Islam, Arab, Lokalitas dan Fenomena Kebahasaan

November 6, 2008

Fenomena Kebahasaan memang bidang kajian yang sangat menarik. Terdapat banyak peminat di bidang ini, mulai dari pemerhati bahasa, kritikus, ilmuwan bahkan agamawan. Semuanya dipertemukan kedalam sebuah ruang yang dinamakan bahasa. Dari sebuah milist Gontor yang sangat majemuk dan memiliki anggota yang variatif, serta memiliki rentang umur yang berbeda jauh sekitar 30-an tahun, berikut sedikit pemikiran mengenai bahasa Arab di tengah realitas keindonesiaan.

Beberapa waktu lalu media massa ramai membicarakan seorang tokoh bernama Syaikh Puji, pemilik pesantren Miftahul Jannah, daerah Semarang. Ketika bulan Ramadan, beliau diliput media massa karena membagikan zakat secara langsung yang jumlahnya lebih dari satu milyar. Terakhir, beliau begitu menghebohkan karena kasus pernikahannya dengan gadis di bawah umur.

Saya tidak mendengar pemberitaan tentang sumber kekayaan beliau yang konon sebagai pengusaha kaligrafi kuningan. Jika zakatnya saja mencapai lebih dari satu milyar, berarti omzet penjualan kaligrafinya itu bermilyar-milyar.

Huruf Arab memang begitu fleksibel dan dapat dijadikan hiasan dalam pelbagai dasar. Dulu ada seorang pelukis bulu (Fairuz) yang juga membuat kaligrafi dengan memadukan sekian banyak bulu burung yang warna-warni. Harga sebuah lukisan kaligrafi karyanya tentu sangat mahal.

Seorang alumni Gontor (kalau tidak salah namanya H. Kautsar) konon dapat beribadah haji karena kemahirannya dalam kaligrafi. Ketika itu beliau menghiasi Masjid Agung Al-Azhar dan sebagai imbalannya beliau diberangkatkan beribadah haji.

Kaligrafi yang ditulils di atas lempengan kuningan, di atas kanvas dengan menggunak bulu burung, atau dengan menggunakan cat di atas tembok masjid semuanya merupakan petikan dari ayat-ayat al-Quran. Saya tidak tahu persis apa hukumnya al-Quran dijadikan sebagai hiasan. Setidaknya jika mereka ditanya tentang hal itu, mereka akan merujuk ke Masjid Nabawi di Madinah yang penuh dengan lukisan kaligrafi.

Di antara ayat-ayat yang ditulis indah itu tentu saja dimaksudkan bukan untuk sekadar hiasan, tetapi juga sebagai pengingat atau sumber inspirasi dalam meningkatkan iman dan takwa. Sejauh ini saya sendiri belum pernah menemukan hasil penelitian, sejauh mana hiasan kaligrafi itu dapat mempengaruhi kepribadian seseorang. Dugaan saya, tidak banyak orang yang dapat membacanya karena ditulis dengan pelbagai gaya. Yang akrab bagi kita mungkin hanya gaya naskhi. Selain itu, setidaknya saya sendiri, hanya dapat menikmati keindahannya. Tidak heran jika di suatu masjid yang dinding depannya penuh dengan hiasan kaligrafi yang konon upahnya seharga ongkos naik haji plus itu, orang-orang yang berada di sekitarnya “cuek” dengan ayat-ayat yang sebetulnya dapat menjadi petunjuk bagi mereka, jika mereka dapat membaca dan memahami artinya.

Bahasa Arab — tepatnya — ayat-ayat al-Qur’an — yang berfungsi hanya sebagai hiasan ini akhir-akhir ini juga cukup membuat hati saya prihatin. Sejak bulan Syawal, penikahan demi pernikahan berlangsung. Setiap menjelang ijab kabul dilakukan, entah penghulu, entah wali calon pengantin perempuan, membacakan KHUTBAH NIKAH. Tak sedikit di antara mereka bukan lagi sekadar membaca sebagaimana layaknya membaca teks khutbah, tetapi membacanya sedemikian sempurnanya persis seperti ketika membaca ayat-ayat suci al-Quran. Kita tahu, dalam teks KHUTBAH NIKAH itu tidak semuanya ayat suci al-Quran. Beberapa di antaranya adalah hadis. Isi KHUTBAH NIKAH itu tentunya sangat berguna bagi calon kedua mempelai yang beberapa menit lagi akan melangsungkan ijab-kabul. Sepanjang pengalaman saya, belum pernah saya mendapatkan KHUTBAH NIKAH yang kemudian diterjemahkan, apalagi dijelaskan. Seakan-akan KHUTBAH NIKAH yang sepenuhnya berbahasa Arab ini bagian tak terpisahkan dari ritual akad nikah. Lagi-lagi, bahasa Arab dalam hal ini hanya berfungsi sebagai hiasan.

Jika Anda, saudaraku sealmamater, ada yang menjadi penghulu, dengan segala kerendahan hati, buatlah sebuah “sunnah hasanah”, dengan tidak hanya menyampaikan KHUTBAH NIKAH dengan bahasa yang tidak difahami oleh hadirin. Betul, hamdalah dan syahadah memang harus disampaikan dalam bahasa Arab, tetapi ayat dan hadis, alangkah bermanfaatnya jika diterjemahkan, karena maknanya itu akan berguna bukan bagi calon kedua mempelai tetapi juga bagi hadirin.

Saifullah Kamalie
KMI (1972-1078)
IPD (1978-1980)

***

Saran yang sangat bagus. Bukan cuma itu, dalam banyak khutbah Jumat saya, saya selalu berusaha menerjemahkan ke dalam bahasa Indonesia kalimat paling akhir khutbah kedua, mulai dari innallaha ya’muru bil adli wal ihsan dst .. dst … sampai selesai. Paling tidak saat menyebut kalimat paling akhir, aqiimush-shalah, dengan tegas saya perintahkan para jamaah (karena ini memang tugas seorang khatib) dengan kata-kata: DIRIKAN SHALAT!!!

Salam,

Helmi Hidayat (alumnus 83)

***

Terima kasih atas respon yang diberikan Ustaz Helmi Hidayat ini. Semoga para khatib yang lainnya juga dapat mengikut jejak beliau. Khusus tentang KHUTBAH NIKAH, dalam tulisan yang lalu saya menghimbau para alumni yang berprofesi sebagai penghulu, tetapi rasanya himbauan itu juga bagi para ikhwan yang memiliki anak gadis yang akan melangsungkan pernikahan. Mari kita adakan “sunnah hasanah” — kalau memang belum banyak dilakukan para wali atau penghulu — dengan tidak sekadar membaca KHUTBAH NIKAH yang berbahasa Arab itu tanpa menerjemahkan.

Perlakuan saudara-saudara kita terhadap bahasa Arab ini tidak terbatas pada penyampaian KHUTBAH NIKAH saja. Beberapa wali — entah untuk menunjukkan dirinya seorang ustaz, seorang ajengan, atau seorang kiayi — mengucapkan ijab kabul dengan menggunakan bahasa Arab, kemudian bahasa Indonesia, padahal calon menantunya itu SAMA SEKALI tidak mengerti bahasa Arab. Tampaknya sang wali ini merasa kurang afdol jika transaksi ijab-kabul ini tidak diucapkan dengan bahasa Arab. Bahkan, entah darimana asalnya, dua kata kerja yang bersinonim selalu digunakan “YA FULAN, ZAWWAJTUKA WA ANKAHTUKA …..”. Demikian juga versi Indonesianya, “SAYA NIKAHKAN KAMU, SAYA KAWINKAN KAMU….”.

By Saifullah Kamalie

***

Yang benar mana? /Aqiimu al-shalah/ atau /aqimi al-shalah/?
Karena sepengetahuan saya, itu adalah perintah langsung kepada muazin
untuk ber/iqamah/.
Dan kalimat perintah tidak langsung kepada jamaah.

By Himawan Pridityo

***

“Islamisasi bahasa baik sebagai kata terucap maupun tertulis, hanya akan menjadi lip service dan lipstik (artifisial: pepaes, hiasan, aksesoris) yang akan mengantarkan seseorang menjadi pengobral kata agama dan pesolek agama”.

Kegelisahan akademik diungkapkan oleh seorang pemerhati bahasa (pak Saifullah-ketemu lagi) berakhir pada imbauan untuk tidak menjadikan bahasa Arab sebagai hiasan belaka. Anjuran ini mengindikasikan ketidak-sreg-kan penggunaan kata-kata Arab mendominasi keseharian berbahasa kita (para mu’rob) yang nota bene bukan penutur asli, terlebih selalu dipakai sebagai penjelas dari ketidakjelasan kata Arab itu sendiri yang pada umumnya tidak pernah dipahami oleh kebanyakan pemeluk agamanya.

Sebagai bahasa terpilih dimana dengannya ajaran agama dikejawantakan, bahasa Arab pada kenyataannya, kurang mendapatkan tempat di hati masyarakat. Ia tidak bisa landing li ghoiri nathiqin bih. Dari Ijab qobul, khutbah nikah, perintah iqomah menjadi ajakan sholat, perintah kerapian barisan sholat sampai rutinitas ritual tambahan berupa bacaan peringatan untuk diam dan mendengarkan anshituu was ma’uu sementara peserta jum’atan malah mendiskusikan ngomong opo iku, hal ini cukup menegaskan campur aduknya pengaruh kuat bahasa Arab yang diskralkan dengan narsisisme kecintaan yang berlebihan.

Disamping kemiskinan (miskinnya) bahasa Indonesia akan kosa kata dan kecenderungan orang Indonesia mengimpor bahasa asing serta mendudukkannya sedikit lebih terhormat dari bahasa Indonesia itu sendiri (contoh karena dia wong jowo, mustinya Mbah Puji bukan Syeh Puji)(contoh lain adalah korupsi berjamaah sedikit lebih terhormat dari korupsi bersama-sama?) juga karena adanya gejala snobisme yang mengakar di kalangan mutasyabbih:akademisi, jubir, da’i, presenter, penceramah dengan maksud tertentu; membangun intelektual image dan memberi kesan keren habis.

Dengan demikian, banyaknya kemungkinan terjadi penggunaan kata Arab termasuk istilah yang muncul sebab faktor keagamaan bisa dipahami dan dimaklumi sebagai bentuk dari ketidakmampuan pribadi dalam melokalkan keasingan bahasa. Secara pribadi, saya lebih suka mengatakan sebagai language abuse>>nggedabrus

Selamat berbahasa tanpa musti bersusah payah.

Handoko Putro Sastro Adi Amijoyo bin Moch. Dja’far, alumnus KMI 1991

***

Terima kasih atas komentar yang disampaikan Pak Handoko dari Malang ini.
Pembuka komentar yang ditulis dengan huruf miring tampaknya merupakan sebuah kutipan dari pendapat seseorang. Alangkah lebih bagusnya jika sang empunya perkataan itu disebutkan, karena terus terang pernyataannya itu cukup menarik untuk dijadikan rujukan. Ada satu kata “pepaes”, jika yang dimaksud adalah bahasa Sunda, seingat saya bunyi yang benar adalah “PAPAES” artinya “hiasan, aksesoris”.

“Penderitaan” bahasa Arab ternyata tidak berakhir di acara akad nikah, khutbah Jumat, acara mauludan (pembacaan syair Barzanji seperti layaknya membaca al-Quran), tetapi penderitaan itu ternyata sampai ke kuburan. Sang jenazah yang telah berada di liat lahad, oleh seorang tokoh agama diberi kursus kilat bahasa Arab yang isinya merupakan dialog antara sang jenazah dengan malaikat yang akan menginterogasinya. “Wahai saudaraku, jika nanti malaikat datang kepadamu bertanya, “siapa Tuhanmu”, maka jawablah, “Tuhanku adalah Allah”…..dst. Sekali lagi, pelajaran singkat ini disampaikan dalam bahasa Arab, tak peduli sang jenazah ini alumni Gontor atau bukan.

Duh, malangnya nasibmu, wahai Bahasa Arab.

By Saifullah Kamalie

***

Assalaamu’alaikum Wr Wb,

Saya jadi tergoda untuk ikut nimbrung di topik bahasa ini dan wah, penadapat teman-teman
sungguh sangat menakjubkan. Ada seorang teman yang hidup nun jauh di jepang sana (Uga
Perceka alumni gontor 1978) menikah dengan gadis jepang dan  dan tentunya bernama je-
pang pula. Setelah ia memeluk islam si gadis jepang ini tidak latah ikut mengganti namanya
menjadi Aisyah, Fatimah atau Zainab. Ketika hal itu saya tanyakan kepada Uga sang suami,
ia hanya menjawab ; “kan isteri saya masuk islam, bukan masuk arab”, jadi tidak perlu harus
ganti nama arab sepanjang nama yang disandangnya juga mengandung do’a untuk kebaiakan,
meskipun itu dengan bahasa dari negara antah berantah. Mungkin pikiran seperti ini jualah yang
menyebabkan Ahamad Aidit sekonyong-konyong mengganti namanya menjadi Dipa Nusantara
Aidit, padahal ia lahir dan dibesarkan di lingkungan agamis yang kental di Belitung sana.

Namun ada satu hal yang menurut saya cukup baik untuk digalakkan dan disosialisasikan kem-
bali pemakain huruf arab jawi (menurut masyarakat melayu) atau arab melayu (menurut ma-
syarakat di jawa), yang merupakan identitas masyarakat muslim nusantara bahkan hingga asia
tenggara sejak masa-masa awal berkembangnya islam di wilayah asia tenggara. Hemat saya
ini sesuatu yang unik dan harus dipertahankan sebagai penyeragaman, dan bahkan dapat men-
jadi kebanggaan tersendiri bagi kaum muslimin di asia tenggara.

Wallahu a’lam bis showaab
Wassalaam

Yandriful Habib
KMI 1982

***

salamullah ‘alaikum warohmatuhu wabarokatuhu

asatidz al mukarromuwn, menanggapi bahasan ini saya juga ingin sedikit share, mengenai urgenitas dan fungsi bahasa arab dalam berislam.

memang tidak bisa dipisahkan bahwa bahasa arab adalah bahasa yang lebih banyak digunakan dalam ber-Islam, baik dari kitab sucinya yang memang diturunkan dengan bahasa arab, hadist2 qowlu rosulillah yang nota benenya adalah orang arab, maka dia pun juga berbahasa arab, hingga bacaan2 dan doa2 dalam sholat juga harus dengan bahasa arab.

sempat ada kerancuan ketika turki ingin mengganti sholatnya dengan bahasa turki juga bunyi adzan di negara mereka dengan bahasa setempat, sebagai dampak sekularisme dan kamalisme (musthofa kamal) setelah sukses meruntuhkan daulah ustmaniyah. dan bahkan ketika ma’mum mengucapkan amin, mereka pun tidak membacanya keras, karena konon “amin” dalam bahasa mereka mempunyai interpretasi arti yang berbeda dan bermakna kepada suatu hal yang tabu.

tidak hanya di turki dalam novel andrea “sang pemimpi” diceritakan ketika mereka melakukan performance street mengelilingi eropa, mereka singgah di swedia dan bertemu komunitas muslim yang didominasi oleh warga turki,dan persia(afghanistan,iran,tarzikistan dll). ketika selesai fatihah, arai yang tidak tau apa2 dengan lantang mengucapkan amin, sementara yg lain senyap tak bersuara.dan ketika selesai sholat arai pun malu sendiri dengan tingkahnya itu.
terlepas dari berbagai hal, apalagi bahasa arab adalah bahasa yang digunakan dalam bacaan dan doa2 dalam sholat, dan sholat adalah ibadah utama kaum muslim, pembeda antara seorang muslim dan kafir, juga ibadah pertama kali yg akan dihisab di akherat. bahasa arab sangat berperan besar disana (meskipun dalam beberapa muqoronah madzahib ada yg membolehkan membaca bacaan selain al-fatihah dan bacaan2 gerakan sholat-takbir,ruku’-i’tidal-sujud,dg bahasa sendiri yg dipahami,tanpa harus mengeraskannya, jikalau memang mereka dho’if mengucapkan bahasa arab dan sulit untuk mempelajarinya), maka otomatis bahasa arab sangat perlu dipelajari, bahkan menjadi wajib hukumnya karena digunakan untuk ibadah dan mendalami al-islam (yg bersumber pada al-qur’an dan as-sunnah serta kitab turots warisan ulama klasik).

memang sekali lagi “an-naasu a’dau ma jahiluw” manusia menjadi musuh/bumerang terhadap sesuatu yg tdk diketahui dan dipahaminya, sehingga dalam salah satu surat al-ma’un sangat keras Allah memperingatkan orang yang lalai dalam sholatnya dengan sebutan “waylun/celakalah” yaitu “celakalah bagi orang yg sholat, yang ketika sholat ia lalai, dan berbuat riya’ (supaya dipuji karena sholatnya) dan enggan menolong orang dg al-ma’uwn (barang yg berguna)”.lalai karena kurang khusyuk dlm solat akibat kita tidak memahami dan mengerti bacaan sholat.

sungguh korelasinya dg petikan mahfudzot diatas, adalah kita bisa celaka dalam ibadah (sholat) ketika kita tidak paham dan tau dengan apa yg kita ucapkan (bahasa arab). bahkan konon ilmu tajwid menjadi sedikit wajib hukumnya utk dipelajari, supaya kita terhindar dari lahn dan tahrif,salah membaca bacaan al-qur’an yang mengindikasikan terhadap perubahan makna kandunganya.
sedikit menukil keresahan pak hidayat nur wahid,dlm blognya, ttg salah kaprah penggunaan istilah arab yg mungkin sudah baku dlm bhs indonesia, yg ternyata “mungkin” berdampak pada kondisi bangsa saat ini, yaitu istilah silaturrahmi bukan silaturrahim. padahal silaturrahmi secara terminologi bahasa berarti menyambung rasa sakit yg diderita oleh ibu yg sedang mengandung (silah=menyambung, rahim=rasa sakit ketika mengandung) than, hal itu yg mungkin penyebab kenapa bangsa ini tidak saling mengasihi (silaturrahim), malahan yg ada bangsa semakin terpecah dan tidak ada rasa kasih sayang diantara mereka, lantaran mereka salah memakai istilah silaturrahmi dlm berbagai acara mereka.

maka, uwsiykum wa iyya ya bitaqwallah. sebagai alumni gontor dan sempat diamanati bagian bahasa waktu itu, ternyata skill bahasa kita yg didapati dari gontor harus perlu dikembangkan, karena kenyataan ketika saya belajar di al-Azhar, saya juga membutuhkan waktu yg lama untuk bs memahami presentasi doktor, bertanya dg tarkib yg benar, memahami muqoror (diktat), hingga ta’bir ketika menjawab ujian pun harus sesuai dengan bahasa arab, bukan bahasa gontor/terjemahan bebas indo-arab.
dan mungkin terkhusus bagi alumni yg mempunyai lembaga kursus bahasa arab, bisa lebih disosialisasikan urgenitas dan fungsi bahasa arab, sehingga ibadah kita khususnya dalam sholat, dan ibadah lainya, ijab qobul, khutbah jum’at, khutbah nikah, bisa diterima oleh Allah, dengan pengucapan dan pemahaman arti yg benar.

dan mungkin sebenarnya bahasa arab harus diutamakan mempelajarinya, lantaran kita pingin ia semakin fasih diucapkan (mungkin lbh baik memasyhurkan istilah bhs arab daripada bhs inggris), juga sebenarnya kita kalah saing dengan para orientalis yg pada abad ke-12 lewat gagasan rojer beikun dan reymon mustasyriq asal spanyol itu. pada awal tahun 1200-an mereka sudah memulai konsen mempelajari bahasa arab, bahkan lewat jasa mereka bahasa arab sudah dipelajari di berbagai universitas terkemuka di eropa(oxford,univ paris,bolgna,slamanka) pd awal abad ke-13. meskipun tujuan mereka adalah at-tanshir (kristenisasi) dan menyerang agama Islam.

dan hingga kini sudah 7 abad mreka konsen mempelajari bhs arab, untuk melemahkan umat islam. maka bagaimana kita, selaku umat muslim, apakah kita sanggup mengcounter-attack serangan mereka dg skill bhs arab yg kita miliki? dan sejauh mana upaya kita mempelajarinya? bahkan mengajak umat islam untuk lebih mendalaminya? insyaAllah bersama kita bisa..
al-lughotu taaju al-ma’had

nidauddin azharian
kmi’05,konsulat surabaya

***

“Islamisasi bahasa baik sebagai kata terucap maupun tertulis, hanya akan menjadi lip service dan lipstik (artifisial: pepaes, hiasan, aksesoris) yang akan mengantarkan seseorang menjadi pengobral kata agama dan pesolek agama”. William Handoko (1971-Present)

Kutipan tersebut berawal dari perenungan singkat saat saya dihadapkan dengan realitas kebahasaan yang sudah jauh terseret kedalam kubangan dunia material-spiritual ngomong opo aku iki?, terinspirasi oleh seorang teman, Mahfud Siddiq, kyai para Huffad Lombok yang berintermezo menggagas Islamisasi Pakaian (dalam hal ini; kaos) meski tanpa ia tahu histeria Islamisasi ilmu pengetahuan yang telah di gusung oleh Muhammad Naquib al-Attas di tahun 80an.

Sebenarnya, selain lip service dan lipstik ada Lip lain. Sebagaimana lagu-lagu yang dipopulerkan Milli Vanili di tahun 80an yang ternyata cuma pinjaman dari pelantun aslinya. Duo tersebut cuma menjadi bibir duplikasi, istilahnya dalam dunia tarik suara adalah lip sing (kalo gak salah).

ini sisi gelap pemikiran saya, pak.
ngelamunnya dibawah temaram lampu 5 watt
it’s better for you not to refer to
but it’s okay if you like to

catatan: pepaes juga ada dalam kamus bahasa jawa sama halnya dengan paesan

***

Assalamu’alaikum wrwb

Bagi alumni Gontor, setidaknya bisa berbahasa Arab, Alhamdulillah. Semoga mereka bisa memahami apa yang dibaca ketika shalat, ketika membaca al Quran, ketika berdoa, ketika dirasani oleh orang Arab, ketika berkomunikasi dengan orang Arab atau dunia Islam lain.
Bagi setiap orang Islam yang mempunyai Kitab Suci  al Quran yang berbahasa Arab,  sebaiknya mencintai bahasa ini sebagai bagian dari ibadah. Belajar bahasa Arab sebagai ibadah.
Bahasa lain termasuk bahasa Inggris tentunya  baik dipelajari namun bahasa Arab ada kaitannya dengan bahasa Al Quran. Utamakanlah bahasa Arab.
Bersyukurlah anda jika dapat memahami bahasa Arab.

Wassalam

masruh
www.ohpondokku.blogspot.com

***

Yang janggal adalah yang menganggap bahwa bahasa Arab adalah bahasa Tuhan. Meski tidak secara ekplisit, namun bawah sadar kebanyakan muslim beramai-ramai menganggapnya demikian. Sehingga berdoa kepada Tuhan “afdholnya” menggunakan bahasa arab. Itu bawah sadar kita semuanya.

Orang-orang mengkait-kaitkan antara bahasa arab dengan bahasa Tuhan, (sebagian kaum ektremis mesir menganggapnya bahasa syurga kelak, lughotul jannah) sebab al-Qur’an menggunakan bahasa Arab. Dan karena al-Qur’an adalah wahyu Tuhan, berarti Tuhan bercakap2 kepada Muhammad sang Nabi menggunakan bahasa arab. that’s our common imagination.

Padahal alasan utama qur’an berbahasa arab adalah karena turun diarab dan Muhammad sang utusan merupakan orang arab. “bilisaani qoumihi”. Alasan lainnya supaya manusia mau menganalisa, menguraikan, dan menyimpulkan: singkat kata, menggunakan akalnya. inna anzalnahu qur’aanan arobiyan la’allakum ta’qilun (surat yusuf). bukan tattaquun atau ta’buduun. Tuhan tentu punya alasan tersendiri kenapa memakai redaksi ta’qiluun–yang berhubungan dengan akal–dan bukan lainnya.

Dan Tuhan bisa saja membuat skenario Qur’an diturunkan di jawa, kepada ronggowarsito atau semar dan menggunakan bahasa jawa kuno, tanpa siapapun bisa protes kenapa kok tidak turun diarab. Lantas menjadikan bahasa jawa sebagai bahasa Tuhan/syurga dan mempelajari/mengucapkannya bernilai ibadah…?

Bahkan alasan diturunkan diarabpun juga bukan karena arab/orang arab memiliki kelebihan dan nilai plus atas bangsa yang lain. Kalau ditarekh islam kelas 5-6 KMI dulu justru karena tidak ada bangsa lain dimuka bumi ini yang kebenggalan dan keberingasannya melebihi orang arab pada waktu itu, sehingga para Nabi banyak diturunkan disana untuk membenahinya…

By Nazhim Adabi

***

Dear all,

Bagaimanapun, perkembangan bahasa tidak pernah terpisahkan dari kekuasaan. Dalam teori bahasa, dikenal sifat kebahasaan yang arbitrer dan konvensional. Arbitrer adalah kesewenang-wenangan, sebuah kreasi individu, kebebasan dasar dalam menamakan sesuatu dan membunyikan fonem. Adapun konvensional adalah kesepakatan masyarakat pemakai bahasa. Bahasa adalah proses tarik ulur yang panjang antara kedua poros tersebut. Pada level atomis, ketika bahasa merupakan ekspresi individu ia hampir bersifat arbitrer, sedang pada level yang lebih luas, unsur konvensionalitaslah yang menonjol. Sama seperti kebebasan individu vis a vis negara, maka begitu pulalah bahasa. Menguasai bahasa berarti memiliki kekuasaan dalam ekspresi manusia. Dan Orde Baru selalu menyensor lembaga pers, sebuah entitas yang memiliki share kekuasaan atas bahasa. Bahasa selalu diperebutkan dan menjadi ajang hegemoni politik.

Pada bahasa Arab yang hanya menjadi hiasan belaka, dalam kacamata teori ini, jelas kekuasaannya tidak membekas sama sekali. Ia mungkin hadir dalam teks-teks agama, tapi jelas, ia bukan pemain tunggal. Ekspresi keagamaan masyarakat kita masih sangat personal, bahasanya masih arbitrer, sementara itu konvensionalitas bahasa Arab hanya berada ditangan elit. Yang disayangkan, efektivitas elit ini dalam kekuasaan hanya berada pada ranah keagamaan semata (yang tentunya kembali lagi personal), padahal porsi kekuasaan terbesar berada di ranah politik, ilmu pengetahuan dan ekonomi. Di ketiga ranah ini bahasa Arab absen, dan tergantikan secara sitematis oleh bahasa daerah, Indonesia, Inggris dan Cina. Kealpaan bahasa Arab, tidak bisa dipungkiri merupakan hasil posisioning masyarakat. Bisa juga, kita memang tidak pernah dijajah oleh bangsa berbahasa Arab. Hasilnya, ia mengerdil menjadi bahasa agama semata. Kalau mau bukti, coba kirim surat lamaran berbahasa Arab kesejumlah perusahaan besar, dan lihat hasilnya, Itu indikasi utama dari praktek kekuasaan di ranah ekonomi.

Sebagaimana nasib keberpihakan di era terbuka macam ini, keberpihakan kepada sebuah komunitas agama yang dinyatakan secara besar-besaran dan dilakoni dengan ekstrim, tentu semakin mereduksi wilayah kekuasaan sebuah bahasa. Bahasa Arab kemudian menjadi simbol ekstrimitas dan sekterian, bahkan diasosiasikan sebagai bahasa teroris. Tidak ada salah atau benar dalam hal ini, itu semua hanya soal perspektif belaka, perspektif dan survival. Bila dahulu bahasa Arab memiliki kekuasaan di keempat ranah, itu tak lebih dari hegemoni peradaban Islam semata, saat ini? Arab belum mencapai kembali mahkotanya yang hilang. Dibutuhkan banyak usaha untuk mencapai hal tersebut, tapi bukan menggunakan pendekatan kekuatan sebagaimana yang diyakini oleh pengagum Amrozi cs. Bertahan bukan soal siapa yang kuat dan siapa yang lemah, tapi lebih kepada yang mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman, survival for the fittest bukan survival for the strongest.

Pertanyaannya, apa bahasa Arab sudah berjalan ke arah sana?

Himawan Pridityo
(Alumnus 1999)

***

Assalamu’alaikum wrwb

Tidak bisa disangkal lagi bahwa Ukhuwwah Islamiyah merupakan sebuah ikatan yang menjadi kebanggaan kaum muslimin. Persaudaraan Islam yang kukuh bagaikan sebuah bangunan yang saling memperkuat antara satu sama lain. Jika terjadi suatu bencana di sebuah negeri yang penduduknya beragama Islam, maka dengan segera ummat Islam  lain terusik untuk membantu atas nama persaudaraan dan kemanusiaan. Solidaritas mereka spontan muncul karena perasaan ukhuwwah Islamiyah yang tertanam dalam diri mereka. Apalagi jika yang menjadi korban terdiri orang-orang yang mempunyai nama berbahasa Arab.

Di Thailand, di Bosnia atau di Rusia terkadang kita sering tidak mengenali mana nama orang Islam dan mana nama orang yang bukan Islam. Makanya tidak sedikit antara kita terkadang KURANG terusik jika terjadi pembantaian atau pemusnahan etnik karena kita kurang mengenali mereka. Bak mereka mati katak, karena SEAKAN tidak mempunyai saudara lain di dunia yang terusik mau menolong mereka kecuali atas nama kemanusiaan bukan persaudaraan Islam.

Apa perasaan kita jika mendengar berita seseorang bernama Muhammad Adil (maaf jika kebetulan ada persamaan nama) telah dibunuh secara kejam oleh seseorang yang tidak dikenali. Bandingkan dengan berita serupa namun orang tersebut  mempunyai nama Aquarius Taurus (atau entah nama yang menggunakan bahasa tidak dikenali). Tentunya perasaan kita berbeda. Setidaknya dalam hati ada terselit doa: Allahummarhu wa ‘aafihii wa’fu ‘anhu) jika kita yakin seseorang itu saudara seagama.

Begitu juga jika kita mencari RUMAH MAKAN. Tentu kita akan mencari makanan yang kita yakini halal. Oleh itu seperti Restoran “Wong Solo”  diyakini halal karena ia menyelitkan

semboyan ‘HALALAN THOYYIBAN”.  Orang Melayu Malaysia, Brunei, dan Singapura dipastikan tidak ragu-ragu untuk makan di restoran seperti ini. Saya pernah masuk di rumah makan orang Jawa di daerah Ungaran, ternyata terdapat leher ayam yang masih utuh tidak ada bekas tanda sembelihan. Maka tanpa banyak bicara, saya keluar lagi diikuti oleh anak-anak dan isteri saya. Akhirnya saya TERSADAR bahwa tidak semua ORANG JAWA  beragama Islam.

Wassalam

masruh

www.ohpondokku.blogspot.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: