Passion in Debate

October 12, 2008

Seperti kata Nietzsche :
“Tuhan telah mati dan kita lah yang membunuhnya”

seperti kata Lao Tzu dlm TAO :
“di dunia ini ada yang abadi dan yang akan hilang. Yaitu Alam, Zaman dan Manusia”

Tuhan itu diciptakan oleh pemenang di zamannya. Sejarah (termasuk Sejarah terbentuknya Tuhan) menentukan cara berpikir dan cara pandang manusia berikutnya. Dan agama, surga dan neraka hanyalah konsep yang mungkin pernah berhasil dan pernah ada. Yang menjadi sindrom di masa depan, seperti vetsin, sekali pake pingin lagi..! Razz

dan agama tidak lain hanyalah sejarah

Razzlet’s rock

****

Setuju!!!

Karena Tuhan telah membatasi dirinya untuk dikenal oleh manusia, yaitu Wujud/Dzat’a dan Kehendak’a akan Alam Semesta yg Dia ciptakan…,
Ada yg bisa nambahin???

Tuhan itu diciptakan oleh pemenang di zamannya. Sejarah (termasuk Sejarah terbentuknya Tuhan) menentukan cara berpikir dan cara pandang manusia berikutnya. Dan agama, surga dan neraka hanyalah konsep yang mungkin pernah berhasil dan pernah ada. Yang menjadi sindrom di masa depan, seperti vetsin, sekali pake pingin lagi..! Razz

dan agama tidak lain hanyalah sejarah

Ya, Mungkin itu adalah keyakinan Mas…., gw kagak bisa ikut campur, karena susah untuk menjelaskan keberadan Tuhan. Menurut gw pemahaman akan keberadaan Tuhan tidak bisa dibagikan kepada org lain, karena hal itu bersifat personal. Ya, itulah Filsafat yg bersifat metafisis. Karena filsafat meurut gw tidaklah dipandang sebagai produk pemikiran tapi sebagai sebuah proses.

****

Tuhan membatasi dirinya untuk dikenal oleh manusia sebab TUHAN adalah si manusia itu sendiri (nabi) yang ingin manusia lain tunduk kepada dia tanpa mereka harus merasa seperti itu. Maka diangkatlah TUHAN menjadi simbol kebersamaan suatu kelompok.

contoh bagus untuk perumpamaan : film EQUILIBRIUM (christian bale) dimana ternyata “The Father” yg selama ini ditampilkan secara tekno-visual di depan masyarakat itu tidak pernah ada, melainkan hanya rekayasa birokrat belaka untuk mengikat ketertundukan masyarakat.

dari sini bisa ditelusuri :
mengapa ilmu “manunggaling kawula gusti” milik Siti Jenar dianggap tabu/bidah/sesat ? sebab ilmu itu adalah TOP SECRET dari PARA WALI SONGO yang bisa jadi merupakan rahasia para NABI, yang menjelaskan bahwasanya Tuhan itu adalah Sang Nabi itu sendiri yang tidak boleh bocor kepada umat karena akan mengancam kestabilan kelompok (agama) itu. Konon Siti Jenar dieksekusi mati dihadapan ke 9 Wali, menandakan perkara ini sangat-sangat penting. (padahal Siti Jenar ga zinah dan ga bunuh orang). Mirip kisah misteri Naskah Supersemar ya ? Very Happy

Mencari Tuhan rasanya kok persis mencari dalang G30S ya : Apakah Sukarno atau Suharto ?

Evil or Very Madmore light..

****

Bukankah siti jenar adalah seorang Muslim???? Kalo memang Tuhan seperti yg digambarkan bapak’a Socratez! eh, Bapak Son of Socratez, kenapa Siti Jenar tidak membuat Tuhan Baru??? Ajaran Siti Jenar kalo g salah dari Ibnu Arabi..,

Baca Thread “Filosofi Wayang”, Hal seperti itulah yg diajarkan para wali dalam (boleh dibilang) “menemukan Tuhan”. Dan itu sifat’a personal…,

Jangan terlalu berasumsi Negatif Mas!!! Very Happy

Konon Siti Jenar dieksekusi mati dihadapan ke 9 Wali, menandakan perkara ini sangat-sangat penting. (padahal Siti Jenar ga zinah dan ga bunuh orang

Konon SOcrates uga dihukum mati dihadapan plato. Bahkan lebih parah disuruh minum racun dg tangannya sendiri. (padahal Socrates ga zinah dan ga bunuh org).

Mencari Tuhan rasanya kok persis mencari dalang G30S ya : Apakah Very HappySukarno atau Suharto ?

Ya, kalo kita mengaggap para Nabi adalah Tuhan itu sendiri, bisa jadi. Kalo bapak menganggap Tuhan adalah sesuatu yg menciptakan kita. Misteri’a akan lebih sulit berjuta milyar kali lipat dari kasus pencarian dalang G30S atau pun Supersemar. Itu cukup logis kok…, Very Happy

Pernah denger g kalo yg nama’a Tuhan, God, Thor, Al, El dll hanyalah sebutan dari mausia yg menyembah apa yg dinamakan sebagai Sang Pencipta. Termasuk kata Allah sendiri, menurut Gardner istilah tersebut berarti Sesuatu Yg Paling Sederhana. Menurut gw sech hal ini menunjukkan kalo Nama dari Sesuatu yg manusia sembah (Yang meciptakan manusia) sendiri, manusia tidak pernah tahu (baca ; Sejarah Tuhan karangan Karen Amstrong). Apalagi menemukan Dia! sekali lagi sangat logis Kok…,

****

dia baru saja akan membuat Tuhan baru tapi keburu ‘tercium’ wali songo dan di hukum mati.

nampaknya siti jenar harus belajar banyak dari Tyler Durden dalam film Fight Club mengenai hal menjadi diri sendiri. “If we are God’s unwanted children, so be it! “

dan setelah itu Plato pergi meninggalkan negerinya dengan penuh perasaan benci kepada negaranya yang telah “mengeksekusi” pengetahuan.

sedangkan wali songo merasa perlu melindungi RAHASIA PARA NABI dengan mengeksekusi Siti Jenar.

Segala cara akan ditempuh untuk mempertahankan kestabilan dan kekuasaan.

“Karena itu banyak orang berpendapat bahwa bila ada kesempatan, sang penguasa dengan cerdik harus menciptakan sosok musuh bersama, sehingga apabila musuh itu diberantas sang penguasa akan memperkuat kejayaannya sendiri” (Niccolo Machiavelli)

****

Terlalu berasumsi…,

Pernah tahu perjalanan hidup Ibnu Arabi kagak???
Seorang kaya Raya dari andalusia yg memilih hidup sederhana. Konon dia udah ketemu ma Tuhan yg dibawa Muhammad melalui imajinasi kreatif dia. Dia pun seperti siti jenar yg di musuhi oleh mayoritas muslim sampe saat ini…,
Koq dia kagak buat agama baru y???Apalagi dia kaya…,
Very HappyVery HappyVery HappyVery Happy

****

karena Arabi tak sehebat muhammad, Arabi adalah hamba dari ajaran muhammad. Takaran pikirnya telah dibatasi oleh pemikiran muhammad. Untuk bisa menjadi lebih dari muhammad (atau membuat Tuhan sendiri) Arabi mesti keluar secara total dari kungkungan ajaran muhammad itu. Keluar dari menjadi peniru menjadi pionir.

andai saja Machiavelli sudah ada di zaman Arabi dan dia pelajari itu, bisa jadi ajaran muhammad punya tandingan baru.

kali ini Arabi harus belajar dari Tyler Durden di film FIGHT CLUB (lagi???????????) Very Happy

“It’s only after we’ve lost everything that we’re free to do anything”

****

Dear Son of Socrates,

Sepertinya salah besar kalau mengatakan bahwa Tuhan adalah penjara para filsuf. Justru sebaliknya, merekalah yang berusaha mencari hakekat tertinggi dari alam semesta ini, the ultimate being, yakni Tuhan itu sendiri. saya malah curiga apa yang anda maksud justru Tuhan yang hendak dibebaskan para filsuf dari segala bentuk penyimpangan. Bahkan, dalam beberapa tesis peneliti Barat kontemporer, Nietsczhe sendiri termasuk orang yang percaya kepada Tuhan, lihat tulisan Gillez Deluze mengenai Nietsczhe. Tuhan yang dimaksud oleh Nietsczhe, dalam kalimat Tuhan telah mati, tak lain dan tak bukan adalah Tuhan hasil bentukan agama tempat ia berkembang saat itu. Tuhan orang-orang Kristen. Yang tidak memiliki sifat-sifat manusia Uber Allez-nya, hanya sebuah resentment, yang tidak dapat berdiri di atas kakinya sendiri. Tahulah gimana pemikiran Nietsczhe, ia sangat memuja maskulinitas. Tuhan Kristen itu tidak pernah memiliki sifat-sifat demikian, karena itulah ia memberontak kepada Tuhan, Tuhan orang-orang Kristen.

Ada satu hal yang ingin saya luruskan di sini, seputar masalah syekh Siti Jenar. Memang dari cerita yang banyak beredar, syekh Siti Jenar dihukum mati dihadapan wali songo. Tapi, ajaran beliau itu tidak pernah sekali-sekali memaksudkan Nabi sebagai Tuhan. Itu salah besar! Baik yang mendukung ajaran wahdatul wujud maupun yang menentangnya (para wali songo) sama-sama menolak pemikiran anda tersebut. Wahdatul wujud sendiri merupakan sebuah konsep logis dari upaya pencarian manusia akan Tuhan. Kata kuncinya adalah cinta. Ketika kita sudah mencintai seseorang, maka tidak ada sesuatu yang menghalangi kita dengan kekasih kita. semakin kita mencintai, semakin leburlah diri kita kepada sang kekasih. Pada titik ini, sudah tidak adalagi ego, sudah tidak adalagi “aku”, yang ada hanyalah kekosongan, penyatuan dan peleburan. Dalam terminologi sufisme, kekasih itu Tuhan. Makanya ketika seorang sufi mencapai tahapan ini, ia sudah tidak terpisahkan lagi dengan Tuhan. Aku adalah Tuhah, dan Tuhan adalah Aku. sebuah panteisme.

Yang dikritik oleh para penentang ajaran ini adalah, ihwal tanggungjawab manusia. Coba bayangkan, kalau semua orang mengaku telah menyatu dengan Tuhan, semua mengaku Tuhan, apa gunanya hukum, bagaimana menghakimi orang yang mencuri atas nama Tuhan? Memangnya kita bisa menghukum Tuhan? Repot bukan. Karenanya para ulama lebih berhati-hati terhadap macam pemikiran seperti ini. Dan menganggap hanya orang-orang tertentu saja yang dipercaya bisa mencapai tahapan demikian. Itupun dengan syarat yang sangat panjang dan susah. Paham wahdatul wujud sendiri dipelopori oleh seorang sufi bernama al-Hallaj, ia dihukum mati sekitar abad ke-12 karena pemikirannya tersebut. Cerita mengenai al-Hallaj sangat populer di dunia Islam, dan di setiap negeri selalu memiliki versi tersendiri mengenai peristiwa pemancungannya tersebut. Para ahli sejarah, belakangan menganggap kisah Syekh Siti Jennar hanyalah sebuah kisah fiktif belaka, dan tidak lebih dari duplikasi cerita al-Hallaj yang sangat masyhur tersebut. Ini, tentu tidak lepas dari kampanye para Wali yang berusaha mencegah penyebaran paham tadi di Nusantara.

Pemikiran al-Hallaj mengenai wahdatul wujud, mendapat porsi teoritisnya dalam pemikiran Ibn Arabi. Ia sendiri lahir di Spanyol jauh sebelum reconquista (sebuah peristiwa pembersihan etnis dan agama terbesar sebelum Holocaustnya Hitler) dan dikenal sebagai Guru Agung dalam tradisi tasawuf. Pemikirannya sangat kompleks, bahkan seorang Henri Corbin, yang mendedikasikan hidupnya untuk mempelajari pemikiran Ibn Arabi, hampir tidak dapat menarik kesimpulan apakah ia seorang pantheis sejati atau pengikut ajaran tauhid. Untuk menggambarkan pemikirannya saya kutip sedikit sajak-sajaknya sbb:

“Hatiku bisa berbentuk apa saja,
biara bagi rahib, kuil untuk berhala
padang rumput untuk rusa,
Ka’bah bagi para penggemarnya,
lempengan-lempengan Taurat, Qur’an.
Kasih adalah keyakinanku: ke mana pun pergi
unta-untaNya, kasih tetap keyakinan dan kepercayaanku”

Sangat menarik diperhatikan adalah sikap orang-orang yang menjadi martir akan kecintaannya kepada Tuhan. Sewaktu hendak dipancung, al-Hallaj malah gembira sekali, ia memaafkan jaksa yang telah memfitnahnya, dan berusaha menghibur para pengikutnya. Kenapa? Karena justru dalam kematian inilah ia dapat berjumpa dengan sang kekasih, Tuhan. Tidak ada penyesalan, tidak ada pembatasan, yang ada hanya rasa suka cita. Saya kira, kalaupun Syekh Siti Jenar itu tokoh nyata, ia pasti akan bersuka cita sebagaimana al-Hallaj, dan menerima kematian sebagai gerbang menuju penyatuan abadi.

Saya rasa pemikiran mengenai atheisme telah lewat masa jayanya. Itu relik-relik abad ke 19 dan 20. Sekarang abad 21 bung! Agama mengalami kebangkitan kembali di akhir abad 20. Gelombang New Age, Spriritualitas Kontemporer, di Amerika bahkan sekte-sekte agama mulai kembali dilirik. Meskipun saya tidak setuju dengan model kebangkitan agama yang saat ini sangat fundamentalis, kering dari pemikiran-pemikiran kritis, tapi ia masih berguna mengendalikan nafsu-nafsu kita yang begitu liar. Mungkin kita terbelenggu oleh organisasi macam FPI, Laskar Jihad, Para pembom WTC, tapi begitu nilai-nilai religius berhasil menembus batas tersebut, kekerasan-kekerasan itu akan semakin ditinggalkan orang. Semoga saja, orang berTuhan itu akan selalu memiliki harapan.

P.S.
Mengenai agama sebagai candu masyarakat, saya sangat setuju sekali dengan pemikiran anda tersebut. Bahkan saya kira kekuatannya melebihi candu, agama selalu memberikan harapan kepada orang-orang tertindas bahwa ada sesuatu yang sangat berharga menunggunya di sana, sebuah pembebasan, sebuah imbalan. Mungkin karena itulah mereka menjadi tahan banting terhadap berbagai macam kesusahan hidup ini. Tidak seperti orang atheis yang tidak pernah menemukan harapan. Harapan apa? Lha wong Tuhan itu tidak ada, apa yang mau diharapkan?! Penelitian juga membuktikan bahwa orang atheis lebih cepat mati, kalau tidak bunuh diri, yah masuk rumah sakit jiwa macam Nietsczhe. Semoga ia tidak bertemu Tuhan setelah mati. Bertemu Tuhan? Mengharap pada siapa ya biar tidak bertemu Tuhan?

****

Tidak semua hal kita ketahui. Di antara yang kita ketahui, hal itu belum atau tidak sepantasnya diketahui orang lain. Di antara yang tidak kita ketahui, memang lebih baik selalu demikian (tidak mengetahuinya). Semua objek material pengetahuan dicakup oleh setiap pernyataan di atas.

****

Alangkah tergesa-gesanya manusia yang memaksakan suatu asumsi yang belum dia ketahui melalui premis-premis yang dangkal.

trims,
B.

****

ya, dan “hal hakekat tertinggi alam semesta” kerap dijadikan isu bagi kepentingan kelompok (agama) di tiap masanya (istilah kerennya : ditunggangi Twisted Evil).

Dan kenapa banyak filsuf yang ‘mati’ ketika berusaha menjabarkannya ?

“The philosophers should not only interpret the world but also change it” (Karl Marx Communist Manifesto)

interpret = menafsirkan, adalah sebuah labirin, pencarian di sekitar peti sementara jawaban ada di dalamnya.

maka jika Tuhan belum mati yang ada selama ini dihadapanmu hanya DIA, dan bukan kamu.

“manusia akan terus mencari meskipun tak tahu apa yang ia cari”

setuju dude..

jika kehancuran sudah mencapai puncaknya maka yang baru akan datang. Persis cerita, Nuh, banjir besar adalah bencana bagi yang satu tapi kebebasan bagi yang lain.

agama memang sedang bangkit, ibarat kanker mereka sudah akut semakin membesar saling menonjolkan diri untuk akhirnya saling bertabrakan dan ….. ???! Apakah kamu berikut yang akan tampil, hey free-thinker ….?! Twisted EvilTwisted Evil

jika untuk mengendalikan nafsu liar saja harus menggunakan manipulasi ketuhanan, berarti ada yang mengambil keuntungan besar dari ‘mengendalikan nafsu liar’ manusia. Mungkin itu berhasil di zamannya, tapi dunia terus berubah. Penjara dari bambu tidak bisa lagi memenjara tahanan sel besi. Very Happy

kesimpulan anda terlalu prematur..
bahkan seorang kriminal sekalipun punya harapan.
andai Lenin tidak punya harapan negara Uni Soviet tidak akan pernah hadir di peta dunia. Tidak perlu Tuhan untuk memiliki harapan, kecintaan anda kepada sesama, kecintaan anda kepada anak, kecintaan anda kepada negara sudah cukup menjadi sebuah harapan. Dan kalau mau jujur, dalam diri orang beragama pun calon suami/istri atau pacar lebih diharapkan dari kehadiran Tuhan itu sendiri ?

fight your shadow ! Twisted Evil

atheis mati karena tidak punya harapan ? itu atheis malas.
Apa anda kira Nietzsche menulis buku lantas dia pandai dihadapan saya ? Saya lebih punya kesempatan untuk mengetahui banyak hal yang Nietsczhe belum ketahui. kalo dia gila ya jangan salahin gua….. Twisted EvilTwisted EvilTwisted Evil

Dan satu lagi.. saya rasa sungguh kasihan orang yang percaya Tuhan kalau hanya sekedar untuk dibanting-banting (martir, tahan banting). Mungkin bukan tahan banting, tapi TAKUT atau SUNGKAN sebab masyarakat tempat dia tinggal mempercayai agama itu, atau ortunya juga beragama itu. Karena begitu lemahnya mereka hingga ketakutan, dan kehilangan kesempatan untuk menjadi diri sendiri.

“what does not kill me make me stronger” (Friedrich Nietzsche)

and i wouldn’t let God ‘kill’ me, i’m getting stronger !

****

kalo anda sudah mengerti perbedaan al qur’an dari yang lain… dan tau isinya, pasti anda juru selamat yang dinanti-nanti semua orang !

are you ?

krn kitab suci di-klaim sbg konsep kesempurnaan hidup manusia, manusia sejati, manusia beneraaan…..! (itu kata nabi)

pada kenyataannya, anda hanya sekedar berasumsi kalo ‘itu bener seperti kata nabi’ (atau kata ustad atau kata ortu?). Pokoke yakiiiin aja lah….! kalo dipelajarin semua dijamin pasti bener laaah….!

gw percaya kitab suci ada benernya, sejauh dia selaras dengan realita yang ada, ayat berikutnya akan menjadi inspirasi bagi fenomena yang lain. Tapi bukan berarti harus menelannya mentah-mentah, gak bisa lewat begitu saja tanpa ‘kulo nuwun’, harus dipergulatkan dulu, dinegasikan dulu, diantitesiskan dulu, dibanting dulu ! kalo itilah kampusnya : DI MAPRAS dulu !

tahan banting gak nih atau ecek-ecek gak nih…?
cek lagi pentium berapa nih…?
original apa ngga…?

kan muhammad bilang pertama kali begitu, sebelum ada ayat yang lain : IQRA’! IQRA’! IQRA’! cek..! cek..! cek lagi…! uji ! uji ! uji lagi…! banting ! (pecah gak?) banting lagi ! (pecah gak?) banting lagi ! (naah…) selaras sama falsifikasinya Popper ‘kan

yesus juga sama : “Ketahuilah Kebenaran, dan Kebenaran itu seharusnya memerdekakanmu” (Yohannes 8 ayat 32)

jadi gak asal telan. maka dari itu gw memilih keluar dari semua batas untuk bisa melihat kebenaran secara utuh. Lintas zaman, lintas dimensi.

ada penyakit serius yang menghinggapi orang beragama sekarang yaitu : FANATIK dan PREMATUR. Orang yang memeluk suatu agama dan MEMPERTONTONKAN STATUS AGAMANYA (entah itu ktp, ritual, simbol) itu sudah merupakan kefanatikan itu sendiri dalam kadar-kadar yang berbeda. Lo nganggep diri lo gak fanatik karena gak ikut nge-bom aja atau gak ikut ormas radikal, aja kan.

orang gak perlu tau agama lo apa, cukup cinta kasih jadi agama.
imagine there’s no religion, is there no love too ?

Twisted Evilgimana ?

****

Ode of atheism  (Seharusnya, Origin of Atheism)
Atheisme yang diderita oleh Barat memang konsekuensi logis dari kemajuan yang mereka terima. Ia tak lain dari sebuah split personality yang tak pernah mampu mendapatkan kepuasannya dalam Kristianitas. Seperti Tyler Durdeen yang merupakan produk sebuah insomnia, Id, atheisme akan selalu berkembang pada diri orang yang merasa kesepian dan terlibas oleh hiruk pikuk keteraturan dan kedisiplinan yang membosankan. Matrix sendiri adalah sebuah sindiran, betapa kehidupan telah sedemikian terekayasa. mulai dari bangun, berpakaian, kerja, hingga bersenang-senang, semua selalu memiliki rasionalitas. automaticisme, spontanitas yang dilumpuhkan, orde hegemonik yang mendikte segala tindakan. Sama seperti aturan represif zaman Victorian, saat seksualitas terbelenggu dalam, sebuah abad akal yang pada akhirnya justru memenjarakan manusia kedalam tipologi-tipologi yang membedakan antara yang wajar dan menyimpang. Kebudayaan yang penuh kegilaan, kata Michel Faucoult. Dan mereka anak-anak Marx, hanya memberontak kepada buah kebudayaan mereka sendiri, yang telah menurunkan mereka ke neraka dunia. Kita butuh pembebasan! Dimana candu-candu agama terbuang ke bak sampah, tergantikan secara sistematis dengan ilusi-ilusi romantik city of Joy. Tuhan telah tumbang, dan kita mengisinya dengan tuhan-tuhan baru. HIV, Free sex, necromanchy, Flower Generations, environmentalisme, perjuangan terhadap kapitalis sejati. Mereka menjadi para sophis yang mengkhotbahkan kebenaran untuk sesuatu yang dinamakan perjuangan. Tapi apa itu perjuangan? bahkan tatkala itu sebuah humanisme, gestapo (polisi rahasia, intel) masih merajalela, membungkam mereka yang tak pernah setuju dengan revolusi, membuangnya jauh ke Siberia. similiaritas yang serupa dengan auschwitznya Hitler. Dan masa-masa ketika ideologi menjadi sebuah agama, adalah masa-masa suram yang tak pernah terperi dalam sejarah kemanusiaan. Mungkin, hanya mahasiswa Marxis Prancis yang tak pernah merasakan tangan besi Stalin, dan perjuangan tak lebih dari unjuk keegoan. seperti Sartre, mantan anak altar itu, pendiri existensialisme. Dan Tyler Durdeen menjadi jauh lebih berkuasa dari sang pemilik sah.

Oleh karena itu, atheisme selalu menjadi antitesis dari Kristianitas. Sama seperti Nietszche, Sartre, Faucoult, atau mungkin juga Marx, yang berasal dari keluarga Kristen yang saleh, pengikut jalan Kristus. Merekalah Tyler Durdeennya Barat. Ekses dari Kapitalis, yang juga anak sah dari Protestanisme (lihat tesisnya Max Weber – Protestanism’s Ethics & raise of Capitalism), tapi kenapa mereka tidak puas? Adakah yang hilang di sana? Yang membawa mereka kepada kehampaan? Akankah para rasionalis ini membutuhkan sosok Neo, sang juru selamat, yang mengorbankan jiwanya untuk membebaskan umat manusia dari kehancuran? Hey, lihat! struktur keduanya serupa. Kedua antitesis ini memiliki watak yang sama. Mereka seperti cermin satu sama lain. Bagaimana tidak, toh mereka adalah satu. satu tubuh dengan kepribadian yang berbeda.

****

cool dude.. ode of atheism Smile

setiap pengetahuan membutuhkan martir sebagai tinta kesepakatan dengan masa depan. Dan setiap martir tanpa pengetahuan adalah suara sumbang dari masa lalu.

Tanpa pengetahuan tak ada martir sejati. (dedicated to Galileo and Socrates)

Very Happyegalite, fraternite, liberta

Advertisements

3 Responses to “Passion in Debate”

  1. sonny said

    cihui !

    lu beruntung, himawan
    gw ketemu lawan debat yg asyik menyindir & mencemooh tanpa pernah menjurus ke substansi. artifisi bgt ! Kalo istilah dunia persilatannya, dia blm layak melihat kelebatan pedang gw. males gw bantai dia

    sorry,
    gw blm bs ngasih komen bermutu. gw msh berurusan dg perkara2 hidup sepele tp tdk sepele.

  2. )x( said

    ‘manunggaling kawulo gusti’ belongs to ronggo wasito and not syeh siti jenar as claimed well

  3. Himawan said

    Saya kira juga demikian, siti Jenar bisa jadi tokoh fiktif yang dimitoskan untuk mencegah penyebaran doktrin wahdatul wujud. Dan memang dampak doktrin ini besar di dunia Islam, sehingga setiap wilayah memiliki mitos serupa siti Jenar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: