My reply on 90% Atheist & 10% Christian

October 8, 2008

 

Ini adalah rangkuman jawaban saya di klub Obrolan Sastra, Seni & Filsafat di grup Friendster.

Some one post: 

ayo, I challenge u to answer these questions.

1. Klo ada Tuhan, kenapa ada perang? malah perang agama lg

2. Klo ada Tuhan, kenapa dia buat byk agama?

3. Klo ada Tuhan, kenapa byk ketidakadilan di dunia?

4. Klo ada Tuhan, kenapa ada kaum kapitalis yg hidup kaya terus dari lahir walaupun jahat terus n kaum buruh yg miskin terus dari lahir walaupun baik?

Pliz, answer these qws!

someone!

 

My reply:

 

Saya anggota baru klub ini, dan saya tertarik menjawab pertanyaan dari 00- Rubenz.

Menurut saya, kenapa pertanyaannya tidak dibalik saja. Kalau tidak ada Tuhan, apa benar perang tidak ada? Atau, kalau tidak ada Tuhan apa benar, ketidakadilan berkurang, atau kapitalisme tidak berjaya? Mungkin juga dibuat premis baru, Kalau Tuhan tidak ada apa kapitalis yang hidup kaya tapi jahat dan kaum marhaen yang miskin tapi baik juga tidak ada? Yang menjadi masalah di sini, saudara 00- Rubenz memandang Tuhan sebagai sebuah implikasi logis semata. Mungkin saja ia beranjak dari premis Tuhan yang serba Maha itu. Maha Kuasa, Maha Perkasa, atau juga Maha Sempurna, kemudian membandingkannya satu persatu dengan realitas empiris. Tentu saja kita paham bahwa alam logika itu bersifat tautologis, kebenarannya sudah ada terlebih dahulu sebelum kita menarik kesimpulannya, karena itulah ia tidak dapat digunakan untuk menolak pengetahuan empirik. Kebalikannya, pengetahuan empirik dapat kita jadikan argumen untuk mematahkan nalar logika. Dalam hemat saya, premis “kalau Tuhan ada” merupakan premis logis, sedangkan turunannya seperti “ada perang” dll., itu premis empirik. Sehingga, dari sudut pandang “kelas premis” perbandingan ini menjadi tidak seimbang. Dan di sinilah kita terjebak kepada sebuah dilema, karena dalam kasus ini, premis logislah yang dijadikan patokan untuk meng”hakimi” premis empirik. Bukan sebaliknya.

Sebenarnya, permasalahan seputar konsep Tuhan telah lama ada dalam sejarah filsafat. Hal ini menunjukkan betapa konsep logika Aristotelian tidak memadai lagi untuk digunakan dalam membahas suatu konsep hegemonik semacam Tuhan. Ada banyak sekali usaha untuk mengatasi kekurangan ini (maaf sudah lupa Smile , tapi bisa dicari kok di buku teks tentang filsafat agama). Dari sudut pandang penulis, saya melihatnya sebagai sebuah ungkapan kekecewaan, menggunakan konsep nalar Marxisme mengenai pertentangan kelas. Bagi saya, sebenarnya itu bukan masalah. Yang jadi soal adalah, apakah anda percaya kepada Tuhan? Karena jika tidak saya akan mengajukan pertanyaan: Apa orang yang tidak percaya Tuhan dapat menjamin sebuah dunia yang tanpa perang, tanpa ketidakadilan, dan tanpa ketimpangan sosial? Namun, kalau anda benar-benar percaya Tuhan: Apa sumbangsih kepercayaan anda tersebut bagi perdamaian dunia, keadilan sosial, dan pemerataan kekayaan?

Well, mungkin kita harus mendefinisikan ulang konsep Tuhan. Bagiamana?

 

The Poster, replys my reply:

 

Thanks 2 all… Smile 

Emang, saya suka menggali dan mengenal lebih jauh ttg tuhan, apakah dia itu ada atau tidak.

seju2rnya saya sendiri juga mulai atheist 90% (agnostik bahkan, tp tulis christian aja di FS, mslhnya klo ka2k ngliat bisa berabe, hahaha).

Permasalahannya, sy cuma mencari tau tujuan hidup kita setelah mati, setelah mati kita ga ada yg tau ke mana kan?
dan, bila saya melihat soal pandangan tuhan dari sudut pandang Blaise Pascal (http://en.wikipedia.org/wiki/Pascal%27s_Wager) itu termasuk pandangan ragu2 dan sama aja mempermainkan tuhan dalam mencari keselamatan setelah mati.

Seju2rnya, ada juga yg mo saya jawab, yang soal apabila tidak ada tuhan, apakah tidak ada perang.
sekarang saya mo balikkan lagi, apakah anda yakin klo tuhan itu ada? saya bertanya dalam artian lain, bukan mentah2 seperti itu.

n soal kaya tapi sakit2an n miskin tp bahagia, itu cuma kebanyakan di sinetron kali, be realistic lah.
sebetulnya, org yg miskin itu yg lebih menderita.
yg q bilang kan kaum buruh n kapitalis, jd konteksnya adalah org miskin yg disikat habis waktunya n dikerjakan >12 jam oleh kaum kapitalis ini, klo begitu gimana?
siapa yg bahagia?
org yg miskin yg ga ada waktu utk kumpul keluarga ato org kapitalis yg bisa jalan2 ke Paris smbil nyantai2 sm istri, pacar, selingkuhan, anak, dll. Sad 

n emng bagus utk mendefinisikan tuhan itu, masalahnya ini menyangkut kehidupan setelah kematian kita.
apakah itu bener2 ada? ato qt langsung lenyap gitu aja?

“as long as there will be men, there will be wars” right? (itu kata einstein)
tuhan membiarkan adanya manusia utk berperang, berarti anda semua yakin (einsteinpun juga klo dari statementnya di atas) kan klo tuhan telah menakdirkan kita sebelum lahir utk masuk neraka ato surga sblm kita lahir bukan?

kenapa begitu?
ya… bisa dilihat dgn pasti, manusia pada dasarnya baik, tetapi pengalaman yg di luar kendalinya yg buat dia jahat (berdasarkan “as long as tehre will be man, there will be wars”). jg si pencetus WWII, Hitler, dia sebetulnya baik (dia sempat ikt jd misionaris lo), hanya saja dia sudah ditakdirkan utk jd jahat.

Saya tidak menggambarkan klo tuhan itu jahat.

Tp saya mo balik bertanya kpd kalian semua, apakah kalian yakin akan tuhan yg menguasai seluruh semesta?
saya mo balik bertanya jika anda percaya,
menurut common sense anda semua, apakah anda bisa menyatakan bahwa agama anda itu yg betul2 dari tuhan yg membuat universe ini?

saya berani menerima tantangan anda semua, n bisa di kirim lewat email sy, ruben_celebes@yahoo.co.id (hahaha, ke-pd-an).

okay?

auf wiedersehen alles! Very Happy 

 

Other replys on post

 

1. Klo ada Tuhan, kenapa ada perang? malah perang agama lg
=> karena Tuhan adalah hasil kreasi dari manusia sendiri yang bernama Nabi, dan agama sebagai institusinya. Dan manusia suka berperang. Maka agama adalah sebagai institusi perang (tidak jauh beda dg institusi seperti Kodam-Kodam dg korps2nya sendiri). Jadi jangan heran kalau dalam agama terkenal dg istilah “KAFIR”. Kata ‘kafir’ berarti maklumat perang. Dan tanpa Tuhan pun manusia suka berperang. karena memang demikian sifat dasar manusia.

2. Klo ada Tuhan, kenapa dia buat byk agama?
=> Justru karena ada Tuhan jadi ada banyak agama. Tuhan dibuat manusia sebagai refleksi atas apa yang ada di kepalanya (di kepala Nabi tentunya, sbg yg memproklamasikan Tuhan Yang Seharusnya disembah). Dan setiap manusia/nabi punya pemikiran yang berbeda dikarenakan jaman hidupnya yg berbeda pula.
Kalau tidak ada Tuhan, sudah pasti tidak ada agama bukan..

3. Klo ada Tuhan, kenapa byk ketidakadilan di dunia?
=> Justru karena ada Tuhan itulah terjadinya ketidakadilan, sebab dengan demikian manusia jadi dibatasi pola pikirnya oleh : AGAMA. Agama sebagai kerangka berfikir yang mungkin berguna di masanya tapi tidak berguna di masa kini. Kata “KAFIR” adalah cikal bakal ketidak-adilan yang mengalienasi manusia ke dalam kotak-kotak golongan menentukan mana yang boleh mendapat perlakuan baik dan mana yang tidak atau bahasa kerennya KKN.

4. Klo ada Tuhan, kenapa ada kaum kapitalis yg hidup kaya terus dari lahir walaupun jahat terus n kaum buruh yg miskin terus dari lahir walaupun baik?
=> Kalo ini gak perlu ada Tuhan, ini karena ada orang jahat yang tersistem dan orang baik yang tidak tersistem (sporadis). Dan salah satu yang banyak sumbangannya dalam pembentukan kelas borjuis dan proletar ini adalah AGAMA. Agama dibutuhkan pemerintah (borjuis) untuk melestarikan kekuasaannya, dengan cara mengontrol rakyat lewat ketakutannya dan ketaatannya di depan pemuka agama yang bergabung dalam lembaga agama yang disahkan oleh pemerintah itu sendiri. 

Maka kata Marx : Kalau ingin menghancurkan tatanan lama dan membangun yang baru, lebih dulu tanggalkan kepalsuan (agama) yang melekat pada diri kita. Sebab tanpa itu, ibarat membangun istana pasir. Membangun untuk membangun lagi yang serupa.

 

I reply poster’s

 

Dear Rubenz,

Sebenarnya ada ungkapan yang cukup tendesius seputar filsafat, bahwasanya ia tak lain dan tak bukan hanyalah catatan kaki terhadap pemikiran filosofis Plato. Ungkapan ini tidak mengada-ada, karena apa yang dibicarakan dalam filsafat, hanya berputar-putar sekitar masalah “ada” – Being, sein, wujud – saja. dan sejak Plato menulis risalah-risalahnya hingga saat ini, tidak ada kemajuan berarti saat para filsuf hendak mencoba menjawab apa itu “ada”? Saya sendiri sangat berempati kepada pencarian anda terhadap Tuhan. Tapi trust me, filsafat itu sangat berbeda dengan sastra yang emosionil, jadi simpan dahulu pertanyaan-pertanyaan anda yang berapi-api itu kedalam laci, dan mari berpikir secara jernih. Smile 

Tuhan itu konsep yang pelik dalam filsafat, bukan saja kehadirannya dalam kehidupan manusia tidak empiris, tapi karena Ia terlanjur dipersepsi sebagai sosok yang Maha Besar, nyaris tanpa batasan. Padahal kita tahu bahwa filsafat sendiri sangat menyukai batasan (ingat definisi, to define means to limit). Belum lagi konsep agama anda (baca: Trinitas) yang secara logis benar-benar merepotkan dan susah untuk diterima. Bila kemudian Kristianitas Barat menggunakan konsep ini sebagai landasan teologis mereka, itu tak lain karena filsafat sudah begitu mapan jauh sebelum kelahiran Kristus, dan tak ada jalan lain selain meng-kristenkan Plato. Kamu bisa melihat argumen-argumennya Thomas Aquinas dia teolog Kristen terbesar.

Karena lebarnya masalah – bisa-bisa saya buat skripsi di group ini Smile – saya hanya mengambil satu perspektif saja tentang Tuhan, dan ini perspektif yang paling umum. Hubungan antara Tuhan dan manusia adalah hubungan antara yang tak berhingga dengan yang berhingga. Karena ketimpangan ini kita hampir-hampir tidak dapat menyentuhNya secara langsung. Apa yang kita maksud dengan Tuhan dalam kepala kita, yang sangat kecil ini, tentu saja tidak berarti apa-apa dibanding dengan “ada”Nya. Karena itu sangat tidak bijak “menghakimi” Tuhan dengan pemikiran yang sangat terbatas. Hal ini menjelaskan kenapa agama-agama timur semacam, Budhisme, Hindu, Konfusianisme, dan Taoisme, tidak pernah memiliki konsep yang jelas mengenai Tuhan. Karena mereka enggan membahas sesuatu yang berada di luar jangkauan pemikiran mereka.

Sebenarnya, anda bisa saja melewatkan permasalahan ini dan mencari Tuhan dalam Iman Kristen anda. Menurut saya, agama memiliki otoritas yang signifikan dalam membahas Tuhan. Karena saya muslim, saya menawarkan sebuah konsep yang lekat di dalam al-Quran yakni konsep bila kayfa. Ia adalah konsep yang selalu membedakan Tuhan dari berbagai macam hal. Kalau kita bertanya, apakah Tuhan itu memiliki tangan? iya, tapi bagaimana tangan Tuhan? Berdasarkan konsep ini kita hanya menjawab tidak tahu, karena Tuhan itu begitu jauh, begitu berjarak dan kita tidak akan pernah bisa mencernanya. Atau dalam bahasa Kristen, Tuhan bekerja secara misterius, dan kita hidup di dalamNya, bagaimana pula kita bisa mengerti? Dalam bahasa filsafat, Tuhan adalah sebuah bentuk pengalaman. Sebuah Solipisme. Pikirkan tentang rasa sakit, apakah pengalaman sakit antar seseorang dan orang yang lain itu sama atau berbeda? maka demikianlah konsep mengenai Tuhan, begitu subjektif.

Sayang sekali, karena bentuk pengalaman ketuhanan yang sangat subjektif tersebut, kita malah mengkaitkan konsep Tuhan dengan ego kita. Saat anda tersinggung karena suatu perbedaan pendapat mengenai Tuhan, sebenarnya itu hanyalah persoalan ego semata. Karena kita seringkali tidak siap menerima konsep yang tidak sesuai dengan ke”Aku”an kita, malah membuat kita terjerumus kepada kebencian dan permusuhan. Mungkin, itu awal dari perang-perang yang mengatasnamakan agama, bahkan lebih absurd lagi, mengatasnamakan Tuhan. Bukankah realitas Tuhan yang sesungguhnya tidak terjamah. Kalau begitu, kenapa sih kita harus percaya kepada Tuhan? Entahlah, jawabannya barangkali muncul dari Biologi. Mengenai kecenderungan untuk menyembah sesuatu, Menuhankan sesuatu, itu sudah tertanam di DNA kita sejak purba. Kalaupun kemudian orang tersebut berubah menjadi atheis, akan selalu ada kerinduan untuk menggantikan Tuhan. Dengan apa? Tanya saja para ateis.

Kemudian bagaimana kita memaknai Tuhan? Dari tulisan anda, terbesit pencarian akan hidup setelah mati, bagaimana nasib kita? Ya, saya paham, selalu saja terdapat hubungan antara percaya dengan Tuhan dengan konsep keselamatan. Bagi saya, ini adalahselling point agama-agama di dunia. Selalu saja terdapat imbalan bagi mereka yang mau mengikuti sebuah ajaran. Dalam Kristen, misalnya ada klaim: tidak ada keselamatan di luar Kristus. Dalam Islam juga begitu, sama seperti Yahudi, dsb. Apa ini salah? Tidak juga, karena agama cenderung berurusan dengan sesuatu yang massif, maka demikianlah juga klaim-klaimnya, yang terkadang begitu dangkal. Kita seperti beragama dengan para pedagang. Tapi, kalau anda benar-benar serius untuk mencari Tuhan, anda pasti akan mencoret pikiran tersebut dari daftar pertanyaan anda. Karena yang seharusnya ditanyakan adalah, apakah Tuhan benar-benar mencintai saya?

Kata cinta, kasih, itu banyak sekali dalam kamus Kristen. Tapi, kenapa juga masih memikirkan keselamatan diri sendiri, egois! Kalau kamu benar-benar mencintai Tuhan, surga dan neraka sudah tidak relevan. Entah jiwa kita membusuk selamanya di neraka, atau apapun keinginan Tuhan, itu bukan masalah. Rabiah, para sufi, mistikus, rahib Kristen, mereka semua menggunakan pendekatan ini. Yang dicari hanyalah bagaimana agar Tuhan ikhlas kepada kita, dan bagaimana kita mengejewantahkan cinta kita kepada Tuhan. Lupakanlah agama, sekat-sekat itu sudah tidak berlaku lagi saat anda mencapai esensi cinta ini. Seperti sang kekasih bertemu dengan pujaan hati. cinta paling murni tanpa pamrih, jauh melebihi novel-novel picisan. Orgasme immateri, ekstase. 

Untuk mencinta kita butuh mengetahui. Lalu bagaimana caranya mengetahui, Tuhan? Ada sebuah kredo yang cukup terkenal di dunia tasawuf: “Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa Rabbahu”, siapa yang mampu memahami dirinya maka ia juga telah memahami Tuhannya. Mungkin kita harus berangkat dari sini, dari diri kita, dari jiwa kita, dari keterbatasan kita, dari keegoisan kita, dari keangkuhan kita. Dari diri kita yang paling dalam.

Selamat mencari Tuhan!

 

Other replys on my reply

Dear HP..
oce, i get your point.
klo boleh sya tarik ksimpulan..
sdut pndang anda pan-teologisisme.
Tuhan dalam diri tiap makhluknya..
tuhan tidak kemana – mana tp tuhan ada dimana – mana.
tp sekali lg, ragukan semua hal (R.Descartes), mngkin, tuhan yg dmksudkn sodara rubenz bkn tuhan di atas, maha kuasa, krna dia tidak yakin tuhan ada krn tdk trtngkap indrawi (agnostis – materialis sekali ya??).
dan lagi to be is to be perceived (Berkeley).
tuhan ada krna persepsi sgt mungkin bkn?
cm mnanggapi, sperti ad aturan tdk trtulis dlm filsft, “para pemula! jngn dulu tabrakkan agama dan filsafat, krna agama punya filsfat, dan filsft punya agamanya sendiri..”
tq.

 

Poster replys on mine and others

Thanks 2 all, kalian smua emng kool! Cool 

emang, sebetulnya topic yg saya post ini merupakan topic yang dangkal, dan itu sengaja saya buat utk menarik banyak orang, sebetulnya saya mengganti topik ini dengan

“Benarkah Dia Tuhan yng kita sembah?”

Permasalahannya, sudah sy bilang, emng saya sudah 90% atheist.
mungkin banyak dari kalian tidak setuju dengan pemikiran egois saya ttg keberadaan Tuhan sendiri.

Emang, pemikiran manusia hanya terbatas, qt ga tau apakah Tuhan itu ada atau tidak.

Yang saya juga bingungkan adalah buku “The Secret” itu sendiri. Buku itu terdengar sedikit aneh karena yg ikut partisipasi dalam pembuatan buku itu merupakan org2 terkenal. Yang saya bingungkan yaitu buku itu menggantikan Tuhan dengan kekuatan pikiran manusia. Manusia mempunyai kekuatan pikiran yang bisa dianggap merupakan pemikiran dewa2 dan tuhan2, jadi di buku itu (walaupun tidak langsung) kitalah tuhan dari diri kita.

saya juga sempat berpikir tentang agama Hindu, kenapa mereka juga mempunyai pikiran bahwa tingkat reinkarnasi tertinggi di dunia adalah menjadi manusia, kalau manusia itu berreinkarnasi ulang (dgn samsara dlm hidupnya) maka ia akan menjadi dewa. dan ini bukan hanya di Hindu, di Kristen juga (walaupun tidak secara langsung), Kristen mempercayai apabila kita telah dibangkitkan dan menjadi penghuni kerajaan surga, maka kita akan memerintah dengan Tuhan di surga.
Pertanyaannya, apakah di surga masih ada kasta bila kita memerintah di surga dan di surga itu ada yang diperintah?
Menurut kesaksian banyak org Kristen yg mati suri dan Alkitab sendiri tentunya, di surga segalanya dilakukan bersama2 tanpa ada yang memerintah.
Jadi apa maksud maksud memerintah dengan Tuhan di surga itu?
Apakah akan ada selanjutnya org di bumi yg akan kita teliti dan koreksi selanjutnya? (kebanyakan agama ngajarnya gini lho!)

Sebenarnya, keberadaan dari agama yang tidak pasti itu apa? apakah kita hanya mengikuti sang pembuat2 agama itu? mengapa tidak terpikir oleh kalian untuk menjadi pembuat agama menurut versi kalian? (yang baik ajarannya tentu saja)
Apakah karena sedikit yang akan mengakui anda apabila anda bergerak membuat agama sendiri dan apakah karena kalian hanya mengikuti agama yang dibawa sejak lahir (sama aja menjiplak tanpa tau konsep2 dasar pembuat agama itu kan? padahal mungkin saja konsep2 ini sudah tidak bisa berlaku lagi sekarang) makanya anda takut?

Menurut Bung H.P yg beragama Islam, apakah tidak terpikir oleh anda sendiri ayat2 di Alquran yang mengatakan “Isa adalah rohulullah dan Kalimatullah” (pembenaran kata dibutuhkan), “Isa akan menjadi imam mahdi di pengadilan terakhir”, “kaum nasrani diberi makan oleh dari atas” (semua kitab dan ayatnya saya lupa).
Saya juga sempat tahu banyak tentang Al-quran. Karena sewaktu SMP saya merupakan Kristen yang fanatik (dulu lho).

jadi, dalam agama-agama yang dibuat oleh manusia ini (semuanya) yang akhirnya membuat banyak perang, semuanya itu tenyata dilandaskan oleh keragu-raguan juga (semua agama).

klo ada yang mungkin mau men-counterattack saya, boleh aja, klo perlu langsung ketemu ato lewat telpon, supaya saya juga meng-counterattack anda dengan pertanyaan yang ga akan bisa anda jawab!

okay, danke und auf wiedersehen alles! Smile

 

I replys on other’s

Dear Rice,

Pan-Teologisme? Apa itu seperti maksud Kuntowijoyo, pemikiran serba teologi yang cenderung mengalienasi rasio? Bukankah itu juga yang menjadi penolakannya, bahwa dalam Islam itu tidak pernah ada pan-Teologisme, karena sejak lama sudah ada pertalian yang kuat antara wahyu dan rasio. Kalau itu yang anda maksud, tentu saya tidak akan pernah memaksudkan ide-ide saya tadi sebagai model pan-teologisme. Tapi, kalau yang anda maksud itu sebagai mistisisme, bisa jadi saya setuju.

Ketika renaissance, Barat sangat tertarik kepada bentuk filsafat Yunani yang lebih rasional dan melupakan bentuk lain dari filsafat, yaitu mistisisme. Jenis Filsafat ini, adalah Neo-Platonisme yang mendapat tempat memadai dalam filsafat Islam. Meskipun demikian, Neo-Platonisme juga mendapat tantangan dari umat Islam sendiri. Setelah kehancuran Baghdad oleh invansi Mongol, Filsafat hampir musnah di seluruh dunia Islam, kecuali di Iran yang Syiah. Di sinilah, Neo-Platonisme beradaptasi dan berkembang menyatu dengan pemikiran tasawuf serta bertrasnformasi menjadi mistisime Islam. Yang unik dalam Mistisime ini adalah penggunaan rasio yang memiliki porsi yang sama dengan penggunaan wahyu dan pengalaman kebatinan khas tasawwuf. Sekedar pelurusan, yang saya maksud dengan mistisisme adalah sebuah usaha untuk mencintai Tuhan, dan sama sekali tidak tidak ada hubungannya dengan klenik, sihir, black magic, tarot, astrologi, dan lain sebagainya, yang kita kenal sebagai khurafat.

Dengan mengambil sisi rasional dari filsafat, Barat menjadi sangat berkembang, namun juga kering dalam penghayatan mereka tentang Tuhan. Patut disayangkan, sebenarnya mistisime yang serupa di dunia Islam juga berkembang dalam Gereja, tapi seiring revolusi Prancis, dimana agama berubah menjadi musuh dari kemajuan,ia kehilangan perannya dalam dunia filsafat. Saat itulah, atheisme berjaya dan manusia Barat berkembang dalam kekosongan. Mereka yang ingin terhindar beralih kepada Gereja, yang juga disayangkan, malah menolak mentah-mentah bentuk pemikiran rasional dari filsafat. Mereka lebih mengandalkan Kitab Suci sebagai pandangan hidup mereka. Dan di sinilah kemudian muncul Pan-Teologisme, yang saya kira merupakan bentuk ekstrim dari Sekularisme. Pemisahan Negara dengan Gereja, dalam ilmu pengetahuan berarti pemisahan antara Sains dan wahyu. Berikan kepada Tuhan hakNya, dan berikan kepada raja haknya.

I replays on poster’s

Dear Rubenz,

Kita semua juga ruhullah, ruh Tuhan, karena ruh manusia itu ya memang berasal dari Tuhan. Karena Tuhan yang menciptakan kita dan memberikan kita kehidupan. Tentang Kalimatullah, saya rasa para nabi itu semua Kalimat Allah. meniru bahasa Sukarno, penyambung “lidah” Tuhan Smile . Dua persoalan tadi sangat banyak dibahas dalam dunia Islam, terlebih tafsir. Ini disiplin ilmu yang sangat teknis dan kompleks, saya tidak bisa memberikan jawabannya begitu saja. Bahasa al-Quran itu singkat dan padat, setiap detilnya menyimpan petunjuk tersendiri, bahkan untuk orang-orang yang sering membacanya setiap hari. Selalu saja ada hal baru yang kadang terlewat dalam pembacaan sebelumnya. Mungkin karena itulah ia disebut mukjizat. Mukjizat kata-kata. (untuk hal ini terserah keimanan masing-masing) Smile

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: