Islam, Arab, Kelokalan dan Fenomena Kebahasaan (The Raise of Ethiquette & Dawn of Critics)

November 9, 2008

Diskusi rupanya berlanjut, namun pembahasan kritis mengenai fenomena kebahasaan di tengah masyarakat Indonesia baru saja berakhir.  Diskusi yang ada hanya sebatas wacana semata tanpa pernah membahas akar persoalan yang mungkin muncul. Di sini, atmosfer yang tercipta hanyalah suasana kerukunan yang penuh dengan etiket, sedang wacana kritik sengaja di bungkam atau setidaknya berakhir tanpa respon yang dalam.

helmi hidayat wrote:

Saran yang sangat bagus. Bukan cuma itu, dalam banyak khutbah Jumat saya, saya selalu berusaha menerjemahkan ke dalam bahasa Indonesia kalimat paling akhir khutbah kedua, mulai dari innallaha ya’muru bil adli wal ihsan dst .. dst … sampai selesai. Paling tidak saat menyebut kalimat paling akhir, aqiimush-shalah, dengan tegas saya perintahkan para jamaah (karena ini memang tugas seorang khatib) dengan kata-kata: DIRIKAN SHALAT!!!

Salam,

Helmi Hidayat (alumnus 83)

**

Yang benar mana? /Aqiimu al-shalah/ atau /aqimi al-shalah/?
Karena sepengetahuan saya, itu adalah perintah langsung kepada muazin untuk ber/iqamah/.
Dan kalimat perintah tidak langsung kepada jamaah.

**

Akhi almuhtarom,

Jauh sebelum ini, saya pernah membaca buku berisi khutbah-khutbah Jumat pilihan, dan di sana tertulis //aqiimu al-shalah//. Saya lupa judul buku dan penerbitnya. Bahkan entah di mana buku itu.

Kendati demikian, sebelum menjawab email antum, saya menyempatkan diri menelepon Dr. Lutfi Fathullah (0818185025), doktor ulumul-hadits dari Malaysia, untuk menambah referensi  jawabannya saya. Dia menjawab yang betul adalah //aqimuu al-shalah// dalam konteks seorang khatib memerintahkan para jamaah Jumah untuk shalat berjamaah. Ini penting karena shalat Jumat adalah pengganti shalat zuhur. Namun, karena shalat zuhur empat rakaat, sementara shalat Jumat hanya dua rakaat, maka khutbah itu menjadi sah menggantikan dua rakaat yang ”hilang” kalau saja para jamaahnya melengkapi khutbah itu dengan shalat dua rakaat. Dalam konteks inilah seorang khatib memerintahkan para jamaahnya mendirikan salat.

Dr. Luffi juga mengatakan tidak ada hadits yang pasti soal ini. Hanya saja, dia memberi ilustrasi bahwa bahkan kalimat ”ibaadallah, innallaha ya’murukan bil adli wal ihsan ….. dst … dst ….”  yang kerap dibaca khatib usai berdoa di khutbah kedua juga tidak ada di zaman Rasulullah SAW dan bahkan di era empat khulafa’ al-rasyidin. Kalimat tambahan ini dimulai di era Umar bin Abdul Aziz karena saat itu ada satu kelompok Muslim mencerca kelompok Muslim lainnya karena persoalan politik tertentu. Demi mendamaikan kedua kelompok ini, maka sang khalifah perlu menambahkan kalimat tadi di akhir khutbah keduanya, dan ini kemudian berlanjut sampai era kita sekarang.

Salam,

Helmi Hidayat

**

Dear Helmi Hidayat,

Thank you very much. I was astonished by your big effort on my humble question. I think, Dr. Luthfi Fathullah’s opinion was authoritatively significant and your details will enriched my little bit knowledge of history on Islamic law.

Best regard

Himawan Pridityo

P.S.
Please don’t call me antum since I am singular not plural, besides it was grammatically absurd and invalid. 😛

**

Dear Mr Pridityo,

You’re most welcome. Its nice to read from you. I think it is our duty — since it has been sponsored by Rasulullah’s hadits — to take bigger efforts to enlighten our horizons, especially in Islamic discourses, more specifically in Islamic law, then distribute and share it with others.

Let me appreciate you as you replied me in English. I positively think that you did it in response to my previous email in this group that it would be better if all of us the members of this group — if possible — write our email in English. I don’t know weather this will commonly be accepted by all or not. This is only a hope — a priceless thing we can do.

BTW, you’re absolutely true that the word ”antum” grammatically means plural; but in Arab’s tradition, this means to honor someone when you call him by the word. You know what? You respect him by regard him oneself as many people. For more explanation, please ask Mr. Saefullah Kamalie, the most outspoken Arabic language in this group.

Warm regards,

Helmi Hidayat

**

Dear All,

Using Arabic masculine-plural-pronoun “ANTUM” for single person, as Brother Helmi Hidayat said, is in order to respect the second person. It is pragmatically acceptable as the most of the members of this forum are Gontor graduates who have studied Arabic.

That’s all.

Dalam tulisan terdahulu saya pernah menyinggung masalah “Memahami Budaya Orang Lain” yang penekanannya pada kesantunan. Setiap bangsa dan suku memiliki sistem tersendiri dalam masalah kesantunan. Waktu itu saya mengajak rekan-rekan untuk memahami budaya orang lain karena apa yang dirasa santun oleh dirinya belum tentu santun bagi orang lain.

Dalam sosiolinguistik — ilmu yang menggabungkan antara unsur sosiologi dan linguistik ada yang dikenal dengan istilah “T-V Distinction” yang berkenaan dengan penggunaan pronomina. Dalam bahasa Indonesia, pronomina untuk persona kedua “kamu” tidak selamanya akan diterima dengan perasaan nyaman oleh orang yang kita ajak bicara. Orang asing yang telah belajar bahasa Indonesia dengan baik — seperti para mahasiswa Jepang di UI Depok — selalu menyapa saya dengan “Bapak”. Kita tahu bahwa kata “bapak” bukanlah pronomina, tetapi dapat digunakan untuk merujuk kepada persona kedua. Demikian pula kata “Anda” yang berasal dari nama seorang penyanyi asal Bengkulu itu. Kata “Anda” digunakan untuk merujuk persona kedua yang dianggap netral dan lebih halus daripada pronomina “kamu”.

Pemilihan pronomina yang dalam sosiolinguistik dikenal dengan “T-V Distinction” ini tidak hanya dikenal dalam budaya kita. Sebagaimana tampak dalam tabel di bawah, banyak bahasa yang menerapkan sistem ini. Intinya, manusia — apa pun bangsa dan sukunya — mengenal tata krama dan sopan santun.

Bagi rekan-rekan yang ingin mengetahui lebih lanjut tentang “T-V Distinction”, berikut saya sajikan artikel lengkap yang diambil dari : http://www.knowledgerush.com/kr/encyclopedia/T-V_distinction/

A T-V distinction, in sociolinguistics, is used to describe the situation wherein a language has pronouns that demonstrate varying levels of respect, distance, courtesy, familiarity, or insult. The name “T-V distinction” derives from the common initial letters of several of these terms in Romance languages.

Some languages have even more gradations. For example, Vietnamese has different pronouns for ‘sir’, ‘ma’am’, ‘older brother’, ‘younger brother’, ‘older sister’, ‘younger sister’, ‘uncle’, ‘aunt’, and on and on, although these do not affect verb morphology, as Vietnamese does not practice conjugation at all.

The pronouns in the table above come complete with differing verb morphology; in French, the respectful vous takes plural verbs (but not adjectives), and in Spanish and Italian, but not German, the respectful form causes verbs to be conjugated in the third person. In the case of Spanish, this is because the form usted evolved from the title vuestra merced (your grace) which naturally took the third person.

Catalan vós follows the same concordance rules as the French vous (verbs in 2nd person plural, adjectives in singular), and vostè follows the same concordance rules as the Spanish “usted” (verbs in 3rd person). Vostè originated from vostra mercè as a calque from Spanish, and replaced the original Catalan form vos. Now “vós” is used as a respect form for elder people and friend respectuos people, and “vosté” for foreign people and people that is not very known. “Vosté” is more distant than “vós”. Sometimes the people justify the use of “vosté” saying “I only speak of ‘tu’ with my friends”.

It can often be quite confusing for an English speaker learning a language with a T-V distinction to correctly assimilate the rules surrounding when to call someone with the formal or the informal pronoun. Close friends, of course, are tu and venerable old ladies are vous, but there is a wide grey area in the middle. Even that is not universally true: in some parts of Latin America (for example, in Colombia), tu is almost never used, not even with close friends or relatives, which are usted. Students are often advised to err on the side of caution, i.e. the formal; however, in the wrong situation this risks sounding snobby or at least riotously funny. English speakers may be helped by reminding themselves that the difference is comparable to using first name or last name when speaking to someone; however the boundaries between formal and informal language differ from language to language, and most languages use formal speech more frequently, and/or in different circumstances, than English. And in some circumstances it is not unusual to call other people by first name and the respectful form or the reverse, e.g. German shop employees often use these constructs if a customer is present.

In Greek, συ was originally the singular, and υμεις the plural, with no distinction for honorific or familiar. Paul addressed King Agrippa II as συ (Acts 26:2). Later, υμεις and ημεις (“we”) became too close in pronunciation, and a new plural εσεις was invented. The ε of εσυ is a euphonic prefix.

English formerly had a distinction between thou (informal) and you or ye (formal). Some groups such as the Quakers that advocate “plain speech” used the “thou” form with everybody, a custom some carry on to this day, although “thou”‘s passing out of most dialects of English, including the standard, has made it more symbolic than anything.

Even within languages they differ between groups (older people and people of higher status tending to both use and expect more formal language) and between various aspects of one language. For example, in Dutch, U is slowly coming into disuse in plural, and thus one could sometimes address a group as jullie when one would address each member individually as U. In Latin American Spanish, the opposite change has occurred – having lost vosotros, Latin Americans address all groups as ustedes, even if the group is composed of friends whom they would call .

French has verbs – tutoyer and vouvoyer – meaning to call someone tu or vous. (Spanish has the verb tutear, Catalan has the analogous verb tutejar). In German there are the verbs duzen and siezen.

In Germany, an old but by no means extinct custom involves two male friends formally splitting a bottle of wine to celebrate their deciding-always at the suggestion of the elder of the two-to call one another “du” rather than “Sie.”

In Denmark, the use of the formal forms of address has diminished significantly over the last twenty years. Although the “De” form is still used in certain contexts, it is much more common now for people to address virtually all people with the familiar “du”.

In Swedish there has been a marked difference between usage in Finland-Swedish compared to in Sweden. While the form “Ni” (noted as formal above) has remained the common respectful address in Finland-Swedish, it was until the 1960s considered somewhat careless, bullying or rude in Sweden, where addressing in 3rd person with repetition of name and title was considered proper and respectful. After that the usage swiftly changed in Sweden, and the 2nd person “du” (noted as informal above) came to dominate totally (although the King still used to be addressed in 3rd person), until recently when in the late 1990s a usage resembling that in German, Finnish or Finland-Swedish has become popular among the youngest adults.

In Ubykh, the T-V distinction is most notable between a man and his mother-in-law, where the plural form syæghwa supplants the singular wæghwa very frequently, possibly under the influence of Turkish. The distinction is upheld less frequently in other relationships, but does still occur.

A distinction quite similar to the T-V distinction appears in Japanese in the use of the “plain” and “polite” conjugations of verbs and adjectives. In general, the plain form is used when speaking to family, close friends, and social inferiors, and the polite form otherwise.

**

Apa demikian ya, kalau orang pinter-pinter dalam masa senggangnya mengerjakan yang iseng-iseng misalnya (maaf) ngedus-endus kekuranagn saudaranya termasuk yang sesungguhnya “tengu”?

Ronald Reagan dalam waktu senggangnya, terutama bila order main film lowong nyambi jadi presiden, lho? Ada yang bisa tiru?

Lalu Tuhan, menurut Holy Bibel, mencukur rambut!. (Termasuk bulu-bulu.) Hal seperti ini hanya bisa dikerjakan bila Tuhan sedang senggang. namun manfaat.meskipun dengan fasilitas pinjaman.

Wassalam,

Avert04

**

Dear Helmi Hidayat,

Saya sependapat dengan anda bahwa term “antum” secara pragmatis dapat
diterima, dan kita juga sama-sama mafhum bahwa istilah ini telah
digunakan secara luas, bukan saja di kalangan alumni Gontor semata,
bahkan oleh mereka yang bergabung dengan gerakan-gerakan Islam di
Indonesia macam LDK, PKS dan Hizbu al-Tahrir. Dari pengamatan saya,
kata tersebut seringkali digunakan untuk menghormati seseorang, dari
segi umur, kedudukan, pengetahuan, dan lain sebagainya dengan harapan
agar orang yang kita maksud tadi merasa dihargai dan dihormati. Saya
sendiri sangat setuju dengan ide tersebut, karena dalam banyak hal,
mampu mengekspresikan ketaatan etis dalam kehidupan sehari-hari.

Sebelumnya saya sangat berterimakasih kepada saudara Saifullah Kamalie
yang bersedia menyumbangkan pengetahuan kebahasaannya di forum ini.
Terus terang, saya baru saja mengerti bahwa fenomena “antum” adalah
bagian dari ekspresi T-V distinction. Dari yang saya pahami di situs
Wikipedia, ekspresi ini awalnya berasal dari masa Romawi kuno sekitar
abad keempat masehi. Pada waktu itu bertahta dua orang kaisar, yang
masing-masing memiliki kekuatan yang sama. Karena merasa bingung
dengan dualitas ini, dan tak ingin melebihkan satu dengan yang lain,
maka dibuatlah panggilan yang lebih adil dengan memanggil kedua kaisar
dengan kata ganti orang kedua plural, semacam antum. Tujuan utamanya
tak lain adalah kesantunan sosial. Hal yang sama juga terjadi pada
lembaga kepausan yang memegang kekuasaan agama.

Tentu saja, akan mudah sekali mengartikan fenomena T-V distinction ini
sebagai sebuah budaya sopan santun umat manusia sedunia, kalau saja
sejarah terbentuknya term tadi tidak diketahui sama sekali. Saya
sendiri pada awalnya, sering terkecoh dengan pengertian sopan santun,
baca: etiket, dengan etika. Etika, sebagaimana yang kita kenal
sekarang adalah kumpulan prinsip-prinsip moral, sebuah pengetahuan
mengenai baik dan buruk. Adapun etiket, berasal dari bahasa Prancis,
étiquette, yang memiliki akar kata tiket. Pass masuk, ataupun izin.
Kedua kata ini jelas merupakan dua prinsip yang berbeda. Etika lebih
berhubungan dengan prinsip-prinsip kebenaran, sedangkan etiket lebih
berhubungan dengan cara kita bersosialisasi. Bila kita lawankan kedua
model ini, akan kita dapati bahwa kebenaran pada akhirnya selalu
terkurung oleh realitas-realitas semu yang kita adakan.

Tidak bisa tidak, fenomena T-V distinction akan selalu muncul pada
masyarakat yang memiliki struktur sosial yang rumit. Pengandaian ‘kamu
plural’ pada sebuah subjek singular, menisbahkan sebuah ruang sosial
yang lebih tinggi, seperti panggilan serang babu kepada majikan.
Sebuah hirarki. Tatkala sang penutur mengucapkan kata antum, maka
sebenarnya ia tengah mengandaikan sebuah perbedaan antara dia dengan
lawan bicaranya. ‘Saya’ bukan ‘dia’, dan ‘dia’ bukan ‘saya’. Bisa juga
terdapat perbedaan jalan di sana, disparitas antara prinsip ‘aku’ dan
‘dia’, semacam kesepakatan bahwa kita hidup di dunia dengan
hukum-hukum yang saling terpisah. Hirarki, pangkat dan jabatan.

Barangkali, kita dapat melihat fenomena t-v distinction dengan jelas
dalam bahasa Jawa. Dalam bahasa ini, hirarki tergambar secara tegas,
dari cara-cara penggunaan bahasa halus dengan bahasa kasar. Hukum
kebahasaan yang saling berkaitan, semuanya selalu memberikan ruang
penggunaan bahasa kasar hanya pada dua individu yang sederajat atau
memiliki hubungan kebawah dengan yang lain. Sedangkan bahasa halus
digunakan dalam konteks hubungan keatas dan acara-acara resmi. Dengan
kata lain, fenomena t-v distinction berasosiasi secara linear dengan
jenis hubungan yang tersubordinat dan penuh dengan kekakuan etiket,
lawan dari jenis hubungan yang penuh keakraban dan bergerak langsung
kepada ide utama. Dalam t-v, kebenaran terkurung oleh realitas
struktur dan hirarki.

Sebenarnya, dua macam paradigma ini bersifat amoral, tidak ada
indikasi baik dan buruk. Tapi, sebagaimana karakter khas dari
kekuasaan yang cenderung korup, maka penggunaan t-v seringkali
dijadikan sebuah perpanjangan tangan dari kekuasaan itu sendiri, yang
tentunya memiliki dua sisi. Bisa sebagai penegasan kekuasaan orang
yang disebut dengan antum, macam panggilan kepada seorang ustdz, bisa
juga sebagai trik, atau pengalihan fokus, dengan memberikan kepuasan
psikologis kepada yang bersangkutan. Kedua hal tadi bukan hal yang
mutlak, tapi yang patut dicatat adalah, fenomena t-v jelas merupakan
sebuah fenomena kebudayaan feodal.

Sebenarnya, ada jenis kebudayaan yang tidak mengenal fenomena t-v. Ini
adalah kebudayaan manusia yang paling awal, kebudayaan egaliter. Dalam
kebudayaan ini, seluruh manusia dipandang sebagai entitas yang sama
dan sederajat. Dalam bahasa, kita mengenal istilah ‘bung’ yang
dipromosikan oleh Soekarno. Dalam pemahaman yang lebih luas,
kebudayaan egaliter termasuk kedalam jenis kebudayaan pesisir yang
merupakan lawan dari kebudayaan pedalaman yang feodal dan dipenuhi
kosakata v-t. Ciri khas yang menonjol dari kebudayaan pesisir adalah
kelangsungannya, dan kesederhanaannya. Etiket tidak lagi dipandang
sebagai basa-basi, tapi lebih kepada kualitas pernyataan yang
dibangun. Sebuah seni desain minimalis yang lebih mengutamakan
kualitas bahan dan struktur, bukan gaya.

Bagaimanapun juga, penghormatan kita kepada Tuhan jauh lebih besar
daripada penghormatan kita terhadap sesama. Tapi apakah penghormatan
tersebut memperkenankan kita untuk memanggil namaNya dengan sebutan
antum? Untuk sekedar memberiNya sebuah maqam yang terhormat, atau
menggambarkan betapa Dia Maha Agung? Toh, pada akhirnya Allah selalu
menyebut dirinya dengan anta, ilaika, rahmatika, dsb. Bahkan juga
panggilan kita kepada Nabi Muhammad SAW selalu menggunakan kata ganti
orang kedua singular. Semuanya tentu bukan tanpa alasan. Tuhan ingin
selalu dekat dengan hamba-hambanya tanpa rintangan psikologis sekecil
apapun. Selain itu,visi Islam tentang kesetaraan dan kesederajatan,
itulah yang ingin dicapai. Kesetaraan berarti tanggung jawab bagi
semua dan kesederajatan berarti kesamaan hak untuk mengutarakan sesuatu.

Wassalam

Himawan Pridityo

P.S.

Maaf saya tidak membalas pakai bahasa Inggris, selain syu’ur
kebahasaan saya sedikit terganggu hari ini, juga karena saya ingin
posting saya ini dapat dipahami oleh semua. Trims.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: