Hitam dan Putih

November 1, 2008

Sering saya dengar celotehan tentang bagaimana seharusnya manusia itu berfikir. Ada yang bilang, karena realitas ini begitu majemuk dan tipe-tipe manusia serta jumlahnya yang begitu ramai seperti pelangi, maka sudah seharusnya kita berfikir seperti itu. Warna-warni, beragam dan penuh dengan kejutan-kejutan kecil. Kata sebagian orang, corak berfikir macam ini adalah sebuah relativisme. Relativisme pikir saya, dari akar kata relation atau hubungan. Seperti hubungan A dan B, atau A dan C, semua yang terjadi dalam hubungan khusus tersebut sangat unik dan tidak memiliki keserupaan misalnya, dengan hubungan B dan C. Sehingga, saat kita hendak meletakkannya dalam sebuah rumusan umum, hanya akan membatalkan keunikan hubungan setiap individunya. Relativisme dengan demikian sebuah antitesis dari absolutisme, yang mereduksi segala sesuatu kedalam sebuah hubungan yang identik. Semuanya, kalau tidak benar ya salah, hitam dan putih, sama seperti gambar kakek dan nenek buyut kita tempo doeloe. Romantik kan? Absolutisme itu memang sebuah gambar yang romantik, sedangkan relativisme adalah ketakjuban dan perayaan.

Sewaktu rancangan UUAPP disahkan, kedua pola berfikir ini mencuat kedepan. Yang berfikir hitam putih akan ada yang menganggap produk ini gagal dan juga berhasil. Sebagian ada yang benar-benar setuju, yang lain menolak mentah-mentah. Adapun yang berfikir warna-warni, karena begitu banyak usulannya, ternyata ia tidak terlihat. Ia seperti massa grassroot yang berdiri di belakang panggung dan mengamatinya dalam berbagai perspektif dan pertimbangan menurut relasi dirinya dengan produk tersebut. Ia ada tapi tidak ada, bisa karena kamera yang kita gunakan adalah tipe polaroid, bisa juga disebabkan penggunaan kompresi JPEG yang menghilangkan titik-titik yang kurang penting. Dalam bahasa politik, silent majority atau floating mass, massa yang mengambang. Dalam terminologi yang saya gunakan diatas, tipe berpikir seperti ini menganggap RUUAPP tak lebih dari sebuah wacana televisi yang tersaji dari hari ke hari dan hilang begitu saja tanpa rasa bersalah. Sama seperti kasus pembunuhan yang hadir setiap hari, tidak ada yang berubah kecuali bentuk dan gesturnya saja.

Ada yang dalam dari cita rasa ala relativisme ini. Pola pikir seperti ini adalah sebuah penarikan diri terhadap masalah, sekaligus penghormatan terhadap individualitas manusia. Saya jadi teringat dengan kritik Ibn Taymiyyah terhadap para filsuf. Dalam salah satu poin, sang ulama besar ini mengkritik penggunaan logika yang menafikkan keunikan individu. Baginya, proposisi “bila A adalah B, dan B adalah C, maka A sama dengan C” tidak dapat diterima. Karena meskipun A sama dengan B, tapi A jelas bukan B. Ada yang beda antara kedua entitas ini, yang meskipun kecil dan unsignifikan, tetapi itulah yang membedakan keduanya. Sama seperti manusia dengan monyet. Dalam perspektif biologi molekuler, manusia dan monyet 98% identik. Tapi kita jelas berbeda dengan monyet, sayangnya, hanya cukup 2% saja yang dapat membuat kita tertawa terbahak-bahak, marah bahkan merasa mual kalau disamakan dengan monyet. Ternyata, dua angka sudah cukup untuk membangun dinding pemisah yang tegas. Sama seperti peralihan dari angka 1 ke angka 2 yang kalau mau dipermasalahkan bentuk desimalnya, bahkan hingga seribu angka dibelakang koma pun, 1 tidak pernah menjadi 2. Hebat kan.

Yang menarik adalah, bagaimana realitas yang dalam itu terbentuk. Hampir menyerupai cara kerja sebuah sistem digital, relativisme tak lebih dari hamparan pernyataan hitam dan putih yang sangat panjang. Ia tak lebih dari sebuah pilihan antara 0 dan 1, benar dan salah, terang dan gelap, halal dan haram pada continuum yang tak terhingga. Hampir menyerupai tes kepribadian dengan pilihan jawaban A dan B, kita dapat menggolongkan manusia kedalam 16 tipologi. Saat kita memilih A, dan orang disamping kita juga memilih huruf yang sama, belum tentu kepribadian kita serupa. Karena bisa saja di jenjang selanjutnya pilihannya bisa berbeda, dan di jenjang lain kembali serupa. Namun, satu perbedaan sudah cukup membuat tipologi kepribadian kita berbeda satu dengan yang lain. Seperti ranting-ranting pohon yang bercabang ke kiri dan ke kanan. Ternyata, keragaman hanyalah gambar lain dari sebuah pengambilan keputusan yang rigid.

Mungkin, karena itulah Tuhan tidak merasa tertekan sewaktu membagi manusia kedalam dua golongan, ashabul jannah dan ashabul nar, beriman dan kafir, berlaku lurus dan menyimpang. Pada akhirnya, semua hanyalah tentang pengambilan keputusan dan positioning semata. Dan dalam dunia yang relatif, belum tentu orang-orang yang mendukung UUAPP adalah ashabul jannah dan yang menentang adalah ashabul nar, karena bukan pada titik itu pendefinisian diambil. Ia hanya sebuah titik persimpangan kecil diantara persimpangan-persimpangan lain yang muncul selama kehidupan kita. Usia manusia ternyata berisi digit-digit perbuatan yang kemudian membentuk imagi mengenai tipologi orang tersebut. Sebuah definisi akhir, sebuah IPK bukan IP. Dan sebuah titik, bisa saja membawa kita sebagai orang-orang yang dicintai Tuhan atauyang Ia benci. Hitam dan putih, begitulah hidup.

Advertisements

3 Responses to “Hitam dan Putih”

  1. )x( said

    Hidup ini mustinya tidak melulu hitam putih, sebab hitam merupakan akumulasi kepekatan warna yang menumpuk lalu menyatu, sebaliknya putih adalah gradasi pemudaran warna itu sendiri. Manusia apapun agamanya telah banyak kehilangan warna aslinya, lebih tepat saya katakan buta warna.

    I saw most gontorian seem like people who lost the sun glasses
    crawling in the shine of sun and stumbling on the door of empty room

  2. sonny said

    Kolektivitas seringkali menafikan individualitas. Ahmad Wahib dulu pernah mengkritik ketika seseorang menjadi anggota HMI, ia ternyata tidak bebas menyatakan pendapatnya jika bertentangan dengan pernyataan organisasi. Dalam dunia politik kita melihat beberapa anggota legislatif, semacam Yudi Krisnandi, dicopot oleh partainya karena menyuarakan sesuatu yang dianggapnya benar, tapi berbeda atau berseberangan dengan suara partai.

    Singkatnya, bahkan dalam wadah-wadah dimana nilai-nilai demokrasi seharusnya disemai, kebebasan berpendapat individu “dibungkam” atas nama kepentingan kelompok atau lebih tepatnya pragmatisme kelompok. Kebenaran, dalam dunia empiris, akhirnya bersifat absolut.

    Begitu juga suara Ade Armando tenggelam dalam riuh rendah euphoria liberalisme anak-anak muda JIL ketika mempertanyakan penolakan RUU Pornografi oleh Kaum Liberal. Mereka yang duduk di bangku belakang Aula Nurcholish Madjid bersorak ketika Goenawan Mohamad menampik kritik Ade. Mirip pertunjukan sirkus.

    Kedua, budaya otokritik tenggelam dalam kolektivisme semacam itu. Ahmad Wahib dijauhi bahkan dipecat dari keanggotaan HMI karena kritik-kritik bernas-nya terhadap organisasi. Padahal kritik insider lebih mengena ketimbang outsider. Lagian, perkara insider – outsider sebenarnya tidak boleh ada dalam konteks HMI sebagai aset umat – aset bangsa.

    Ketiga, mengambil jarak dari objek juga penting dalam budaya kritisisme. Memang tidak romantik, tapi memberi ruang bagi seorang pemikir untuk menimbang-nimbang dengan baik. Hanya saja ketika kritik hendak dilontarkan ke ruang publik, pemikir hendaknya mengemasnya secara hati-hati untuk menghindari respon artificial yang terkadang menyebalkan karena seringkali sama sekali tidak menyentuh substansi masalah. Ulil Abshar-Abdalla seringkali gagal dalam marketing of ideas. Atau mungkin JIL sendiri sebagai brand sudah sejak awal gagal ?

  3. Himawan said

    JIL gagal dalam marketing ide? Bisa jadi, bila customer mereka masyarakat muslim Indonesia, tapi kan ia punya customer lain yang jauh lebih paretto, penyumbang dana terbesar mereka. Dalam marketing, itu juga dapat disebut customer lho. Dari sudut pandang kita mungkin JIL dapat disebut pelacur intelektual, tapi dari sudut pandang JIL, itu hanyalah masalah fleksibilitas semata. Bila semua kebenaran bersifat relasional, kebenaran mana yang dipilih? Koherensi, hubungan antara struktur proposisi dengan realitas. Seberapa jauh penyimpangan yang ada, dan seberapa solid gagasan yang diusung. Dalam tahap ini, semua berubah menjadi gradasi, dan memang kebenaran itu penuh gradasi, sesuai dengan konteks.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: