya alasan mengapa ia tidak dapat menghabisi Joker. Simply pure, honest and crazy.

Memahami kepribadian Joker, saya teringat teori moral eksistensialisme. Menurut paham ini, yang diciptakan oleh filsuf Jean-Paul Sartre, eksistensi itu mendahului esensi. Eksistensi kita adalah ekspresi paling jujur yang ada dalam diri, sedangkan esensi adalah standar moral baik dan buruk. Menurut paham ini, tidak ada yang namanya kebenaran mutlak, manusia itu bebas memilih standar moral bagi dirinya sendiri. Yang paling penting justru bagaimana manusia itu mengungkapkan dirinya yang otentik kepada dunia. Singkatnya, berlaku jujur lebih mulia daripada berbuat baik, dan apa yang saya cerna dari karakter Joker, ternyata ia begitu menikmati ekspresi kejujurannya tersebut. Kejujuran seorang psikopat.

***

Gordon¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† ¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† : “Thank you”

Batman¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† ¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† : “You don’t have to thank me”

Gordon¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† ¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† :”yes I do.”

“The Joker won. Harvey’s prosecution, everything he fought for, undone. Every chance we had to fixing at our city, dies with Harvey’s reputation. We bet it all on him. The Joker took the best of us and tore it down. People will lose hope”

Batman¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† ¬†¬†¬†¬†¬† : “they won’t. They must never know what he did”

Gordon¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† ¬†¬†¬†¬†¬† : “five dead, two of them cops! You can’t sweep that up.”

Batman¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† ¬†¬†¬†¬†¬† : “But the Joker cannot win. Gotham needs its true hero.”

Gordon¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† ¬†¬†¬†¬†¬†¬† : “No..”

Batman¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† :”you either die a hero, or you live long enough to see yourself become the villain. I can do those things because, I’m not a hero, unlike Dent. I kill those people, that’s what I can be”

Gordon¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† ¬†¬†¬†¬†¬† : “No, No! you can’t you are not”

Batman¬†¬†¬† ¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† : “I’m whatever Gotham needs me to be. Call it in”

“they’ll hunt you- you’ll hunt me. They condemn me. Set the dogs on me, because it what needs to happen. Because sometimes the truth, isn’t good enough. Sometimes people deserve more. Sometimes people deserve, to have their faith rewarded.”

Gordon’s Son¬†¬†¬†¬†¬†¬† : “Batman, Batman!”

why he is running dad?”

Gordon¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† ¬†¬†¬†¬†¬† : “Because we have to chase him”

Gordon’s Son¬†¬†¬†¬†¬†¬† : “he didn’t do anything wrong”

Gordon¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† : “Because he’s the hero Gotham deserved, but not the one it needs right now. so we’ll¬† hunt him, because he can take it. Because he’s not a hero”

He’s a silent guardian, a watchful protector.

“A dark knight”

Konsep Fitrah

October 4, 2008

Tulisan ini saya muat di Blog saya terdahulu, tiga hari menjelang Idul Fitri. Dan saya muat kembali di sini, tiga hari setelah, untuk dijadikan cermin keberhasilan kita berpuasa selama sebulan penuh. Semoga dapat dihayati dengan baik.

Sebentar lagi Ramadhan berakhir, saat itulah ummat muslim sedunia merayakan Hari Raya ‚ÄėId Fitri. Id dalam bahasa Indonesia berarti kembali. Kembali adalah lawan kata dari pergi. Kalau kita definsikan pergi sebagai meninggalkan sesuatu untuk menuju ke suatu tempat lainnya, maka kita dapat mendefinisikan kembali sebagai gerakan yang mengantar kita balik menuju kepada titik awal kita sebelum beranjak. ¬†Oleh sebagian ummat muslim, gerak balik ini diekspresikan secara fisik sebagai mudik ke kampung halaman, bertemu dengan orang tua, sanak keluarga dan handai taulan, yang merupakan titik awal kehidupan mereka di dunia. Kata Id mengandaikan nasib perjalanan manusia yang telah begitu jauh ditempuh sehingga ia membutuhkan sebuah momen untuk kembali, gerak balik dan kepulangan. Gerak balik ini memiliki sifat yang sangat berbeda dengan kepergian. Pergi selalu anonim, tanpa tujuan yang pasti dan memiliki banyak sekali kemungkinan, sedangkan kembali hanya memiliki satu saja tujuan, titik awal. Tapi, apakah titik awal¬† itu? Benar, ia adalah fitrah. Fitrah adalah titik awal manusia. Sesuatu yang seringkali terlupa dalam perjalanan hidup kita, tapi karena dayanya yang kuat akan selalu memaksa kita untuk kembali bersua dengannya. Ia adalah kompas, neraca dan ukuran paling murni yang akan membuat kita kembali kepada hakekat diri kita yang sesungguhnya.

Kata fitrah, berasal dari akar kata fa tha ra, fathrun, yang memiliki arti pemisahan, pemecahan, pembelahan dan pematahan. kata bentukan fatharahu, berarti juga menciptakan dan mengadakan. Sedangkan kata bentukan futhira memiliki arti yang sama dengan thubi’a yakni melekatkan, menempelkan dan mencap. Dalam al-Quran disebut, thubi’a Allah ‚Äėala qulubihim (Allah telah menutup rapat hati mereka) memiliki makna yang sama dengan khatama (mengunci). Dari kata thubi’a inilah kemudian muncul kata thab’un yang merujuk kepada nature, asal muasal, atau kualitas-kualitas bawaan manusia, dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai tabiat. Dari sinilah, kemudian kata fitrah sinonim dengan sifat-sifat bawaan manusia, sesuatu yang tidak berubah dan telah ada sejak awal, naluri. Hal ini kemudian ditegaskan oleh Nabi, bahwa setiap bayi dilahirkan seusai fithrah, dan ayahnyalah yang akan menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi. Untuk kemudian, kata fitrah ini sinonim dengan Islam, melegitimasinya sebagai agama yang cocok dengan naluri bawaan manusia, akal. Sebenarnya, pengambilan makna fitrah lewat model tadi adalah bentuk yang lazim kita temui. Fitrah sendiri pada akhirnya sering diterjemahkan sebagai nature dan naluri. Tapi apakah benar fitrah itu sinonim dengan naluri atau nature sebagaimana yang kita pahami? Dan ketika ada pembagian antara “agama bumi” dan “agama wahyu”, kira-kira, dalam prespektif fitrah, apakah Islam itu termasuk agama bumi? Bukankah agama bumi itu juga memandang keselarasan manusia dengan alam, naluri atau nature, fitrah? Dari sudut pandang keimanan kita, pertanyaan-pertanyaan tadi sepertinya tampak menjebak dan bodoh, toh semua juga tahu bahwa Islam itu diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW lewat wahyu Tuhan. Tapi, ketika kita berbicara hal ini dari prespektif fitrah, tentunya dibutuhkan kesinambungan logis antara dua argumen tadi. Dan setelah saya perhatikan, kunci dari itu semua terletak dari makna fitrah yang menurut saya ambigu. Dengan demikian, kita mulai dari pertanyaan pertama, apa itu fitrah?

Berbeda dengan model pengambilan makna yang lazim tadi, saya lebih tertarik melihat fitrah sebagai fenomena dari fathrun yaitu cacat, atau Crack. Dalam al-Quran sendiri, kata fitrah selalu mengambil bentuk kata kerja lampau, past tense, fathara, dan hanya dalam dua ayat saja ia berbentuk kata benda: fithrata dan futhur. Sebagai kata kerja, ia hadir di delapan ayat. Di sini kita menemukan bentukan kata fitrah yang sinonim dengan khalaqa, menciptakan. Misalnya dalam ayat 6:79 disebutkan: “Aku hadapkan wajahku kepada Allah yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepasrahan (mengikuti) agama yang benar dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik”, hal mana juga ditemukan pada ayat 17:51, 11:51, 36:22, 43:27, 20:72 dan 30:30. Apakah, dengan demikian fitrah itu berhubungan dengan penciptaan? Lalu, apa bedanya dengan kata khalaqa? Kalau kita buka ayat-ayat al-Quran yang berisi kata khalaqa yang berjumlah 207 itu, berikut variannya, akan kita temui beberapa nuansa: pertama, pelaku dalam kata khalaqa tidak selalu berbentuk singular tapi juga jamak. Sedangkan dalam kata fathara, pelakunya hanya satu, yaitu Allah. Sebagaimana lazim kita ketahui, ketika al-Quran menggunakan pelaku jamak pada setiap kata kerja, maka itu merupakan pertanda dari sebuah proses yang melibatkan unsur-unsur duniawi, baik biologis maupun fisis. Seperti penciptaan manusia yang melibatkan pertemuan sperma dan ovum selain kekuasaan Tuhan dalam memberikan kehidupan. Adapun, bentuk kata kerja dengan pelaku singular, maka hal tersebut senantiasa berkaitan dengan keridhaan Allah, hak prerogatif. Kedua, redaksi dari ayat-ayat yang mengandung kata fathara selalu melibatkan seseorang yang menyeru kepada tauhid dan sepertinya orang tersebut telah mengalami sejenis pencerahan sehingga ia mampu bertindak dengan kekuatan yang luar biasa. Hal ini tercermin pada Rasulullah di 43:27, nabi Hud, para penyihir Firaun yang bertobat, atau seseorang di surat Yasin, yang menisbahkan kata fathara kepada Allah sebagai penjelasan atas tindakannya tersebut. Ketiga, dan ini yang paling obvious, kata fathara berkorelasi secara positif dengan kata din, agama. Dalam ayat 30:30 bahkan dijelaskan bahwa sikap beragama yang hanif itu adalah fitrah yang diciptakan Allah kepada manusia. Dengan demikian, jika kita hubungkan dengan argumen kedua di atas, maka fitrah memiliki korelasi dengan hidayah, sebuah pemberian petunjuk yang terjadi atas dasar kemauan Allah semata. Keempat, dalam ayat 29:3, Allah bahkan mengkontraskan akar kata fitrah, futhur, dengan kesempurnaan. Alam semesta ciptaan Tuhan ini, termasuk manusia, adalah sebuah maha karya sempurna yang tidak memiliki futhur, jamak dari cacat, sama sekali. Sehingga dapat dipahami bahwa fitrah itu berhubungan pula dengan yang aksiden dan partikular, atau dalam konteks ayat tadi bersifat aksidental, tidak terduga.

Sekarang, bagaimana menerjemahkan makna fitrah dengan pendekatan fathrun atau crack tadi? Sebenarnya, selain memiliki arti crack, futhur juga memiliki arti lain: sarapan, makan pagi, dan memiliki hubungan intrinsik dengan ifthar, makanan waktu berbuka puasa. Baik sarapan maupun berbuka adalah suatu bentuk penyimpangan dari berpuasa, orang dikatakan tidak berpuasa lagi setelah ia makan yang merupakan sebuah tanda keberputusan, sebuah batas atau crack. Bila kita lihat dari sudut pandang berpuasa di bulan Ramadhan, maka fitrah dapat diartikan sebagai sebuah pelepasan, penutup, dari usaha kita berpuasa. Seperti usaha keras orang yang berusaha menahan rasa lapar, momen pelepasan berpuasa merupakan sebuah peristiwa mengisi ulang tenaga yang dulu tersendat-sendat. Sebuah musim semi bagi tubuh dan jiwa, saat tunas-tunas tumbuh berkembang memancarkan segenap daya hidup. Sebuah reborn kelahiran kembali. Meskipun demikian, peristiwa fitrah ini tidak selalu berjalan liniar dengan berpuasa selama sebulan penuh. Karena sifatnya yang murni prerogatif Tuhan, maka fitrah lebih tepat dinamakan sebagai sebuah hidayah (hidayah itu juga berkaitan dengan hadiah atau ganjaran), pencerahan. Karena hanya Tuhan jualah yang memutuskan siapa saja hambaNya yang akan Ia berikan petunjuk dan hidayah. Dalam sebuah hadis dijelaskan bahwa puasa adalah milik Tuhan, dan hanya Dia saja yang akan memberikan ganjarannya. Argumen ini diperkuat dengan redaksi ayat 30:30 yang menyebutkan bahwa sikap beragama yang hanif merupakan fitrah yang Allah “fitrahkan” kepada manusia, sebuah petunjuk, sebuah hidayah. Dengan demikian, makna intrinsik dari fitrah berbeda dengan makna intrinsik yang terkandung dalam naluri dan nature, karena ia merupakan sesuatu yang given tapi diusahakan dan bersifat sporadis, sedangkan naluri dan nature adalah murni given.

Apa yang dapat saya simpulkan dari diskusi ringan ini adalah, titik awal kita, petunjuk Ilahiah, sebuah hidayah, sebuah pencerahan. Di titik inilah kita dapat memandang segala suatu dengan jernih. Dan apa yang kita dapat dari sebuah perayaan setelah Ramadhan, tak lain daripada sebuah gerak kembali menuju keridhoan Allah. Semoga Allah menerima usaha kita, dan semoga kita dapat kembali ke hidayahNya dan menjadi seorang pemenang (orang yang memenangi kasih sayang Tuhan) dan semoga hidayah ini akan selalu membekas di diri kita sepanjang tahun dan itulah saat-saat penuh kebaikan.

Selamat berlebaran! Selamat ‚ÄėId Fitri!

Post Script:

  • Tulisan ini hanyalah sebuah alternatif kecil yang saya ajukan untuk memahami fitrah, apabila ada kesalahan mohon dikoreksi.
  • Mengenai penjelasan tentang fitrah, lihat tulisan Yasin Muhammad di http://www.angelfire.com/al/islamicpsychology/fitrah/fitrah.html
  • Saya menggunakan anotasi, (nomer surat) : (nomor ayat), untuk lebih memudahkan dalam mencari di al-Quran.

Apa Kabar Laskar Pelangi?

October 3, 2008

Pertama kali membeli buku Laskar Pelangi, saya sempat ragu-ragu mengenai isi buku tersebut. Bukan karena gambar yang terpampang di sampulnya yang mengingatkan saya mengenai petualangan remaja seperti dalam Trio Detektif ataupun Lima Sekawan, yang jadi buku favorit saya waktu kecil, tapi stempel best seller yang menancap begitu mencolok. Kupikir, jika buku ini seperti karya Robert Arthur dan Enid Blyton apa sih yang menjadi kelebihan buku tersebut. Memang kedua buku tadi cukup populer, tapi saya pikir tidak pernah ada imbuhan “best seller” di penampangnya. Mungkin karena itu buku remaja, sehingga predikat tadi tidak pernah satupun tersemat. Adapun Laskar Pelangi, apa ini masih juga bisa disebut buku remaja? Kalau ya, betapa beraninya ia membanggakan label tersebut. Masih penasaran, saya lihat bagian belakangnya. Wow, komentar yang terpajang begitu berani. Pujian dari orang-orang terkenal semacam Syafi’I Ma’arif dan testimoni dari orang-orang yang merasa mendapatkan pencerahan dari buku tersebut. Kupikir, jelas ini bukan buku petualangan remaja semata. Buku ini unusual. Apalagi setelah mengetahui bahwa ia banyak berbicara mengenai Muhammadiyah. Bukankah ini berarti Laskar Pelangi itu bernafaskan agama. Tapi hei, saya tidak melihat jejak-jejak Islam di sana, tidak seperti karya Habiburrahman el-Syirazi yang penuh unsur religiusitas, Laskar Pelangi tampak berdiri sendiri di sebuah genre yang bagi saya terletak dipertengahan antara sekuleritas dan religiusitas. Barangkali karena pendidikan si penulis yang sekuler tapi memiliki pengalaman religius yang begitu membekas dalam, khas orang-orang Islam zaman sekarang. Ah, daripada penasaran akhirnya saya beli juga buku tersebut.

Setelah beberapa halaman saya habiskan, baru saya mengerti mengapa buku ini begitu inspiratif bagi sebagian orang. Scene pembuka tentang kekerasan hati kesepuluh orang murid SD Muhammadiyah Belitong, kekontrasan antara kemiskinan dan semangat belajar yang menggebu-gebu, gambaran puitis yang kadangkala diiringi oleh istilah-istilah Latin, parodi dan satir yang terlintas secara komikal, kurasa lebih dari cukup untuk membuat kita menaruh simpati yang sangat dalam kepada para tokohnya. Semuanya terasa “mencebur” jadi satu kedalam sebuah benang merah seseorang bernama Lintang, personifikasi sang penulis. Memang, salah satu kekurangan ketika kita handak membicarakan sepuluh orang secara bersamaan adalah bahwa itu jumlah yang terlalu banyak untuk bisa berdiri sebagai seorang tokoh, tapi Andrea Hirata mampu menutupi hal tersebut dengan narasi yang puitis dan komikal. Mungkin, ini pemecahan yang baik, karena ketika begitu banyak hal tercerap kedalam otak kita, tidak ada yang lebih baik untuk menjelaskan itu semua ketimbang sebuah puisi.¬† Tapi, tidak segalanya berjalan mulus. Sampai setengah isi buku saya jelajahi, saya merasakan begitu banyak lompatan dari sang penulis. Tampak sekali ia begitu bersemangat, hingga kadangkala saya merasa bosan dengan ulahnya.

Untungnya pula, Laskar Pelangi tidak seperti 100 tahun Kesunyian karya Gabriel Garcia Marquez, yang memaksa saya untuk selalu melihat peta silsilah keluarga Buendia setiap kemunculan seorang tokoh. Tapi tetap saja, plot yang dipasang begitu biasa, hampir-hampir saya merasa menjadi seorang peramal dalam buku tersebut. Bagaimana tidak, implikasi logis yang saya tarik baik dari dialog dan tindakan para tokoh, semuanya serupa dangan bayangan yang ada di kepala saya. Mungkin juga ini kelemahan dari penggunaan bahasa komikal dalam sebuah karya yang lebih berbobot, mereka cenderung berdiri pada landasan common sense, tidak ada yang baru di dalamnya, bahkan ketika kalimat Hirata begitu berbunga-bunga saya seperti melihat nafas Marquez menyentuh ujung tulisan. Jelas terlihat dan terbentang luas, tanpa mistis, tanpa tabir gelap yang menutupi. Namun, apa yang kita pahami sebagai sebuah karya yang bagus, tidak selalu terletak pada penggunaan teknik menulis yang canggih macam Saman-nya Ayu Utami. Karya-karya terkenal Pram dan Leo Tolstoi, jauh dari segala kegenitan itu. Dan saya rasa Laskar Pelangi juga mengikuti jejak kedua penulis tadi, meskipun berada pada level keseriusan yang berbeda. Penawaran sang penulis kepada moralitas yang luhur dan idealisme yang tak terbantahkan, merupakan unsur paling kuat dari buku ini. Saya sendiri merasa, inilah yang merupakan inti dari Laskar Pelangi. Ia merupakan sebuah memoar, sebuah pesan dan sebuah impian. Dan itu pulalah yang kurasa menginspirasi setiap orang yang pernah membaca Laskar Pelangi.

Ada sebuah catatan kecil yang masih tersimpan di benak saya ketika membicarakan Laskar Pelangi dan sekuel-sekuelnya, saya tidak melihat sebuh crack dalam diri penulis ketika berhadapan secara langsung dengan kebudayaan Barat yang sekuler. Tidak seperti karya-karya para santri yang sering berbicara tentang shock culturil, atau karya-karya penulis sekuler tentang konflik antara Timur dan Barat, Hirata seperti meninggalkan noktah ini begitu kelabu. Apa iya, orang yang memiliki kecerdasan luar biasa dengan menjadi seorang ahli komunikasi dan menyabet gelar masternya di Sorbonne tidak merasakan hal tersebut? Bahwa kemudian ia memandangnya begitu sederhana, seperti ah itu bukan bagian dari budaya saya atau sekedar menyebut Harun Yahya sebagai seorang argumentator, tanpa usaha yang sungguh-sungguh untuk mengelola isu tadi, tampak seperti sebuah kebodohan yang tak mampu disembunyikan. Ia mengingatkan saya dengan B.J. Habibie dan para teknokrat muslim yang telah melebur kedalam budaya dunia, yang sangat cerdas dengan keahlian mereka dan hanya memiliki pemahaman agama setingkat anak SD. Tapi yah, kekurangan itu juga merupakan sebuah berkah, sekaligus sindiran. Berkah karena dengan minimnya pengetahuan agama, para tokoh dalam Laskar Pelangi menjadikan agama sebagai sebuah ladang amal, sebuah praxis dan pengamalan, bukannya ladang argumentasi dan debat ilmiah. Sindiran, karena seperti melihat problem umat Islam yang tak mampu dikelola dengan baik. Saat mereka-mereka yang cerdas dan berpotensi cenderung berlarian ke dunia sekuler meninggalkan orang-orang “marjinal” ke dalam dunia pesantren yang kumuh, dan kembali lagi ke dalam ruang-ruang agama mereka saat Ramadhan dan Idul Fitri saat ini bak seorang turis dan selebritas. Seakan-akan agama itu sudah mampet jadi untuk apa dibahasa lagi. Uh, pantas saja agama ini tidak pernah berkembang indah di Indonesia.

***

Dua hari yang lalu, saya bersama adik-adik beramai mengunjungi Cinema XXi menonton bareng film Laskar Pelangi. Terus terang saja, ini film yang paling saya tunggu kehadirannya. Setelah membeli tiket dan menunggu di lantai bioskop kurang lebih tiga puluh menit, akhirnya duduklah saya di kursi kolom tengah bagian pinggir di baris pertengahan pula. Ah, menonton juga ternyata.

Awalnya, saya berharap film ini seperti Denias: Senandung di atas Awan, yang disutradarai John de Rantau  yang penuh dengan visualisasi yang indah akan alam Papua, karena menurut saya itu adalah bahasa sinematografi yang paling pas untuk menggambarkan Laskar Pelangi. Setelah beberapa lama berjalan, dan tayangan mengenai topografi pantai Belitong berikut karang-karangnya yang gemulai itu terlewat begitu saja tanpa kesan yang mendalam, dan cenderung diulang-ulang, pupuslah harapan saya melihat gambaran Hirata yang serba puitis. Saya merasa Riri Reza tidak terlalu tertarik dengan segala keindahan visual tadi, bahkan untuk sekedar menyuguhkan aerial view dari pulau Beliotng pun tidak dapat terobati. Rumah-rumah penduduk tampak biasa, seperti yang sering saya jumpai di desa-desa Jawa. Tidak ada jalan-jalan dari papan kayu di atas pantai, rawa-rawa yang gelap seperti sajian di National Geographic, bahkan tembok PN Timah yang kukira begitu megah itu, tampak biasa saja. Ketimpangan tidak tergambar dengan jelas secara visual, dan semuanya kok malah terasa begitu datar, nyaris tanpa nuansa. Kupikir, mungkin bukan itu yang ingin dimaksud oleh sang sutradara.

Maka kumulai menikmati plot mengenai anak-anak Belitong. Akting mereka bagus, dan di beberapa bagian malah membuat saya tersenyum. kecuali hanya tiga orang saja, Ikal, Mahar dan Lintang, yang menjadi fokus cerita sedang sisanya hanya figuran, tapi tak apalah. Kecuali bahwa Ikal itu ternyata kulitnya lebih bersih dibanding yang lain dan wajahnya terasa lebih kota, menunujukkan keengganan kita menunjukkan identitas diri yang asli. Kemudian yang membuat saya merasa janggal adalah kehadiran tokoh-tokoh perfilman di sana-sini, mulai dari Rieke Dyah Pitaloka, Mathias Muchus, Tora Sudiro, hingga Slamet Rahardjo, Jajang C. Noer dan Lukaman Sardi, bagiku peran mereka tidak signifikan. Anehnya, saya malah merasa kehadiran merekalah yang membuat budget untuk film ini bertambah sehingga berefek kepada sinematografi seadanya. Semoga saja perasaan saya itu salah, dan setidaknya akting cemerlang Cut Mini dan Ikranegara sebagai bu Muslimah dan pak Harfan mampu membuat film ini layak ditonton.

Dalam sebuah tulisan di Kompas Minggu 28/08, saya membaca bahwa kekurangan paling signifikan dari film ini adalah pendalaman karakter tiap tokoh yang tampil serba superfisial dan latar belakang cerita yang tampil tidak utuh, sehingga semua pesan yang ingin disampaikan lewat film ini diungkapkan secara verbal. Terus terang, saya setuju dengan pendapat Dahono Fitrianto tersebut, dan tentunya hal itu sangat mengusik kesadaran saya, apakah memang kemampuan guru-guru kita hanya sebatas memberi nasehat dan mengabaikan contoh dan suri tauladan yang baik? Atau apakah budaya lisan sudah begitu mengental dibandingkan budaya baca yang selalu berkaitan dengan kesantunan visual? Karena pada akhirnya, yang terucap hanyalah “katanya si fulan anu dan anu..” bukannya “lihat apa yang dilakukan oleh Ikal untuk meraih cita-citanya pergi ke Paris”. Ah, semoga mimpi saya ini jadi kenyataan.

Apa itu Language Game

October 3, 2008

Dalam diskursus filsafat Bahasa, tentunya nama Wittgenstein tidak dapat diabaikan begitu saja. sebagai seorang murid dari Bertrand Russell dan pendukung utama Atomisme Logis, Ia melakukan sebuah pendekatan yang lebih baik ketimbang sang guru yang tak pernah fokus dalam pemikiran filosofisnya. Pemikiran filsafatnya sendiri tercatat dengan baik dalam sebuah buku tipis yang begitu terkenal berjudul, Tractatus Logico-Philosophicus. Untuk membandingkan ketipisan buku tersebut dengan isi dari pemikiran yang terkandung di dalamnya, saya kira seperti melihat USB Flash Disk ukuran 4GB yang sangat kecil tapi memiliki kapasitas yang lebih besar dari disket tahun 90-an. Singkat, padat, dan penuh dengan anak kalimat yang inspiratif. yang tak kalah menarik, kesimpulan yang diambil oleh buku ini: “Apa saja yang tidak dapat dikatakan, harus ditinggalkan dalam diam”. Bagi filsafat Barat yang penuh dengan spekulasi, statement Wittgenstein tadi adalah pertanda mengenai akhir dari filsafat itu sendiri. Filsafat,¬† harus dilikuidasi bukan saja karena telah mencampuradukkan antara realitas dan logika, tapi juga klaim-klaimnya jauh melebar dari ruang lingkupnya semula, yang didefinisikan oleh Wittgenstein sebagai “membersihkan filsafat dari kekacauan berbahasa”.

Sayangnya, bukan hanya filsafat yang melakukan kesalahan demikian. Tatkala kita berbicara mengenai realitas, ada juga agama yang berkepentingan di sana. Tuhan, alam baka, alam malaikat, dan hari akhir, jelas merupakan bidang kunci yang menjadi inti dari pemikiran keagamaan, bahkan keimanan. Wittgenstein sendiri, dikemudian hari, menyadari hal tersebut. Bukan saja pengalaman hidupnya terkemudian yang membawanya menjadi seorang asketik, tapi juga perkembangan pemikiran logis yang menuntutnya untuk berdialektika. Di sinilah lalu, ia menerbitkan sebuah buku berjudul Philosophical Investigations. Berbeda, dengan Tractatus yang mengabaikan alam metafisika, dalam buku ini ia membangun sebuah teori mengenai permainan bahasa, language game. Wacana di seputar kita sebenarnya sangatlah banyak. Ada wacana politik, agama, ilmu pengetahuan, dll. Setiap wacana itu ibarat sebuah jenis permainan tertentu yang berbeda satu dengan yang lain, yang memiliki aturan berbahasa yang berbeda-beda, seperti model permainan catur yang berbeda dengan model permainan tenis. Kesalahan filsafat adalah, ia seringkali menggunakan peraturan yang berbeda pada wacana yang berbeda pula. Alhasil, banyak sekali terjadi kerancuan pembahasan dalam filsafat.

Kedua pemikiran Wittgenstein ini bukan tanpa kritik, seperti bagaimana hubungan peraturan tertentu dengan kemunculan peraturan baru, atau bagaimana mengetahui klaim kebenaran pada suatu wacana yang sama, atau juga mengenai peranan metafisika dalam filsafat yang jauh lebih fundamental dari sekedar membersihkan kesalahan berbahasa – toh, pemikiran Wittgenstein itu terbangun oleh anasir metafisika. Meskipun demikian, apa yang saya catat dari Permainan Bahasa dalam blog ini adalah, bagaimana kita bermain secara fair dalam sebuah wacana yang sama-sama merangkul kita semua. Saya, anda dan kita. Apakah dengan demikian ini adalah sebuah inklusivitas? Bisa jadi, barangkali mode permainan yang ada memang menggunakan peraturan tersebut, dan kadangkala kita memang harus out of the box untuk sesuatu yang kita namakan “rasa lapar yang tak pernah terpuaskan dari sekedar mengetahui hal-hal yang pasti”.

Selamat bermain!