Apa Kabar Laskar Pelangi?

October 3, 2008

Pertama kali membeli buku Laskar Pelangi, saya sempat ragu-ragu mengenai isi buku tersebut. Bukan karena gambar yang terpampang di sampulnya yang mengingatkan saya mengenai petualangan remaja seperti dalam Trio Detektif ataupun Lima Sekawan, yang jadi buku favorit saya waktu kecil, tapi stempel best seller yang menancap begitu mencolok. Kupikir, jika buku ini seperti karya Robert Arthur dan Enid Blyton apa sih yang menjadi kelebihan buku tersebut. Memang kedua buku tadi cukup populer, tapi saya pikir tidak pernah ada imbuhan “best seller” di penampangnya. Mungkin karena itu buku remaja, sehingga predikat tadi tidak pernah satupun tersemat. Adapun Laskar Pelangi, apa ini masih juga bisa disebut buku remaja? Kalau ya, betapa beraninya ia membanggakan label tersebut. Masih penasaran, saya lihat bagian belakangnya. Wow, komentar yang terpajang begitu berani. Pujian dari orang-orang terkenal semacam Syafi’I Ma’arif dan testimoni dari orang-orang yang merasa mendapatkan pencerahan dari buku tersebut. Kupikir, jelas ini bukan buku petualangan remaja semata. Buku ini unusual. Apalagi setelah mengetahui bahwa ia banyak berbicara mengenai Muhammadiyah. Bukankah ini berarti Laskar Pelangi itu bernafaskan agama. Tapi hei, saya tidak melihat jejak-jejak Islam di sana, tidak seperti karya Habiburrahman el-Syirazi yang penuh unsur religiusitas, Laskar Pelangi tampak berdiri sendiri di sebuah genre yang bagi saya terletak dipertengahan antara sekuleritas dan religiusitas. Barangkali karena pendidikan si penulis yang sekuler tapi memiliki pengalaman religius yang begitu membekas dalam, khas orang-orang Islam zaman sekarang. Ah, daripada penasaran akhirnya saya beli juga buku tersebut.

Setelah beberapa halaman saya habiskan, baru saya mengerti mengapa buku ini begitu inspiratif bagi sebagian orang. Scene pembuka tentang kekerasan hati kesepuluh orang murid SD Muhammadiyah Belitong, kekontrasan antara kemiskinan dan semangat belajar yang menggebu-gebu, gambaran puitis yang kadangkala diiringi oleh istilah-istilah Latin, parodi dan satir yang terlintas secara komikal, kurasa lebih dari cukup untuk membuat kita menaruh simpati yang sangat dalam kepada para tokohnya. Semuanya terasa “mencebur” jadi satu kedalam sebuah benang merah seseorang bernama Lintang, personifikasi sang penulis. Memang, salah satu kekurangan ketika kita handak membicarakan sepuluh orang secara bersamaan adalah bahwa itu jumlah yang terlalu banyak untuk bisa berdiri sebagai seorang tokoh, tapi Andrea Hirata mampu menutupi hal tersebut dengan narasi yang puitis dan komikal. Mungkin, ini pemecahan yang baik, karena ketika begitu banyak hal tercerap kedalam otak kita, tidak ada yang lebih baik untuk menjelaskan itu semua ketimbang sebuah puisi.  Tapi, tidak segalanya berjalan mulus. Sampai setengah isi buku saya jelajahi, saya merasakan begitu banyak lompatan dari sang penulis. Tampak sekali ia begitu bersemangat, hingga kadangkala saya merasa bosan dengan ulahnya.

Untungnya pula, Laskar Pelangi tidak seperti 100 tahun Kesunyian karya Gabriel Garcia Marquez, yang memaksa saya untuk selalu melihat peta silsilah keluarga Buendia setiap kemunculan seorang tokoh. Tapi tetap saja, plot yang dipasang begitu biasa, hampir-hampir saya merasa menjadi seorang peramal dalam buku tersebut. Bagaimana tidak, implikasi logis yang saya tarik baik dari dialog dan tindakan para tokoh, semuanya serupa dangan bayangan yang ada di kepala saya. Mungkin juga ini kelemahan dari penggunaan bahasa komikal dalam sebuah karya yang lebih berbobot, mereka cenderung berdiri pada landasan common sense, tidak ada yang baru di dalamnya, bahkan ketika kalimat Hirata begitu berbunga-bunga saya seperti melihat nafas Marquez menyentuh ujung tulisan. Jelas terlihat dan terbentang luas, tanpa mistis, tanpa tabir gelap yang menutupi. Namun, apa yang kita pahami sebagai sebuah karya yang bagus, tidak selalu terletak pada penggunaan teknik menulis yang canggih macam Saman-nya Ayu Utami. Karya-karya terkenal Pram dan Leo Tolstoi, jauh dari segala kegenitan itu. Dan saya rasa Laskar Pelangi juga mengikuti jejak kedua penulis tadi, meskipun berada pada level keseriusan yang berbeda. Penawaran sang penulis kepada moralitas yang luhur dan idealisme yang tak terbantahkan, merupakan unsur paling kuat dari buku ini. Saya sendiri merasa, inilah yang merupakan inti dari Laskar Pelangi. Ia merupakan sebuah memoar, sebuah pesan dan sebuah impian. Dan itu pulalah yang kurasa menginspirasi setiap orang yang pernah membaca Laskar Pelangi.

Ada sebuah catatan kecil yang masih tersimpan di benak saya ketika membicarakan Laskar Pelangi dan sekuel-sekuelnya, saya tidak melihat sebuh crack dalam diri penulis ketika berhadapan secara langsung dengan kebudayaan Barat yang sekuler. Tidak seperti karya-karya para santri yang sering berbicara tentang shock culturil, atau karya-karya penulis sekuler tentang konflik antara Timur dan Barat, Hirata seperti meninggalkan noktah ini begitu kelabu. Apa iya, orang yang memiliki kecerdasan luar biasa dengan menjadi seorang ahli komunikasi dan menyabet gelar masternya di Sorbonne tidak merasakan hal tersebut? Bahwa kemudian ia memandangnya begitu sederhana, seperti ah itu bukan bagian dari budaya saya atau sekedar menyebut Harun Yahya sebagai seorang argumentator, tanpa usaha yang sungguh-sungguh untuk mengelola isu tadi, tampak seperti sebuah kebodohan yang tak mampu disembunyikan. Ia mengingatkan saya dengan B.J. Habibie dan para teknokrat muslim yang telah melebur kedalam budaya dunia, yang sangat cerdas dengan keahlian mereka dan hanya memiliki pemahaman agama setingkat anak SD. Tapi yah, kekurangan itu juga merupakan sebuah berkah, sekaligus sindiran. Berkah karena dengan minimnya pengetahuan agama, para tokoh dalam Laskar Pelangi menjadikan agama sebagai sebuah ladang amal, sebuah praxis dan pengamalan, bukannya ladang argumentasi dan debat ilmiah. Sindiran, karena seperti melihat problem umat Islam yang tak mampu dikelola dengan baik. Saat mereka-mereka yang cerdas dan berpotensi cenderung berlarian ke dunia sekuler meninggalkan orang-orang “marjinal” ke dalam dunia pesantren yang kumuh, dan kembali lagi ke dalam ruang-ruang agama mereka saat Ramadhan dan Idul Fitri saat ini bak seorang turis dan selebritas. Seakan-akan agama itu sudah mampet jadi untuk apa dibahasa lagi. Uh, pantas saja agama ini tidak pernah berkembang indah di Indonesia.

***

Dua hari yang lalu, saya bersama adik-adik beramai mengunjungi Cinema XXi menonton bareng film Laskar Pelangi. Terus terang saja, ini film yang paling saya tunggu kehadirannya. Setelah membeli tiket dan menunggu di lantai bioskop kurang lebih tiga puluh menit, akhirnya duduklah saya di kursi kolom tengah bagian pinggir di baris pertengahan pula. Ah, menonton juga ternyata.

Awalnya, saya berharap film ini seperti Denias: Senandung di atas Awan, yang disutradarai John de Rantau  yang penuh dengan visualisasi yang indah akan alam Papua, karena menurut saya itu adalah bahasa sinematografi yang paling pas untuk menggambarkan Laskar Pelangi. Setelah beberapa lama berjalan, dan tayangan mengenai topografi pantai Belitong berikut karang-karangnya yang gemulai itu terlewat begitu saja tanpa kesan yang mendalam, dan cenderung diulang-ulang, pupuslah harapan saya melihat gambaran Hirata yang serba puitis. Saya merasa Riri Reza tidak terlalu tertarik dengan segala keindahan visual tadi, bahkan untuk sekedar menyuguhkan aerial view dari pulau Beliotng pun tidak dapat terobati. Rumah-rumah penduduk tampak biasa, seperti yang sering saya jumpai di desa-desa Jawa. Tidak ada jalan-jalan dari papan kayu di atas pantai, rawa-rawa yang gelap seperti sajian di National Geographic, bahkan tembok PN Timah yang kukira begitu megah itu, tampak biasa saja. Ketimpangan tidak tergambar dengan jelas secara visual, dan semuanya kok malah terasa begitu datar, nyaris tanpa nuansa. Kupikir, mungkin bukan itu yang ingin dimaksud oleh sang sutradara.

Maka kumulai menikmati plot mengenai anak-anak Belitong. Akting mereka bagus, dan di beberapa bagian malah membuat saya tersenyum. kecuali hanya tiga orang saja, Ikal, Mahar dan Lintang, yang menjadi fokus cerita sedang sisanya hanya figuran, tapi tak apalah. Kecuali bahwa Ikal itu ternyata kulitnya lebih bersih dibanding yang lain dan wajahnya terasa lebih kota, menunujukkan keengganan kita menunjukkan identitas diri yang asli. Kemudian yang membuat saya merasa janggal adalah kehadiran tokoh-tokoh perfilman di sana-sini, mulai dari Rieke Dyah Pitaloka, Mathias Muchus, Tora Sudiro, hingga Slamet Rahardjo, Jajang C. Noer dan Lukaman Sardi, bagiku peran mereka tidak signifikan. Anehnya, saya malah merasa kehadiran merekalah yang membuat budget untuk film ini bertambah sehingga berefek kepada sinematografi seadanya. Semoga saja perasaan saya itu salah, dan setidaknya akting cemerlang Cut Mini dan Ikranegara sebagai bu Muslimah dan pak Harfan mampu membuat film ini layak ditonton.

Dalam sebuah tulisan di Kompas Minggu 28/08, saya membaca bahwa kekurangan paling signifikan dari film ini adalah pendalaman karakter tiap tokoh yang tampil serba superfisial dan latar belakang cerita yang tampil tidak utuh, sehingga semua pesan yang ingin disampaikan lewat film ini diungkapkan secara verbal. Terus terang, saya setuju dengan pendapat Dahono Fitrianto tersebut, dan tentunya hal itu sangat mengusik kesadaran saya, apakah memang kemampuan guru-guru kita hanya sebatas memberi nasehat dan mengabaikan contoh dan suri tauladan yang baik? Atau apakah budaya lisan sudah begitu mengental dibandingkan budaya baca yang selalu berkaitan dengan kesantunan visual? Karena pada akhirnya, yang terucap hanyalah “katanya si fulan anu dan anu..” bukannya “lihat apa yang dilakukan oleh Ikal untuk meraih cita-citanya pergi ke Paris”. Ah, semoga mimpi saya ini jadi kenyataan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: