Sisi Gelap Sang Bitter Hero

October 4, 2008

Melihat Sequel “Batman Begin”, “The Dark Knight”, saya seperti menyaksikan orkestra kolosal peperangan antara yang baik dan jahat. Bukan dalam bentuknya yang hitam putih, sebagaimana kita saksikan dalam drama-drama sekolah dan cerita-cerita orang tua kita, tapi berwarna-warni. Ia penuh dengan intrik, kepentingan politik, dan jalinan yang dalam antar individu. Dari sudut pandang yang berbeda, orkestra ini bisa muncul sebagai sebuah satir, sebuah kritik, atau sebuah martir dalam terminologi Kristianitas Barat. Dalam bahasa agama, ia bisa merepresentasikan kehidupan kita – Harvey Dent, two face,  petinggi negara, ataupun manusia biasa – yang terombang-ambing antara kecenderungan jahat dan kebaikan. Sedang para pembisik itu, Batman, wakil dari niat baik, dan Joker, kejahatan dalam bentuknya yang paling murni, tengah bertarung di luar sana. Karena ini adalah pertarungan, jelas wilayah yang ada menjadi amoral dan relatif. Si putih bisa sekejam si hitam, dan si hitam bahkan bisa setulus si putih – dilihat dari sudut pandang manapun, niat jahat Joker itu ternyata betul-betul murni dan tanpa pamrih, khas seorang psikopat atau idealis garis keras. Yang kemudian menjadi pertanyaan penting di sini, bagaimana kita merespon semua itu? Akankah kita menyadari motif-motif tindakan kita – entah yang baik ataupun yang jahat, dan berbuat sesuai “fitrah” kita? Atau lebih baik membiarkan diri kedalam ilusi orang lain sebaik apapun itu? – lihat bagaimana para polisi GPD (Gotham Police Dept.) yang ketakutan berusaha meyakinkan Dent akan ketokohannya sebagai seorang pahlawan di tengah masyarakat yang tentu saja hanya sebuah ilusi.

Simetri

Sebenarnya, bagian yang menarik dalam kisah ini bertutur tentang sisi gelap yang boleh jadi ada dalam diri kita masing-masing. Bagaikan sebuah koin keberuntungan yang dilempar jauh oleh si Jaksa Tinggi Dent, sisi gelap tak lain dan tak bukan hanyalah bentuk kepribadian kita yang berusaha kita sembunyikan. Ia menghantui kita dengan eksistensinya dan memaksa kita pada titik paling ekstrim untuk berkenalan dengan kita yang sejati. Semakin kita lari dan mengingkarinya, semakin kuat juga ia muncul. Pada saat itulah, ia hadir sebagai rasa terisolisasi, keterasingan, dan subjektivitas. Hal ini terasa kuat pada karakter Bruce Wayne, yang digambarkan sebagai bitter hero, dan terepresentasikan dengan matang pada “Batman Begin”. Trauma masa kecil, dimana orang tuanya terbunuh oleh penjahat, membuat ia secara sadar terobsesi melakukan balas dendam dan berempati kepada para korban. Hanya saja, ia bukan tipe manusia yang mau menonjolkan diri. Ia lebih memilih bersembunyi di balik topeng dan membuat sebuah kepribadian baru yang berbeda dengan Wayne, sang miliarder. Tampaknya pula, kepribadiannya yang terbagi itu, membuatnya sakit. Semakin ia menyatu dengan figur Batman, semakin ia hidup dalam bayang-bayang semu sosok Wayne yang libertine dan hura-hura.

Berbeda 160 derajat, Joker hadir sebagai sosok antagonis yang begitu fasih. Seorang psikopat murni yang tidak pernah mengalami split personalityseperti Bruce Wayne. Kecerdasan dan darah dingin yang mengalir begitu lancar membuat ia mampu membangun tingkat kejahatan yang sangat kejam, hal mana terlihat jelas dalam akting jenius Heth Ledger. Yang menjadi masalah kemudian adalah sosok Dent. Pada mulanya ia seorang hero, pembela kebenaran, dan secara sadar ia nikmati status kepahlawanannya itu, namun kemudian ia berubah haluan menjadi jahat dan bermusuhan. Bila kita bandingkan dengan Wayne, maka ia berada pada sisi yang berseberangan. Polaritas yang terbangun bahkan secara liniar: Wayne – Dent, Batman – “two face”. Sayangnya, kemunculan Aaron Eckhart sebagai antagonis tidak tergarap dengan lengkap, barangkali Christopher Nolan hendak membangun sebuah simetri dengan mengurangi kehadiran tokoh Wayne dan memperbanyak kemunculan Batman, hal mana ia lakukan dengan mengeksplorasi karakter Dent lebih banyak daripada two face. Satu lagi tokoh protagonis yang muncul adalah komisaris Jim Gordon, di sini ia adalah antinomi dari kejahatan. Dedikasinya yang tinggi pada pekerjaan, reputasinya yang tanpa cela, membuat dirinya hadir sebagai pendamping yang pas bagi Batman, dan keduanya sama-sama bangkit setelah mengalami trauma dan rasa prihatin yang dalam. Bila kita buat sebuah peta, maka komisaris Gordon berada di kuadran bagian kanan berhadapan langsung dengan Joker yang ada di kuadran bagian kiri. Yang menarik, Batman dan “two face” juga berhadapan secara langsung pada kuadran atas dan bawah, berdasarkan sifat protagonis-antagonis yang mereka perankan dan kecenderungan mereka untuk berayun ke salah satu dari dua sisi kuadran tersebut.

Kecenderungan simetri Christoper Nolan rupanya pula, berlanjut dalam alur cerita film ini. Pertama-tama, konflik muncul atara tiga tokoh protagonis berhadapan dengan tiga tokoh antagonis (Joker, pengusaha Lu, dan para gengster). Kemudian mengecil menjadi konflik dua lawan dua (Batman – Komisaris vs. Joker – “two face”), dan mengerucut kepada konflik satu lawan satu antara Batman vs. Komisaris/ polisi. Konflik inilah yang kemudian digunakan oleh sang sutradara untuk menutup cerita yang sepertinya tidak ada habisnya itu. Sebenarnya, saya sangat heran dengan keputusan Batman untuk memasrahkan dirinya menjadi bagian dari musuh, apa itu merupakan bentuk dari kecenderungan martir masyarakat Barat, ataukah sebuah bagian dari penyangkalan dan penyesalan diri, atau bahkan proses pembentukan karakter baru yang antagonis? Bayangkan, ia sudah berada di atas angin pada saat itu dan nyaris tidak memiliki lawan lagi, yang harus ia lakukan sebenarnya sederhana, tampil ke publik dan memantapkan posisinya sebagai seorang hero. Tapi ia tidak melakukan hal tersebut.

Hero

Penjelasan demonstratif akan masalah ini, sebenarnya sudah disodorkan oleh Nolan di tiga perempat akhir bagian film. Setelah kematian Rachel (Maggie Gyllenhaal),  Bruce Wayne merasa pantulan yang keras dari aksi gilanya tersebut telah menohok dirinya dengan tajam, ia kehilangan kendali terhadap situasi, terbaca jelas dalam dialog-dialognya yang suram dan penuh rasa penyesalan. Keinginan membangun sebuah orde yang beradab, justru memunculkan kekacauan yang semakin besar. Kekecewaan pun semakin bertambah tatkala Dent berubah menjadi “two face” dan ia terpaksa pula kehilangan salah satu pembantu setianya Lucius Fox, diperankan dengan pas oleh Morgan Freeman. Usahanya benar-benar hancur. Sepertinya segala suatu yang ia lakukan malah menimbulkan malapetaka, kalau sudah demikian, keputusan menarik diri adalah hal yang paling tepat. Istilahnya, mati kutu. Alasan tersebut sebenarnya bisa saja diterima, namun Nolan melupakan satu faktor penting, Komisaris Gordon. Orang nomor dua di kota Gotham ini berhutang nyawa kepada Batman, dan saya kira ia akan selalu menjadi pengikut setianya. Bila ia mampu bersilat lidah di depan publik, saya rasa pengasingan Batman malah tidak diperlukan lagi. Alternatif lain, keputusan Nolan ini  terkait dengan sekuel di film  selanjutnya. Ah, tapi itu tidak menarik.

Penjelasan yang paling masuk akal  justru hadir dalam dialog antara Batman dan Jim Gordon tentang bagaimana memulihkan kembali kepercayaan masyarakat yang semenjak kehadiran Joker telah hancur lebur. Hal ini berkaitan erat dengan keputusan Batman menjadi martir. Masyarakat, dalam pandangan Batman membutuhkan sosok pahlawan yang benar-benar nyata. Pahlawan yang mereka pilih dan konstitusional, pahlawan yang memiliki “wajah”. Batman, meskipun sangat pas memegang peran tersebut, bukanlah sosok pahlwan yang ideal. Pahlawan ideal dengan gamblang telah dipegang oleh jaksa Dent, Ialah ksatria putih itu. Sangat disayangkan memang, kalau kemudian Dent malah jatuh ke kutub kejahatan, tapi itu bukan masalah, karena ia telah tewas. Lalu, apa solusi yang pas untuk mengisi kekosongan tokoh ini? Buatlah mitos. Buat seakan-akan si tokoh protagonis kelam ini membunuh pahlawan pujaan rakyat itu. Buat seakan-akan Dent mati dalam kapasitasnya sebagai hero, membela kebenaran, bukan sebagai “two face” yang terhalusinasi oleh keinginan membalas dendam. Dan Batman? Ia akan menjadi tokoh antagonis, musuh polisi, sesuatu yang disadari oleh Wayne cepat atau lambat akan terjadi.

Tentu saja, akan ada banyak diskusi mengenai model pahlawan seperti apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh masyarakat. Dan berkenaan tentang hal tersebut kita tidak mungkin bisa mengabaikan kontribusi Clint Eastwood dalam film The Flag of Our Father. Saya tidak akan menceritakan film tersebut dalam tulisan ini, hanya mengambil sedikit sebuah paradigma Hero sebagai perbandingan. Bila dibandingkan dengan serial Batman, The Flag of Our Father lebih merupakan sebuah satir dan kritik tentang konsep hero yang diperkenalkan industri perfilman Amerika. Rakyat Amerika sendiri sudah lama terkenal patriotik, mereka melakukan segalanya dengan kebanggaan. Puncak dari segala kebanggaan itu mereka simbolkan dalam diri seorang pahlawan. Kadangkala, ketokohan seorang pahlawan begitu kabur. Ia berada di tepi sebuah jurang yang sangat dalam untuk berubah menjadi seorang pecundang. Ketika kepecundangan seseorang tidak dapat didamaikan lagi dengan atribut kepahlawanannya, mereka membuat sebuah mitos. Mitos, dan mitos inilah yang berusaha ditawarkan oleh Batman untuk memecahkan solusi tersebut.

Ekspresi

Bagi sebagian orang, hidup dalam kebohongan terasa jauh lebih menyakitkan daripada hidup dalam kemiskinan. Pada The Flag of Our Father, digambarkan betapa para serdadu yang disanjung-sanjung sebagai pahlawan di Iwo Jima, bahkan tidak kuat menanggung beban kebohongan di pundak mereka. Akhirnya, mereka memilih mati ketimbang hidup dalam imajinasi semu kepahlawanan. Kalau kita bandingkan dengan Batman, mungkin kita dapat mereka-reka bahwa ternyata ia juga dihantui rasa takut akan beban pahlawan yang nyaris tanpa cela itu. Dan diakuinya sendiri, bahwa ia tidaklah pantas menyandang gelar pahlawan tersebut. Dengan demikian kejujuran menjadi sebuah nilai yang sangat berharga dibandingkan segalanya. Kejujuran itu pula yang saya rasa melatar belakangi motif Joker meneror seisi kota.

Bila Batman merupakan bitter hero, maka pantaslah kalau Joker disematkan predikat bitter villain. Dari caranya bertindak yang nyaris tanpa motif, masa lalunya yang benar-benar gelap, dan pengakuannya mengenai trauma masa kecil, nyaris serupa dengan diri Bruce Wayne. Pada adegan interogasi di ruang polisi, ia bahkan mengakui semua kejahatannya itu terinspirasi oleh tingkah laku Batman. Semua kegilaannya itu tak lain dan tak bukan hanya untuk mengimbangkan perilaku sang idola. Joker ada karena Batman ada, ia hanya hadir sebagai penyeimbang, yin dan yang. Dan benar-benar ia melakukannya dengan penuh kejujuran dan tulus. Batman juga menyadari hal itu, dan mungkin menjadi satu-satunya alasan mengapa ia tidak dapat menghabisi Joker. Simply pure, honest and crazy.

Memahami kepribadian Joker, saya teringat teori moral eksistensialisme. Menurut paham ini, yang diciptakan oleh filsuf Jean-Paul Sartre, eksistensi itu mendahului esensi. Eksistensi kita adalah ekspresi paling jujur yang ada dalam diri, sedangkan esensi adalah standar moral baik dan buruk. Menurut paham ini, tidak ada yang namanya kebenaran mutlak, manusia itu bebas memilih standar moral bagi dirinya sendiri. Yang paling penting justru bagaimana manusia itu mengungkapkan dirinya yang otentik kepada dunia. Singkatnya, berlaku jujur lebih mulia daripada berbuat baik, dan apa yang saya cerna dari karakter Joker, ternyata ia begitu menikmati ekspresi kejujurannya tersebut. Kejujuran seorang psikopat.

***

Gordon                : “Thank you”

Batman                : “You don’t have to thank me”

Gordon                :”yes I do.”

“The Joker won. Harvey’s prosecution, everything he fought for, undone. Every chance we had to fixing at our city, dies with Harvey’s reputation. We bet it all on him. The Joker took the best of us and tore it down. People will lose hope”

Batman                : “they won’t. They must never know what he did”

Gordon                : “five dead, two of them cops! You can’t sweep that up.”

Batman                : “But the Joker cannot win. Gotham needs its true hero.”

Gordon                : “No..”

Batman                :”you either die a hero, or you live long enough to see yourself become the villain. I can do those things because, I’m not a hero, unlike Dent. I kill those people, that’s what I can be”

Gordon                : “No, No! you can’t you are not”

Batman                : “I’m whatever Gotham needs me to be. Call it in”

“they’ll hunt you- you’ll hunt me. They condemn me. Set the dogs on me, because it what needs to happen. Because sometimes the truth, isn’t good enough. Sometimes people deserve more. Sometimes people deserve, to have their faith rewarded.”

Gordon’s Son       : “Batman, Batman!”

why he is running dad?”

Gordon                : “Because we have to chase him”

Gordon’s Son       : “he didn’t do anything wrong”

Gordon                : “Because he’s the hero Gotham deserved, but not the one it needs right now. so we’ll  hunt him, because he can take it. Because he’s not a hero”

He’s a silent guardian, a watchful protector.

“A dark knight”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: