Apa itu Language Game

October 3, 2008

Dalam diskursus filsafat Bahasa, tentunya nama Wittgenstein tidak dapat diabaikan begitu saja. sebagai seorang murid dari Bertrand Russell dan pendukung utama Atomisme Logis, Ia melakukan sebuah pendekatan yang lebih baik ketimbang sang guru yang tak pernah fokus dalam pemikiran filosofisnya. Pemikiran filsafatnya sendiri tercatat dengan baik dalam sebuah buku tipis yang begitu terkenal berjudul, Tractatus Logico-Philosophicus. Untuk membandingkan ketipisan buku tersebut dengan isi dari pemikiran yang terkandung di dalamnya, saya kira seperti melihat USB Flash Disk ukuran 4GB yang sangat kecil tapi memiliki kapasitas yang lebih besar dari disket tahun 90-an. Singkat, padat, dan penuh dengan anak kalimat yang inspiratif. yang tak kalah menarik, kesimpulan yang diambil oleh buku ini: “Apa saja yang tidak dapat dikatakan, harus ditinggalkan dalam diam”. Bagi filsafat Barat yang penuh dengan spekulasi, statement Wittgenstein tadi adalah pertanda mengenai akhir dari filsafat itu sendiri. Filsafat,  harus dilikuidasi bukan saja karena telah mencampuradukkan antara realitas dan logika, tapi juga klaim-klaimnya jauh melebar dari ruang lingkupnya semula, yang didefinisikan oleh Wittgenstein sebagai “membersihkan filsafat dari kekacauan berbahasa”.

Sayangnya, bukan hanya filsafat yang melakukan kesalahan demikian. Tatkala kita berbicara mengenai realitas, ada juga agama yang berkepentingan di sana. Tuhan, alam baka, alam malaikat, dan hari akhir, jelas merupakan bidang kunci yang menjadi inti dari pemikiran keagamaan, bahkan keimanan. Wittgenstein sendiri, dikemudian hari, menyadari hal tersebut. Bukan saja pengalaman hidupnya terkemudian yang membawanya menjadi seorang asketik, tapi juga perkembangan pemikiran logis yang menuntutnya untuk berdialektika. Di sinilah lalu, ia menerbitkan sebuah buku berjudul Philosophical Investigations. Berbeda, dengan Tractatus yang mengabaikan alam metafisika, dalam buku ini ia membangun sebuah teori mengenai permainan bahasa, language game. Wacana di seputar kita sebenarnya sangatlah banyak. Ada wacana politik, agama, ilmu pengetahuan, dll. Setiap wacana itu ibarat sebuah jenis permainan tertentu yang berbeda satu dengan yang lain, yang memiliki aturan berbahasa yang berbeda-beda, seperti model permainan catur yang berbeda dengan model permainan tenis. Kesalahan filsafat adalah, ia seringkali menggunakan peraturan yang berbeda pada wacana yang berbeda pula. Alhasil, banyak sekali terjadi kerancuan pembahasan dalam filsafat.

Kedua pemikiran Wittgenstein ini bukan tanpa kritik, seperti bagaimana hubungan peraturan tertentu dengan kemunculan peraturan baru, atau bagaimana mengetahui klaim kebenaran pada suatu wacana yang sama, atau juga mengenai peranan metafisika dalam filsafat yang jauh lebih fundamental dari sekedar membersihkan kesalahan berbahasa – toh, pemikiran Wittgenstein itu terbangun oleh anasir metafisika. Meskipun demikian, apa yang saya catat dari Permainan Bahasa dalam blog ini adalah, bagaimana kita bermain secara fair dalam sebuah wacana yang sama-sama merangkul kita semua. Saya, anda dan kita. Apakah dengan demikian ini adalah sebuah inklusivitas? Bisa jadi, barangkali mode permainan yang ada memang menggunakan peraturan tersebut, dan kadangkala kita memang harus out of the box untuk sesuatu yang kita namakan “rasa lapar yang tak pernah terpuaskan dari sekedar mengetahui hal-hal yang pasti”.

Selamat bermain!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: